Sejarah Desa Kanor, Dari Nama Kuno Getasan Kenur di Bojonegoro Abad 11
Table of Contents
TogglePendahuluan
Kanor merupakan kawasan tua di wilayah timur Kabupaten Bojonegoro yang tumbuh di bantaran Bengawan Solo. Letaknya di jalur sungai besar menjadikan daerah ini sejak lama berkembang sebagai wilayah pertanian, perdagangan air, tambangan, dan permukiman masyarakat sungai. Dalam sejarah Jawa Timur, jalur air ini telah menghubungkan pedalaman dengan pesisir utara sejak masa Medang, Kediri, Singasari, hingga Majapahit. Denys Lombard menyebut sungai-sungai besar di Jawa sebagai urat nadi perdagangan dan perpindahan penduduk sebelum berkembangnya jalan darat modern.
Secara administratif, Kanor berada sekitar 25 kilometer di sebelah timur pusat Kota Bojonegoro dan termasuk salah satu kecamatan penting di wilayah timur kabupaten. Luas Kecamatan Kanor sekitar 59,78 kilometer persegi atau hampir 6.000 hektare yang terdiri dari dataran rendah pertanian, permukiman desa, serta kawasan bantaran sungai. Wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Tuban di sebelah utara, Kecamatan Baureno di sebelah timur, Kecamatan Sumberrejo di sebelah selatan, dan Kecamatan Balen di sebelah barat.
Kecamatan Kanor terdiri dari 25 desa, yaitu Sarangan, Tejo, Pesen, Samberan, Nglarangan, Sroyo, Bakung, Palembon, Simbatan, Cangaan, Kabalan, Piyak, Caruban, Sedeng, Bungur, Simorejo, Sumberwangi, Tambahrejo, Kanor, Prigi, Temu, Kedungprimpen, Gedongarum, Pilang, dan Semambung. Di antara desa-desa tersebut, Desa Kanor dikenal sebagai kawasan inti perdagangan dan permukiman masyarakat.
Desa Kanor sendiri memiliki luas sekitar 2,65 kilometer persegi atau sekitar 265 hektare yang sebagian besar berupa lahan sawah dan permukiman penduduk. Desa ini berada di bagian tengah kawasan kecamatan dan memiliki letak cukup strategis karena berada di jalur penghubung antardesa serta dekat dengan kawasan penyeberangan sungai menuju wilayah Tuban.
Walaupun nama kecamatan memakai nama Kanor, pusat pemerintahan kecamatan sebenarnya berada di Desa Tambahrejo. Di wilayah tersebut berdiri kantor kecamatan, puskesmas, polsek, dan koramil. Namun dalam kehidupan sehari-hari, Desa Kanor tetap dikenal luas sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, dan hubungan sosial masyarakat kawasan timur Bojonegoro.
Dalam tradisi masyarakat setempat, Kanor sering dikaitkan dengan nama lama “Getasan Kenur”. Nama tersebut dipercaya sebagai bentuk lama kawasan sebelum berubah menjadi nama yang dikenal sekarang. Namun dalam penulisan sejarah modern, cerita seperti ini harus diperlakukan hati-hati dengan membedakan antara prasasti, cerita rakyat, ingatan masyarakat, dan penafsiran sejarah.
Sartono Kartodirdjo menegaskan bahwa sejarah daerah harus dibangun melalui pemeriksaan sumber agar tidak berubah menjadi legenda tanpa dasar bukti yang kuat. Pendekatan seperti ini penting agar sejarah Kanor tetap berdiri di atas kajian yang kritis dan tidak terjebak pada cerita berlebihan.
Desa Kuno Getasan Kenur
Getasan Kenur kemungkinan merupakan nama wilayah yang lahir dari keadaan alam tepian sungai. Kata getas dalam bahasa Jawa berarti rapuh atau mudah longsor. Nama ini sesuai dengan keadaan tanah Kanor yang berupa endapan lumpur dan mudah tergerus arus air. Tanah seperti ini subur untuk pertanian, tetapi juga rawan abrasi dan perubahan aliran sungai.
Aliran air di kawasan Kanor memperlihatkan bentuk sungai berkelok yang terus berubah akibat gerusan arus selama ratusan tahun. Di beberapa tempat bahkan terbentuk bekas aliran lama atau sungai mati akibat perpindahan jalur air. Keadaan inilah yang kemungkinan melahirkan istilah “Getasan” sebagai gambaran tanah bantaran yang rapuh dan mudah berubah.
Sementara itu, kata “Kenur” diduga berhubungan dengan kehidupan masyarakat sungai. Dalam masyarakat Jawa pedesaan, kenur dikenal sebagai tali kuat, benang pancing, atau pengikat jaring ikan. Walaupun belum ditemukan dalam prasasti Jawa Kuno, istilah tersebut sangat sesuai dengan kehidupan masyarakat bantaran sungai yang sejak lama hidup dari menangkap ikan, berdagang melalui jalur air, dan membuka tambangan.
Karena itu, Getasan Kenur kemungkinan bukan nama kerajaan besar, melainkan nama permukiman masyarakat sungai yang hidup di kawasan tanah getas. Pola nama seperti ini umum ditemukan pada desa-desa tua Jawa yang biasanya lahir dari keadaan alam, tumbuhan, sungai, atau pekerjaan masyarakat setempat.
Dalam kajian sejarah, kapan tepatnya Getasan Kenur mulai muncul memang belum dapat dipastikan karena belum ditemukan prasasti yang secara langsung menyebut tanggal berdirinya kawasan tersebut. Akan tetapi, berdasarkan pola nama wilayah Jawa kuno, keadaan alam, dan posisi Kanor di jalur perdagangan air, kawasan ini kemungkinan telah berkembang sejak masa sebelum Majapahit, terutama pada masa Kediri hingga awal Singasari sekitar abad ke-11 sampai ke-13 Masehi.
Nama-nama seperti Getasan, Kenur, dan Gempol lebih mencerminkan keadaan alam dan kehidupan masyarakat sungai daripada penamaan bangsawan kerajaan yang biasanya memakai bahasa Sanskerta. Sementara itu, nama seperti Kabalan dan Dampak menunjukkan bahwa sebagian kawasan timur Bojonegoro kemungkinan telah masuk ke dalam tata wilayah Majapahit akhir karena muncul dalam Prasasti Pamintihan.
Sampai sekarang belum ditemukan prasasti Majapahit atau Singasari yang secara langsung menyebut Getasan Kenur sebagai kadipaten resmi kerajaan. Karena itu, pendekatan paling aman adalah menempatkan Getasan Kenur sebagai ingatan budaya masyarakat bantaran sungai, bukan sebagai wilayah pemerintahan besar yang telah terbukti secara prasasti.
Hubungan dengan Wilayah Kabalan dan Brawardhana
Hubungan sejarah Kanor dengan Kabalan dan Brawardhana mulai terlihat melalui Prasasti Pamintihan dari masa akhir Majapahit yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhawa sekitar tahun 1473 Masehi. Dalam alih aksara prasasti disebutkan adanya penetapan:
“sima ri Pamintihan”
yang berarti wilayah Pamintihan dijadikan tanah perdikan atau daerah khusus yang memperoleh hak tertentu dari kerajaan.
Dalam tata pemerintahan Jawa Kuno, tanah sima biasanya diberikan kepada tokoh berjasa, tempat suci, atau wilayah penting kerajaan. Kajian tentang sima banyak dibahas dalam kumpulan prasasti Jawa Kuno seperti Oud-Javaansche Oorkonden karya J.L.A. Brandes, tulisan Bosch, dan kajian Theodore G. Th. Pigeaud mengenai Majapahit.
Prasasti Pamintihan menyebut sejumlah wilayah seperti Kabalan, Dampak, Gempol, Madewih, Pelangpuncu, Babanger, dan Gigidah. Munculnya nama Kabalan menunjukkan bahwa kawasan timur Bojonegoro pada akhir Majapahit telah memiliki tata wilayah desa yang cukup teratur. Agus Aris Munandar menjelaskan bahwa daerah pedalaman sungai pada masa Majapahit memiliki peranan penting sebagai jalur pengangkutan hasil pertanian dan bahan pangan kerajaan.
Bagian lain yang menarik adalah munculnya nama yang dalam beberapa pembacaan dihubungkan dengan “Brawardhana” atau “Brawadhana”. Dari sinilah muncul dugaan hubungan antara Brawardhana, Bahuwerno, hingga Baureno modern. Dalam perkembangan bahasa Jawa, perubahan bunyi seperti Brawardhana menjadi Brawarna, lalu Bawerno hingga akhirnya Baureno memang mungkin terjadi selama ratusan tahun. Namun hubungan tersebut masih berupa dugaan ilmu bahasa karena belum ditemukan prasasti yang secara langsung menyebut Baureno berasal dari Brawardhana.
Slamet Muljana mengingatkan bahwa hubungan nama wilayah kuno tidak cukup dibuktikan melalui kemiripan bunyi saja, tetapi harus diperkuat oleh prasasti, naskah lama, dan kesinambungan sejarah kawasan. Karena itu, hubungan Brawardhana dengan Baureno masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Selain kajian prasasti, sejarah kawasan timur Bojonegoro juga memerlukan penelitian lapangan yang lebih mendalam. Sampai sekarang belum banyak penelitian resmi mengenai letak situs kuno, bata bangunan lama, temuan keramik, bekas permukiman tua, maupun peninggalan lain di kawasan Kanor dan sekitarnya. Padahal penelitian semacam itu penting untuk memperkuat hubungan antara cerita masyarakat, nama wilayah lama, dan sejarah kawasan sungai di Jawa Timur bagian utara.
Kanor dalam Catatan Belanda
Pada masa Hindia Belanda, Kanor berkembang sebagai daerah pertanian dan perdagangan hasil bumi yang memanfaatkan jalur sungai sebagai sarana angkutan utama. Arsip kolonial menunjukkan bahwa kawasan timur Bojonegoro merupakan daerah pertanian subur yang sangat dipengaruhi endapan lumpur dan perubahan musim.
Dalam laporan Residentie Soerabaja abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kawasan Kanor dikenal menghasilkan padi, jagung, kacang, tebu, serta hasil kebun rakyat. Kesuburan tersebut berasal dari endapan lumpur yang setiap tahun meluap ke sawah penduduk. Namun banjir juga sering merusak permukiman dan lahan pertanian masyarakat.
Belanda mencatat bahwa hubungan ekonomi Kanor sangat bergantung pada jalur air menuju Tuban dan Surabaya. Sebelum adanya jembatan modern, hubungan antara Kanor dan Rengel dilakukan melalui perahu tambangan yang dipakai untuk penyeberangan manusia, ternak, hasil panen, dan barang dagangan.
Dalam beberapa laporan kolonial, jalur air terbesar di Jawa Timur disebut sebagai sarana penting perdagangan desa. Perahu masyarakat dipakai mengangkut hasil panen, bambu, kayu, dan barang dagangan menuju wilayah hilir. Keadaan ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Kanor pada masa Belanda masih sangat berpusat pada budaya sungai.
Pemerintah Belanda juga melakukan pengamatan terhadap banjir karena luapan air sering mengganggu perdagangan dan merusak sawah. Dalam laporan teknik pengairan kolonial, kawasan Bojonegoro bagian timur dikenal sebagai daerah yang sering mengalami perubahan aliran akibat pengikisan tebing dan endapan lumpur. Keadaan ini sesuai dengan ingatan masyarakat lama mengenai tanah “getas” di kawasan Getasan Kenur.
Selain bertani, masyarakat Kanor pada masa kolonial hidup dari menangkap ikan, membuat perahu kecil, berdagang di pasar desa, dan membuka jasa tambangan. Kehidupan masyarakat bantaran sungai memperlihatkan perpaduan kuat antara pertanian sawah dan budaya air. Sungai menjadi sumber kehidupan, jalur perdagangan, tempat mencari ikan, sekaligus pusat hubungan sosial masyarakat desa.
Dalam catatan Belanda, Bojonegoro juga dikenal sebagai daerah yang sering mengalami kesulitan ekonomi akibat banjir, kekeringan, dan gagal panen. Namun masyarakat bantaran sungai memiliki kemampuan bertahan yang tinggi karena terbiasa hidup mengikuti perubahan musim dan keadaan alam.
Pada awal abad ke-20, pemerintah Belanda mulai memperbaiki jalan darat sehingga ketergantungan terhadap jalur air perlahan berkurang. Walaupun demikian, hingga akhir masa Hindia Belanda, tambangan di kawasan Kanor masih tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Kanor Saat Ini
Saat ini Kanor berkembang menjadi salah satu kecamatan penting di wilayah timur Bojonegoro dengan kehidupan utama berupa pertanian dataran rendah yang dipengaruhi aliran sungai besar di Jawa Timur. Walaupun jalan darat dan kendaraan modern semakin berkembang, kehidupan masyarakat setempat masih memperlihatkan hubungan kuat dengan budaya air dan pertanian bantaran.
Pembangunan Jembatan Kanor–Rengel memperkuat hubungan antara masyarakat Bojonegoro dan Tuban di kedua sisi sungai. Dalam penyebutan sehari-hari, masyarakat sering menyebutnya sebagai “Jembatan Kare”, yaitu gabungan nama Kanor dan Rengel. Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat modern masih membentuk jati diri wilayah berdasarkan hubungan sungai dan keadaan sekitar, sebagaimana masyarakat lama membentuk nama seperti Getasan Kenur.
Walaupun penggunaan perahu tambangan mulai berkurang akibat berkembangnya jalan dan jembatan, Kanor tetap dikenal sebagai kawasan masyarakat sungai. Dalam kajian sejarah lingkungan, kawasan ini menjadi contoh bagaimana masyarakat Jawa mampu mempertahankan kehidupan bantaran sungai melewati masa kerajaan, penjajahan Belanda, hingga zaman modern.
mkhr

















2 thoughts on “Sejarah Desa Kanor, Dari Nama Kuno Getasan Kenur di Bojonegoro Abad 11”