Sejarah Kekalahan Sunda Kelapa Portugis 1527 M

SUNDA KELAPA-Pada akhir abad XV, tepatnya sekitar tahun 1482, Sri Baduga Maharaja naik takhta sebagai penguasa besar Kerajaan Pajajaran dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran. Masa pemerintahannya berlangsung hingga sekitar tahun 1521 dan sering dianggap sebagai periode kejayaan terakhir Pajajaran. Pada masa ini, kerajaan Sunda menguasai jalur perdagangan lada di Jawa Barat yang sangat penting dalam jaringan perdagangan Samudra Hindia. Pelabuhan-pelabuhan seperti Banten, Pontang, dan terutama Sunda Kelapa menjadi pusat ekspor lada dari pedalaman Sunda menuju Malaka, Gujarat, Arab, Persia, Tiongkok, hingga Laut Tengah. Sejak akhir abad XV, pelabuhan Sunda Kelapa telah ramai dikunjungi kapal-kapal asing dari Asia Barat dan Asia Selatan.
Pada tahun 1498, Portugis di bawah Vasco da Gama berhasil menemukan jalur laut langsung menuju India melalui Tanjung Harapan Afrika. Penemuan ini mengubah geopolitik perdagangan dunia karena bangsa Eropa mulai memasuki langsung jaringan perdagangan Asia tanpa perantara pedagang Muslim Timur Tengah. Setelah itu Portugis bergerak agresif membangun imperium maritim di Samudra Hindia. Tahun 1509 Portugis mulai menyerang jalur perdagangan Asia Tenggara dan pada tahun 1511 armada Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque berhasil merebut Malaka dari Kesultanan Malaka. Kejatuhan Malaka tahun 1511 menjadi titik balik penting karena Portugis mulai mencari sumber langsung rempah dan lada di Nusantara, termasuk ke wilayah Sunda.
Table of Contents
ToggleDiplomasi Pajajaran–Portugis dan Perjanjian Tahun 1512–1522
Setelah Malaka jatuh tahun 1511, Portugis mulai mengirim ekspedisi ke pesisir utara Jawa. Sekitar tahun 1512–1513, penjelajah Portugis Tomé Pires mengunjungi Jawa dan mencatat kondisi politik serta perdagangan Nusantara dalam karya terkenalnya Suma Oriental. Dalam catatannya, ia menggambarkan Sunda sebagai kerajaan kaya lada yang masih kuat dan belum dikuasai kekuatan Islam pesisir Jawa. Pada periode ini Pajajaran mulai menyadari ancaman ekspansi Demak dan Cirebon yang berkembang cepat di pesisir utara Jawa bagian tengah dan barat.
Sekitar tahun 1518–1521, hubungan diplomatik awal antara Pajajaran dan Portugis mulai dibangun. Menurut beberapa sumber Portugis, utusan Sunda pernah datang ke Malaka untuk menjajaki kerja sama militer dan perdagangan. Pada masa inilah kemungkinan besar Prabu Surawisesa mulai berperan aktif dalam diplomasi luar negeri Pajajaran, bahkan sebelum resmi naik takhta. Sri Baduga Maharaja diperkirakan wafat sekitar tahun 1521, lalu digantikan Surawisesa sebagai raja Pajajaran.
Pada tanggal 21 Agustus 1522 terjadi perjanjian resmi antara Portugis dan Pajajaran. Utusan Portugis yang dipimpin Henrique Leme datang ke Sunda Kelapa dan menandatangani perjanjian dengan kerajaan Sunda. Dalam perjanjian tersebut Pajajaran memberi izin kepada Portugis untuk membangun benteng di Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya Portugis menjanjikan perlindungan militer terhadap ancaman Demak dan Cirebon. Perjanjian ini juga memberikan hak perdagangan lada kepada Portugis dalam jumlah besar. Sebagai simbol perjanjian, Portugis mendirikan padrao atau prasasti batu kerajaan di Sunda Kelapa tahun 1522. Prasasti inilah yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Padrao Sunda Kelapa.
Krisis Politik Jawa Barat dan Ekspansi Demak (1522–1526)
Perjanjian Sunda–Portugis tahun 1522 segera memicu kekhawatiran besar di Kesultanan Demak. Demak melihat kehadiran Portugis Kristen di Sunda Kelapa sebagai ancaman langsung terhadap perdagangan dan penyebaran pengaruh Islam di Jawa. Pada masa itu Demak sedang berada pada puncak ekspansi politik di bawah Sultan Trenggana. Setelah menguasai sebagian besar pesisir utara Jawa Tengah, Demak mulai bergerak ke Jawa Barat melalui Cirebon dan Banten.
Sekitar tahun 1524–1525, pasukan Islam dari Cirebon mulai memasuki wilayah Banten yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Pajajaran. Dalam proses ini muncul tokoh penting bernama Fatahillah yang juga dikenal sebagai Faletehan atau Sunan Gunung Jati dalam beberapa tradisi lokal. Pada tahun 1526, pasukan Demak-Cirebon berhasil merebut Banten Girang dari kekuasaan Pajajaran. Kejatuhan Banten sangat penting karena wilayah tersebut merupakan salah satu pelabuhan utama Sunda di bagian barat Jawa.
Setelah Banten jatuh, Sunda Kelapa menjadi target berikutnya. Pajajaran berada dalam posisi semakin terdesak karena kehilangan jalur pertahanan pesisirnya. Portugis sebenarnya berencana mengirim bantuan militer dan membangun benteng permanen di Sunda Kelapa, tetapi proses pembangunan berjalan lambat dan armada bantuan Portugis tidak segera tiba dari Malaka.
Dokumen Portugis dan Jatuhnya Sunda Kelapa Tahun 1527
Pada tanggal 29 Juli 1527 dibuat dokumen Portugis terkenal berjudul Instrumento de posse que o capitão Francisco de Sá tomou do reino de Sunda em nome d’el-rei D. João III. Dokumen ini merupakan arsip administratif resmi Portugis yang mencatat prosesi pengambilan kekuasaan simbolik atas wilayah Sunda atas nama Raja Dom João III. Dalam manuskrip tersebut disebutkan bahwa Francisco de Sá bersama para kapten, bangsawan, kesatria, dan tentara Portugis turun ke daratan Sunda Kelapa sambil membawa panji kerajaan Portugis dan sebuah padrão batu kerajaan yang memuat lambang Portugis dan salib Kristus.
Dokumen tersebut juga menyebut bahwa klaim Portugis atas Sunda didasarkan pada perjanjian tahun 1522 antara Henrique Leme dan Raja Sunda yang disebut “Rague Mullaydar”, yang kemungkinan besar merujuk kepada Prabu Surawisesa. Portugis bahkan menyebut adanya hak menerima “dua ribu rumah lada” sebagai bagian dari perjanjian perdagangan. Dalam tradisi imperium Portugis abad XVI, pemasangan padrão merupakan simbol resmi klaim kedaulatan kerajaan Portugis atas suatu wilayah.
Namun pada tahun yang sama, tepatnya sekitar bulan Juni–September 1527, pasukan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah berhasil menyerang dan merebut Sunda Kelapa sebelum benteng Portugis selesai dibangun. Armada Portugis terlambat tiba sehingga gagal mempertahankan pelabuhan tersebut. Setelah kemenangan itu, nama Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta yang berarti “kemenangan sempurna” atau “kemenangan mutlak”. Tahun 1527 kemudian dianggap sebagai tahun berdirinya Jayakarta yang kelak berkembang menjadi Jakarta modern.
Keruntuhan Pajajaran dan Dampak Jangka Panjang (1527–1597)
Jatuhnya Sunda Kelapa tahun 1527 menjadi titik awal kemunduran besar Kerajaan Sunda Pajajaran. Setelah kehilangan Banten dan Sunda Kelapa, kerajaan Sunda praktis kehilangan akses utama terhadap perdagangan internasional. Pajajaran semakin terisolasi di pedalaman Priangan dan kehilangan sumber ekonomi utama dari perdagangan lada. Sementara itu Kesultanan Banten berkembang cepat menjadi kekuatan maritim Islam terbesar di Jawa Barat.
Pada tahun 1546 Sultan Trenggana dari Demak wafat dalam ekspedisi militer di Jawa Timur, tetapi pengaruh Islam di Jawa Barat terus berkembang melalui Kesultanan Banten dan Cirebon. Selama pertengahan abad XVI, Pajajaran terus mengalami tekanan politik dan militer dari Banten. Pada masa pemerintahan raja-raja akhir Pajajaran seperti Raga Mulya atau Prabu Surya Kencana, wilayah kerajaan semakin menyusut.
Sekitar tahun 1579, pasukan Kesultanan Banten di bawah Maulana Yusuf berhasil menyerbu ibu kota Pakuan Pajajaran. Peristiwa ini dianggap sebagai akhir resmi Kerajaan Sunda Pajajaran sebagai kekuatan politik besar di Jawa Barat. Sebagian bangsawan dan rakyat Sunda kemudian mundur ke daerah pedalaman seperti Sumedang Larang dan wilayah Priangan timur.
Sementara itu Portugis yang gagal menguasai Sunda Kelapa akhirnya memusatkan aktivitas mereka di Maluku dan Timor. Walaupun proyek benteng Portugis di Sunda Kelapa gagal, bukti fisik hubungan Sunda–Portugis tetap bertahan melalui Prasasti Padrao Sunda Kelapa. Prasasti tersebut ditemukan kembali pada tahun 1918 di kawasan Jakarta Utara pada masa Hindia Belanda dan menjadi salah satu bukti arkeologis paling penting mengenai diplomasi internasional Nusantara awal abad XVI.















2 thoughts on “Sejarah Kekalahan Sunda Kelapa Portugis 1527 M”