Lamajang Tigang Juru Abad 13, Jejak Kuat Islamisasi Awal di Jawa Timur

LAMAJANG atau Lumajang merupakan salah satu kawasan penting dalam sejarah Jawa Timur yang selama berabad-abad cenderung berada di pinggiran narasi besar islamisasi Jawa. Historiografi tradisional Indonesia umumnya menempatkan Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama dan pusat utama perkembangan Islam politik di Pulau Jawa. Namun, perkembangan penelitian sejarah, arkeologi, filologi, dan studi perdagangan maritim menunjukkan bahwa proses islamisasi Jawa berlangsung jauh lebih kompleks serta melibatkan berbagai pusat kekuasaan lokal yang telah berinteraksi dengan dunia Islam sejak berabad-abad sebelumnya.
Dalam konteks tersebut, Lamajang Tigang Juru muncul sebagai salah satu wilayah yang layak mendapat perhatian khusus. Penelaahan terhadap sumber primer Jawa Kuno, data arkeologis Situs Biting, tradisi genealogis aristokrasi Jawa Timur, perkembangan pelabuhan internasional Tuban, serta jaringan dakwah Islam di Jawa menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki posisi strategis dalam masa transisi antara peradaban Hindu-Buddha Majapahit dan berkembangnya pengaruh Islam di Nusantara.
Meski demikian, secara metodologis perlu ditegaskan bahwa kontak dengan jaringan Islam tidak otomatis berarti islamisasi aristokrasi, dan islamisasi aristokrasi tidak otomatis berarti terbentuknya negara Islam. Oleh karena itu, kajian mengenai Lamajang Tigang Juru harus ditempatkan dalam kerangka historiografi kritis yang membedakan secara tegas antara fakta sejarah yang dapat diverifikasi, indikasi historis, dan hipotesis penelitian.
Table of Contents
ToggleLamajang Tigang Juru dalam Struktur Politik Majapahit Timur
Secara historis, Lamajang Tigang Juru mencakup wilayah Lamajang sebagai pusat pemerintahan utama, bersama Keta (Ketah) dan Sadeng sebagai kawasan strategis yang membentuk satu kesatuan politik penting di bagian timur Pulau Jawa. Kawasan ini memiliki posisi yang sangat vital dalam perkembangan politik akhir Singhasari dan awal Majapahit.
Keberadaan Lamajang sebagai pusat kekuasaan besar tercermin dalam Pararaton, salah satu sumber utama mengenai periode transisi Singhasari-Majapahit. Dalam edisi J.L.A. Brandes disebutkan:
“Sang Arya Wiraraja winuwus ring Lamajang.”
— Pararaton, ed. J.L.A. Brandes, 1897
Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa Arya Wiraraja memiliki hubungan politik yang sangat erat dengan Lamajang dan diakui sebagai penguasa penting kawasan tersebut. Dalam kajiannya, Slamet Muljana bahkan menempatkan Arya Wiraraja sebagai tokoh kunci yang memungkinkan berdirinya Majapahit pada tahun 1293.
“Tanpa bantuan Arya Wiraraja, Raden Wijaya tidak mungkin berhasil mendirikan Majapahit.”
— Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan Majapahit, 1965
Namun demikian, Pararaton sendiri disusun beberapa abad setelah peristiwa yang diceritakan. Oleh sebab itu, naskah tersebut harus dibaca secara kritis. Sejarawan seperti C.C. Berg dan Slamet Muljana mengingatkan bahwa Pararaton memuat unsur sejarah sekaligus konstruksi legitimasi politik dinasti, sehingga memerlukan verifikasi silang dengan sumber lain.
Situs Biting dan Bukti Material Lamajang
Keberadaan Lamajang sebagai pusat kekuasaan regional diperkuat oleh temuan arkeologis Situs Biting di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang. Situs ini merupakan kompleks benteng bata monumental yang mencakup area sekitar 135 hektar dengan sistem pertahanan yang membentang hingga kurang lebih 10 kilometer.
Arkeolog M. Dwi Cahyono menyebut kawasan tersebut sebagai:
“Salah satu kompleks pertahanan urban terbesar di Jawa Timur pasca-Singhasari.”
— M. Dwi Cahyono, penelitian arkeologi Jawa Timur
Skala benteng tersebut menunjukkan kemampuan administratif, militer, dan ekonomi yang tinggi. Temuan ini memperkuat posisi Lamajang sebagai salah satu pusat kekuasaan utama di Jawa Timur pada abad ke-13 hingga abad ke-14.
Meski demikian, hingga kini belum ditemukan artefak keislaman yang secara langsung menghubungkan Situs Biting dengan aktivitas Islam abad ke-13. Karena itu, situs ini tidak dapat dijadikan bukti langsung keberadaan pemerintahan Islam di Lamajang. Namun, skala dan fungsi situs menunjukkan kapasitas politik yang memungkinkan terjadinya interaksi dengan jaringan perdagangan dan dakwah yang berkembang di pesisir Jawa.
Jejak Awal Islam di Jawa Timur Sebelum Demak
Sebelum membahas kemungkinan islamisasi Lamajang, penting untuk memahami bahwa keberadaan Islam di Jawa Timur telah tercatat jauh sebelum berdirinya Demak.
Salah satu bukti tertua adalah batu nisan Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, yang bertarikh 475 Hijriah atau 1082 Masehi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa komunitas muslim telah hadir di pesisir Jawa Timur sejak abad ke-11.
Selain itu, kompleks makam Troloyo di kawasan bekas ibu kota Majapahit menunjukkan keberadaan komunitas muslim yang hidup berdampingan dengan lingkungan Hindu-Buddha hingga abad ke-15. Data arkeologis tersebut memperlihatkan bahwa islamisasi Jawa Timur merupakan proses bertahap yang berlangsung selama beberapa abad dan tidak dapat dipahami hanya melalui kemunculan Demak.
Dalam konteks yang lebih luas, sejarawan Inggris M. C. Ricklefs menegaskan bahwa islamisasi Jawa berlangsung secara gradual melalui berbagai pusat lokal dan jaringan perdagangan yang saling terhubung, bukan melalui satu pusat penyebaran tunggal.
Lamajang, Tuban, dan Jaringan Perdagangan Islam
Posisi Lamajang menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan Tuban, salah satu pelabuhan terbesar di Nusantara pada masa Majapahit. Hubungan antara Arya Wiraraja, Arya Ranggalawe, dan Tuban menunjukkan adanya keterkaitan erat antara aristokrasi pedalaman dan dunia perdagangan maritim.
Gambaran mengenai pentingnya Tuban diberikan oleh Tomé Pires dalam Suma Oriental:
“Tuban is a great city, a great seaport, rich and prosperous.”
— Tomé Pires, Suma Oriental, sekitar 1512–1515
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pesisir utara Jawa telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional yang menghubungkan Nusantara dengan Gujarat, Persia, Arab, Tiongkok, dan Asia Tenggara. Menurut Anthony Reid, perdagangan maritim merupakan salah satu kendaraan utama penyebaran Islam di Asia Tenggara. Oleh karena itu, hubungan Lamajang dengan Tuban membuka kemungkinan terjadinya kontak intensif antara aristokrasi Jawa Timur dan komunitas muslim jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam besar.
Tradisi Syekh Abdurrahman As-Syaibani
Salah satu unsur penting dalam tradisi lokal Lumajang adalah kisah mengenai Syekh Abdurrahman As-Syaibani. Dalam Atlas Wali Songo (2016), KH Agus Sunyoto menulis:
“Lamajang Tigang Juru merupakan pusat kekuasaan Islam paling awal di Jawa Timur sebelum kemunculan Demak.”
— Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, 2016
Menurut tradisi lokal yang kemudian dihimpun Agus Sunyoto, Syekh Abdurrahman As-Syaibani diyakini berasal dari Baghdad dan berperan dalam dakwah awal di kawasan Lamajang. Akan tetapi, hingga saat ini belum ditemukan sumber primer sezaman yang dapat memverifikasi informasi tersebut secara langsung.
Karena itu, dalam kerangka historiografi modern, figur Syekh Abdurrahman As-Syaibani lebih tepat diposisikan sebagai tradisi historiografis lokal yang memiliki nilai penting sebagai memori kolektif masyarakat, namun masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui penelitian filologis, arkeologis, dan epigrafis.
Kronologi Historis yang Relevan
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1082 M | Batu nisan Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik |
| 1292 | Keruntuhan Kerajaan Singhasari |
| 1293 | Berdirinya Majapahit dengan dukungan Arya Wiraraja |
| 1295 | Ranggalawe menjadi Adipati Tuban |
| 1295–1298 | Konflik Ranggalawe dengan Majapahit |
| 1316 | Pemberontakan Nambi |
| Abad XIV | Lamajang berkembang sebagai pusat Majapahit Timur |
| Abad XV | Komunitas muslim berkembang di Troloyo |
| 1512–1515 | Tomé Pires mencatat Tuban sebagai pelabuhan besar |
| Awal Abad XVI | Demak menjadi kekuatan politik Islam dominan di Jawa |
Lamajang Tigang Juru dalam Perspektif Historiografi Modern
Berdasarkan seluruh data yang tersedia saat ini, Lamajang Tigang Juru belum dapat diidentifikasi sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Tidak ditemukan prasasti Islam, dokumen sezaman, batu nisan aristokratik yang terverifikasi, maupun bukti epigrafis lain yang secara eksplisit menunjukkan bahwa Arya Wiraraja atau pemerintahan Lamajang telah memeluk Islam.
Akan tetapi, kombinasi data politik, arkeologis, maritim, dan tradisi historis menunjukkan bahwa Lamajang merupakan salah satu kandidat penting pusat awal islamisasi aristokrasi Jawa Timur. Posisi strategisnya dalam jaringan kekuasaan Majapahit Timur, kedekatannya dengan jalur perdagangan internasional, hubungan politik dengan Tuban, serta keberadaan tradisi dakwah Islam lokal menjadikan wilayah ini layak dipertimbangkan dalam penelitian mengenai fase awal transformasi Islam di Jawa.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat Denys Lombard yang menegaskan:
“Islamisasi Jawa bukan peristiwa tunggal, melainkan proses panjang yang melibatkan berbagai pusat kekuasaan lokal.”
— Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, 1990
Dengan demikian, pembacaan ulang terhadap Lamajang Tigang Juru tidak bertujuan menggantikan narasi Demak, melainkan memperluas cakrawala historiografi Islam Jawa agar lebih sesuai dengan kompleksitas bukti sejarah yang tersedia. Dalam perspektif historiografi modern, Lamajang layak dipertimbangkan sebagai salah satu simpul strategis dalam fase awal transformasi politik, sosial, dan keagamaan yang kemudian melahirkan peradaban Islam di Pulau Jawa.
Mat Kohar, S.Kom
Pemerhati Sejarah Bojonegoro















3 thoughts on “Lamajang Tigang Juru Abad 13, Jejak Kuat Islamisasi Awal di Jawa Timur”