Sejarah Desa Ngumpakdalem Dan Tragedi Runtuhnya Ibukota Rajekwesi 1828
Table of Contents
ToggleLahirnya Ngumpakdalem dan Pemindahan Pusat Rajekwesi Tahun 1725
Desa Ngumpakdalem di Kecamatan Dander, Bojonegoro merupakan salah satu kawasan paling penting dalam sejarah awal Kabupaten Bojonegoro. Desa ini dipercaya pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Rajekwesi pada abad ke-18 sebelum pusat administrasi dipindahkan ke Kota Bojonegoro modern oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1828. Letaknya yang berada sekitar 7–10 kilometer di selatan pusat kota sekarang memperlihatkan bahwa kawasan ini dahulu dipilih sebagai pusat pemerintahan strategis di wilayah pedalaman Bengawan Solo bagian selatan. Hingga kini, identitas Ngumpakdalem sebagai “ibukota lama Rajekwesi” masih hidup kuat dalam memori masyarakat melalui tradisi lisan, nama-nama dusun, serta keberadaan Lapangan Rajekwesi yang dipercaya sebagai bekas alun-alun kabupaten lama.
Secara geografis, Desa Ngumpakdalem berada pada kawasan dataran rendah di selatan Bengawan Solo dengan koordinat sekitar 7°11′27″ Lintang Selatan dan 111°50′21″ Bujur Timur. Desa ini berada di jalur strategis penghubung Kota Bojonegoro menuju wilayah Dander dan kawasan selatan Jawa Timur. Luas wilayah Ngumpakdalem mencapai sekitar 8,30 kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari dua belas ribu jiwa sehingga menjadi salah satu desa terpadat di Kecamatan Dander.
Kepadatan penduduk yang tinggi menunjukkan bahwa kawasan ini sejak dahulu telah berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi dan permukiman penting di wilayah selatan Bojonegoro. Dalam struktur administratif pemerintahan desa, Ngumpakdalem terdiri atas lima dusun, sebelas RW, dan lima puluh enam RT. Kelima dusun tersebut meliputi Dusun Ngumpak, Dusun Dalem, Dusun Panggang, Dusun Bogo, dan Dusun Kedungrejo. Dusun Dalem dipercaya sebagai kawasan inti pemerintahan lama Rajekwesi, sedangkan Dusun Panggang dan Ngumpak berkembang sebagai pusat aktivitas perdagangan dan permukiman rakyat sejak masa kabupaten lama.
Dari sisi batas wilayah, Desa Ngumpakdalem berbatasan dengan wilayah Kota Bojonegoro dan Kelurahan Sukorejo di sebelah utara, Desa Dander di sebelah selatan, Desa Sumodikaran dan Mojoranu di sebelah timur, serta Desa Sumberarum di sebelah barat. Letak geografis tersebut menjadikan Ngumpakdalem sejak masa Rajekwesi berkembang sebagai titik strategis perdagangan, pemerintahan, dan jalur mobilitas masyarakat pedalaman Bengawan Solo bagian selatan.
Nama Ngumpakdalem sendiri memiliki kaitan erat dengan keberadaan pusat pemerintahan Rajekwesi. Dalam bahasa Jawa, “umpak” berarti batu fondasi penyangga tiang bangunan joglo atau pendopo, sedangkan “dalem” berarti rumah pejabat tinggi atau kediaman penguasa pemerintahan. Menurut tradisi masyarakat setempat, dahulu di kawasan ini berdiri pendopo besar tempat tinggal bupati Rajekwesi yang ditopang oleh batu-batu umpak berukuran besar. Dari gabungan istilah “umpak” dan “dalem” inilah kemudian lahir nama Ngumpakdalem. Tradisi tersebut masih bertahan hingga sekarang, terutama pada kawasan Dusun Dalem yang dipercaya sebagai bekas inti kompleks pemerintahan lama.
Perkembangan besar Ngumpakdalem dimulai pada tahun 1725 ketika Pakubuwono II memerintahkan pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dari Padangan menuju kawasan baru yang lebih strategis di selatan Bengawan Solo. Perintah tersebut dilaksanakan oleh Raden Tumenggung Hario Matahun I yang menjabat sebagai Bupati Jipang ketiga pada periode 1718–1741. Kawasan baru itu kemudian dinamakan Rajekwesi, berasal dari kata “rajek” yang berarti pagar dan “wesi” yang berarti besi. Nama tersebut menggambarkan fungsi kawasan sebagai benteng pertahanan kuat di tengah wilayah hutan jati, rawa-rawa, dan vegetasi lebat yang secara alami sulit ditembus musuh.
Pemilihan lokasi Ngumpakdalem kemungkinan berkaitan dengan strategi politik Kesultanan Mataram untuk membangun pusat administrasi yang aman dan mudah dipertahankan di wilayah barat Jawa Timur. Pemindahan pusat pemerintahan tahun 1725 tersebut sering disalahpahami sebagai “pemindahan ibukota Bojonegoro ke Ngumpakdalem”, padahal pada masa itu nama Bojonegoro belum digunakan secara resmi. Yang sebenarnya terjadi adalah pemindahan pusat Kabupaten Jipang menuju Kabupaten Rajekwesi yang berlokasi di Ngumpakdalem. Nama Kabupaten Bojonegoro sendiri baru lahir secara resmi setelah reorganisasi kolonial Belanda tahun 1828 pasca Perang Jawa. Dengan demikian, Ngumpakdalem sesungguhnya merupakan bekas ibukota Rajekwesi, cikal bakal administratif Kabupaten Bojonegoro modern.
2. Tata Kota Rajekwesi dan Sisa Peninggalan di Ngumpakdalem
Sebagai ibukota baru Rajekwesi, Ngumpakdalem dibangun mengikuti konsep tata ruang tradisional Jawa-Islam yang dikenal sebagai Catur Gatra Tunggal. Konsep ini merupakan warisan tata kota Kesultanan Mataram Islam yang mengintegrasikan empat unsur utama kehidupan negara dalam satu kesatuan ruang, yaitu pemerintahan, agama, ekonomi, dan keamanan. Di tengah kawasan berdiri alun-alun sebagai pusat aktivitas rakyat dan simbol kekuasaan publik. Di sisi utara alun-alun terdapat pendopo kabupaten sekaligus kediaman resmi bupati.
Pada sisi barat dibangun masjid jami’ sebagai pusat spiritual masyarakat, sedangkan pasar ditempatkan di bagian timur laut sebagai pusat perdagangan. Area penjara atau pusat keamanan diperkirakan berada di sisi timur dekat kompleks pemerintahan. Tata ruang seperti ini memperlihatkan bahwa Rajekwesi dibangun mengikuti pola kosmologi Jawa yang menempatkan kekuasaan politik, agama, ekonomi, dan hukum dalam keseimbangan simbolis sebagaimana terlihat di Yogyakarta dan Surakarta.
Walaupun bangunan fisik pemerintahan Rajekwesi sebagian besar telah hilang, jejak peninggalannya masih dapat dikenali melalui struktur ruang desa dan memori kolektif masyarakat. Peninggalan paling penting adalah Lapangan Rajekwesi yang diyakini sebagai bekas alun-alun utama kabupaten. Pada masa lalu, kawasan ini menjadi pusat kegiatan pemerintahan, latihan prajurit, pengumuman resmi kabupaten, hingga tempat berlangsungnya upacara politik dan keagamaan. Posisi lapangan yang tetap berada di pusat desa memperlihatkan kesinambungan tata ruang sejak masa Rajekwesi hingga sekarang. Di sekitar lapangan tersebut terdapat Dusun Dalem yang dipercaya sebagai bekas kompleks inti pemerintahan dan kediaman bupati. Toponimi “Dalem” menjadi bukti historis penting karena dalam tradisi Jawa istilah itu hampir selalu berkaitan dengan rumah pejabat tinggi atau pusat kekuasaan.
Pasar Ngumpakdalem menjadi salah satu peninggalan ekonomi tertua di wilayah Dander. Sejak masa Rajekwesi, pasar ini berkembang sebagai pusat perdagangan hasil bumi, kayu jati, ternak, dan kebutuhan pokok masyarakat pedalaman Bojonegoro. Hari pasaran Pahing dan Wage menjadi momen paling ramai karena pedagang dari berbagai desa sekitar datang membawa komoditas lokal. Tradisi pasar periodik ini masih bertahan hingga sekarang dan menjadi bukti kesinambungan fungsi ekonomi desa selama hampir tiga abad. Selain itu, sebagian masyarakat juga masih mengenali lokasi yang dipercaya sebagai bekas jalur prajurit, pondasi pendopo, serta area pemerintahan lama, walaupun belum pernah dilakukan penelitian arkeologi resmi berskala besar untuk membuktikan seluruh struktur Rajekwesi secara ilmiah.
Selain Lapangan Rajekwesi dan pasar tradisional, jejak kabupaten lama juga tersimpan melalui pola permukiman dan nama-nama wilayah kuno yang masih bertahan. Dusun Dalem dipandang sebagai bekas pusat kediaman bupati dan pejabat pemerintahan, sementara kawasan Panggang diyakini dahulu menjadi jalur aktivitas ekonomi dan logistik rakyat. Di beberapa titik sekitar pusat desa, masyarakat setempat masih menyebut adanya bekas pondasi batu, struktur tanah tua, dan lokasi yang dipercaya sebagai area pemerintahan Rajekwesi. Walaupun sebagian besar belum diteliti secara arkeologis, keberadaan jejak tersebut memperlihatkan bahwa Ngumpakdalem dahulu bukan sekadar desa agraris biasa, melainkan sebuah kota administratif penting pada era Mataram Islam akhir di wilayah barat Jawa Timur.
Dalam perkembangan historiografi lokal modern, muncul narasi populer bahwa Ngumpakdalem “akan kembali menjadi ibukota Bojonegoro”. Namun hingga sekarang tidak pernah ada keputusan resmi pemerintah yang benar-benar merencanakan pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bojonegoro modern dari Kota Bojonegoro menuju Ngumpakdalem. Wacana yang pernah berkembang lebih banyak berkaitan dengan pengembangan wilayah selatan kota, pemekaran administratif desa, serta meningkatnya posisi strategis Ngumpakdalem sebagai kawasan penyangga perkotaan Bojonegoro.
Kesalahpahaman ini muncul karena masyarakat menghubungkan status historis Ngumpakdalem sebagai bekas ibukota Rajekwesi dengan posisi administratif Bojonegoro masa kini. Secara historis terdapat tiga fase berbeda dalam perkembangan wilayah ini, yaitu fase Kabupaten Jipang dengan pusat di Padangan, fase Kabupaten Rajekwesi dengan pusat di Ngumpakdalem sejak 1725, dan fase Kabupaten Bojonegoro sejak 1828 dengan pusat pemerintahan di wilayah utara Bengawan Solo.
3. Keruntuhan Rajekwesi dan Warisan Budaya Ngumpakdalem
Ngumpakdalem memiliki hubungan erat dengan dinamika politik besar di Jawa pada awal abad ke-19, terutama ketika meletus Perang Jawa atau Perang Diponegoro. Dalam tradisi lokal Bojonegoro disebutkan bahwa pada tahun 1827 pusat pemerintahan Rajekwesi di Ngumpakdalem sempat digempur pasukan Raden Tumenggung Sosrodilogo yang menjadi sekutu Pangeran Diponegoro. Serangan tersebut menyebabkan wilayah Rajekwesi mengalami kerusakan politik dan administratif cukup besar.
Setelah perang mereda, pemerintah kolonial Belanda melakukan reorganisasi wilayah dan pada tanggal 25 September 1828 nama Kabupaten Rajekwesi resmi diubah menjadi Kabupaten Bojonegoro. Pusat pemerintahannya dipindahkan ke wilayah utara Bengawan Solo yang kini berkembang menjadi pusat Kota Bojonegoro modern. Perpindahan tersebut secara perlahan mengakhiri status Ngumpakdalem sebagai pusat pemerintahan kabupaten sekaligus mempercepat hilangnya bangunan-bangunan lama Rajekwesi akibat perang, pembongkaran, dan perubahan tata kota kolonial.
Sejak dekade 1980-an hingga sekarang, perkembangan Kota Bojonegoro mulai meluas ke arah selatan sehingga Ngumpakdalem mengalami transformasi dari desa agraris tradisional menjadi kawasan semi-perkotaan yang padat penduduk. Banyak kawasan perumahan, fasilitas pendidikan, pusat kesehatan, lapangan olahraga, dan aktivitas perdagangan tumbuh di desa ini karena lokasinya yang dekat dengan pusat kota. Walaupun modernisasi terus berkembang, struktur ruang lama Ngumpakdalem masih dapat dikenali melalui keberadaan Lapangan Rajekwesi, pasar desa, jalur permukiman lama, serta toponimi historis yang tetap dipertahankan masyarakat.
Meskipun sebagian besar bangunan fisik Rajekwesi telah lenyap, warisan sejarah Ngumpakdalem tetap hidup dalam budaya masyarakatnya. Desa ini masih dikenal sebagai kawasan yang lekat dengan tradisi seni Jawa pedalaman, legenda Angling Dharma, pertunjukan budaya rakyat, serta berbagai kisah turun-temurun mengenai pemerintahan lama Rajekwesi. Identitas Ngumpakdalem sebagai “ibukota lama Bojonegoro” tetap bertahan kuat dalam kesadaran masyarakat lokal. Dengan demikian, peninggalan terbesar Rajekwesi bukan hanya berupa ruang fisik, tetapi juga memori sejarah, struktur budaya, dan kesinambungan identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi di selatan Bojonegoro.
















