“Sate Ayam 50 Tusuk”, Perintah Pertama Sukarno Setelah Dilantik Jadi Kepala Negara

SATE AYAM 50 TUSUK – Kisah legendaris “Sate ayam lima puluh tusuk!” yang diucapkan Presiden Soekarno setelah pelantikannya pada 18 Agustus 1945 merupakan salah satu fragmen paling populer dalam memori revolusi Indonesia. Cerita tersebut tidak hanya hidup sebagai anekdot kuliner, melainkan telah berkembang menjadi simbol kesederhanaan republik yang baru lahir. Dalam perkembangan historiografi Indonesia modern, kisah ini berada di persimpangan antara autobiografi politik, memori revolusioner, dan konstruksi simbol nasionalisme rakyat.
Sumber utama kisah tersebut berasal dari autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams yang ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan Soekarno pada dekade 1960-an. Jarak waktu hampir dua dekade antara peristiwa 1945 dan proses wawancara tersebut menjadi aspek penting dalam kajian historiografi modern, sebab memori autobiografis sering mengalami rekonstruksi dramatik seiring perubahan konteks politik dan pembentukan citra diri tokoh.
Dalam tradisi sejarah politik, autobiografi pemimpin negara bukan hanya berfungsi sebagai catatan pengalaman pribadi, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan narasi nasional dan legitimasi simbolik. Dalam narasi itu, Soekarno mengenang hari-hari pertama kemerdekaan Indonesia sebagai masa penuh kelelahan, ketegangan, dan keterbatasan. Setelah sidang pengangkatannya sebagai Presiden Republik Indonesia selesai, ia berjalan kaki dalam keadaan lapar dan kemudian memesan sate ayam dari pedagang kaki lima.
Table of Contents
ToggleRevolusi 17–18 Agustus 1945 dan Situasi Jakarta Pasca Proklamasi
Kisah ini baru dapat dipahami secara utuh apabila ditempatkan dalam konteks kronologi revolusi antara 17 hingga 18 Agustus 1945. Pada pagi hari 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Saat itu keadaan politik sangat genting. Jepang memang telah menyerah kepada Sekutu setelah bom atom Hiroshima dan Nagasaki, tetapi secara administratif tentara Jepang masih memegang kekuasaan di Hindia Belanda. Republik Indonesia belum memiliki struktur negara yang mapan, belum mempunyai angkatan bersenjata resmi, dan belum diakui dunia internasional.
Situasi Jakarta pada hari-hari tersebut juga jauh dari suasana perayaan negara modern. Kota masih memperlihatkan wajah perang dan kemiskinan akibat pendudukan Jepang. Infrastruktur rusak, kendaraan sangat terbatas, listrik sering tidak stabil, dan ruang-ruang kota dipenuhi aktivitas rakyat kecil seperti pedagang kaki lima, penarik becak, hingga pasar darurat.
Kawasan Pejambon dan sekitarnya sendiri merupakan wilayah administratif kolonial yang bercampur dengan permukiman rakyat biasa, sehingga keberadaan pedagang sate di sekitar jalur perjalanan Soekarno merupakan hal yang sangat mungkin secara sosial-historis. Kota masih berada dalam tekanan ekonomi berat akibat pendudukan Jepang 1942–1945. Kelangkaan pangan, inflasi, kemiskinan, serta ketidakpastian keamanan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam suasana seperti itulah para pemimpin republik harus bergerak cepat membentuk pemerintahan.
Pada 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan sidang penting di Gedung Pejambon Jakarta, yang sekarang dikenal sebagai Gedung Pancasila. Dalam sidang inilah Undang-Undang Dasar 1945 disahkan dan Soekarno-Hatta dipilih secara aklamasi sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Secara formal, inilah hari lahir pemerintahan Republik Indonesia.
Namun negara yang baru lahir itu masih sangat sederhana. Republik Indonesia bahkan belum memiliki sistem birokrasi kepresidenan yang mapan. Tidak ada pasukan pengamanan presiden permanen, kendaraan resmi kepresidenan, ataupun protokol kenegaraan modern. Dalam konteks revolusi awal inilah Soekarno masih dapat bergerak relatif bebas di tengah masyarakat tanpa pengamanan ketat sebagaimana kepala negara pada masa berikutnya. Republik belum memiliki sistem protokol kepresidenan, pengamanan presiden, kendaraan dinas tetap, maupun fasilitas kenegaraan sebagaimana dikenal sekarang. Karena itu, kisah Soekarno berjalan kaki selepas sidang bukan sesuatu yang mustahil dalam konteks revolusi awal.
Kronologi “Sate Ayam Lima Puluh Tusuk!”
Dalam autobiografinya, Soekarno mengisahkan bahwa setelah sidang selesai ia berada dalam kondisi sangat lapar dan lelah. Hal tersebut sesuai dengan kondisi kesehatannya yang memang sering terganggu malaria tertiana sejak masa pergerakan nasional. Selain itu, selama dua hari sebelumnya ia hampir tidak memiliki waktu istirahat karena sibuk menghadapi tekanan politik, perdebatan mengenai proklamasi, hingga pembentukan pemerintahan baru.
Di tengah perjalanan pulang, Soekarno melihat seorang pedagang sate kaki lima. Ia menggambarkan penjual tersebut sebagai rakyat kecil biasa yang bertelanjang dada dan tidak memakai alas kaki. Gambaran ini sangat sesuai dengan kondisi sosial Jakarta pasca-pendudukan Jepang, ketika kemiskinan menjadi pemandangan umum di ruang kota.
Dalam suasana itulah Soekarno mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal:
“Sate ayam lima puluh tusuk!”
Menurut penuturan Soekarno sendiri, sate tersebut disantap sambil jongkok di dekat got dan tempat sampah. Ia kemudian mengenang:
“Aku jongkok di sana dekat got dan tempat sampah dan menyantap sate dengan lahap. Dan itulah seluruh pesta perayaan terhadap pengangkatanku sebagai Kepala Negara.”
Kutipan tersebut memiliki kekuatan simbolik yang sangat besar dalam sejarah politik Indonesia. Republik Indonesia digambarkan lahir bukan dari kemewahan istana kolonial, melainkan dari suasana revolusi rakyat biasa. Presiden pertama Indonesia bahkan merayakan pelantikannya dengan makan sate di pinggir jalan.
Kritik Historiografi dan Perdebatan Sumber
Secara historiografis, kisah ini menarik karena berada di antara fakta sejarah dan konstruksi simbol politik. Hingga kini tidak ditemukan arsip resmi negara yang mencatat detail peristiwa tersebut secara administratif. Catatan sidang PPKI tidak menyebut kejadian makan sate itu, demikian pula memoar tokoh sezaman seperti Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, maupun Sutan Sjahrir tidak memberikan konfirmasi independen mengenai angka “50 tusuk sate”. Karena itu, sumber utama tetap bertumpu pada autobiografi Soekarno sendiri.
Dalam metodologi sejarah modern, kondisi seperti ini menempatkan kisah sate pada kategori memori autobiografis revolusioner. Berbeda dengan arsip resmi yang lahir dari administrasi negara, autobiografi politik sangat dipengaruhi sudut pandang personal penulis atau narator. Sementara itu, oral history revolusi sering kali mengandung unsur simbolik yang diperkuat oleh ingatan kolektif masyarakat. Oleh sebab itu, para sejarawan cenderung memandang kisah “Sate ayam lima puluh tusuk!” bukan semata sebagai laporan faktual literal, melainkan juga sebagai representasi simbolik mengenai kesederhanaan republik pada masa kelahirannya.
Hingga kini tidak ditemukan arsip resmi negara, catatan sidang PPKI, ataupun memoar tokoh sezaman yang secara independen mengonfirmasi detail “50 tusuk sate” tersebut. Tidak ada catatan Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, maupun Sutan Sjahrir yang menyebut kejadian itu secara spesifik.
Karena itu, para sejarawan modern umumnya mengkategorikan kisah tersebut sebagai memori autobiografis revolusioner. Artinya, inti peristiwanya mungkin benar terjadi, tetapi detail dramatiknya kemungkinan mengalami penguatan simbolik melalui ingatan personal Soekarno sendiri. Hal ini lazim ditemukan dalam autobiografi tokoh politik besar, terutama ketika memori pribadi telah berubah menjadi bagian dari narasi nasional.
Jumlah “50 tusuk” sendiri juga sering diperdebatkan. Sebagian peneliti budaya populer memandang angka tersebut sebagai bentuk hiperbola retoris khas Soekarno untuk menggambarkan rasa lapar dan euforia emosional setelah revolusi berhasil diproklamasikan. Dalam budaya tutur Indonesia, penggunaan angka besar sering dipakai untuk memperkuat kesan dramatik, bukan selalu untuk hitungan literal.
Sate sebagai Simbol Nasionalisme dan Kuliner Republik
Terlepas dari perdebatan literal tersebut, kisah sate Soekarno memiliki makna sosial dan budaya yang sangat kuat. Pada awal abad ke-20, sate merupakan makanan yang sangat identik dengan ruang sosial rakyat kecil: pasar malam, terminal, jalanan kota, kawasan pelabuhan, dan pedagang keliling. Berbeda dengan rijsttafel ala kolonial Belanda yang identik dengan elite Eropa dan kaum priyayi tinggi, sate justru berkembang sebagai kuliner populer masyarakat bawah.
Pilihan Soekarno terhadap sate karena itu memiliki dimensi simbolik yang penting dalam konstruksi nasionalisme Indonesia. Ia memilih makanan rakyat biasa, bukan hidangan aristokratik kolonial. Hal ini sejalan dengan gaya politik Soekarno yang sejak masa pergerakan nasional selalu berusaha membangun citra sebagai pemimpin rakyat. Dalam berbagai pidatonya, Soekarno menggunakan bahasa populis, menampilkan diri dekat dengan massa marhaen, dan sering memakai simbol-simbol keseharian rakyat kecil untuk memperkuat legitimasi revolusioner.
Dalam konteks tersebut, kisah “Sate ayam lima puluh tusuk!” tidak dapat dipisahkan dari konstruksi politik populis Soekarno sendiri. Cerita itu memperlihatkan presiden republik bukan sebagai aristokrat istana, melainkan sebagai figur revolusioner yang masih makan di pinggir jalan bersama denyut kehidupan rakyat biasa. Sate pada pertengahan abad ke-20 telah menjadi makanan rakyat lintas kelas sosial di Indonesia. Hidangan ini berkembang di Jawa sejak abad ke-19 melalui proses akulturasi dengan tradisi kebab Timur Tengah dan India Muslim, lalu mengalami lokalisasi menjadi kuliner khas Nusantara dengan penggunaan tusuk bambu, potongan daging kecil, serta bumbu kacang dan kecap.
Dalam perkembangannya, sate tidak lagi sekadar makanan Jawa. Asal-usul sate sendiri hingga kini masih menjadi perdebatan akademis. Sebagian peneliti melihat sate sebagai hasil adaptasi lokal terhadap tradisi kebab Timur Tengah dan India Muslim yang dibawa pedagang Arab serta Gujarat pada abad ke-19. Sebagian lain menyoroti kemungkinan pengaruh kuliner Tionghoa melalui teknik pemotongan dan penusukan daging. Namun sejumlah sejarawan kuliner menegaskan bahwa proses lokalisasi Nusantara sangat dominan, terutama dalam penggunaan saus kacang, kecap manis, serta ukuran potongan daging kecil yang khas Indonesia.
Karena itu, sate modern lebih tepat dipahami sebagai hasil akulturasi panjang antara teknik memasak asing dan kreativitas kuliner lokal Jawa serta Nusantara. Ia berubah menjadi simbol kuliner nasional Indonesia. Berbagai daerah menciptakan identitasnya sendiri melalui variasi sate seperti Sate Madura, Sate Padang, Sate Maranggi, Sate Klathak, hingga Sate Kere. Bahkan pada masa kolonial akhir, sate telah menyebar ke Malaysia, Singapura, dan Belanda melalui jalur migrasi pekerja serta diaspora Indo.
Karena itu, pilihan Soekarno terhadap sate sebagai makanan perayaan juga memiliki dimensi simbolik yang penting. Ia memilih makanan rakyat yang mudah ditemukan di jalanan, bukan hidangan elite kolonial. Dalam narasi nasionalisme Indonesia, adegan tersebut kemudian dibaca sebagai lambang kedekatan pemimpin revolusi dengan rakyat kecil.
Kisah “Sate ayam lima puluh tusuk!” akhirnya bertahan bukan semata-mata karena nilai faktualnya, melainkan karena kekuatan simboliknya dalam memori kolektif bangsa Indonesia. Cerita itu merangkum suasana revolusi yang miskin fasilitas tetapi penuh semangat, negara yang belum memiliki kemewahan tetapi memiliki keberanian untuk lahir, serta seorang presiden yang masih sangat dekat dengan denyut kehidupan rakyat biasa.
mkhr


















Banyak sekali warung sate di Bojonegoro