Kertabhumi 1468 M, Awal Kemenangan Dakwah Islam di Majapahit
KERTABHUMI – Keruntuhan Kerajaan Majapahit berawal dari krisis suksesi internal Dinasti Rajasa pada pertengahan abad ke-15. Setelah wafatnya Rajasawardhana atau Sang Sinagara pada tahun 1453 M, Majapahit memasuki masa interregnum selama kurang lebih tiga tahun karena putra-putranya dianggap belum cukup dewasa untuk memegang kekuasaan. Dalam situasi tersebut, elite istana dan Bhattara Saptaprabhu kemudian mengangkat Girishawardhana—adik Sang Sinagara—sebagai raja baru pada tahun 1456 M. Keputusan politik ini memunculkan persoalan legitimasi karena garis keturunan langsung Sang Sinagara merasa hak waris mereka telah diambil.
Setelah Girishawardhana wafat, takhta kembali diwariskan kepada adiknya lagi, Dyah Suraprabhawa. Dari sudut pandang keluarga Sang Sinagara, kekuasaan telah direbut dua kali berturut-turut oleh cabang keluarga lain. Dalam konteks inilah muncul Bhre Kertabhumi sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi garis Suraprabhawa. Ketika Kertabhumi dan saudara-saudaranya mulai dewasa dan memiliki basis politik sendiri, tuntutan legitimasi berubah menjadi gerakan perebutan kekuasaan terbuka yang kemudian meledak menjadi pemberontakan besar tahun 1468 M.
Sumber utama mengenai konflik ini berasal dari Pararaton yang mencatat keterlibatan anak-anak Sang Sinagara dalam pergolakan politik akhir Majapahit. Dalam salah satu bagian Pararaton disebutkan:
“Sira sang mokta ring Indranibhawana, putranira akweh, bhre Tumapel, bhre Pamotan, bhre Kertabhumi.”
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa keturunan Sang Sinagara merupakan kelompok politik penting di akhir Majapahit. Penyebutan langsung Bhre Kertabhumi dalam konteks anak-anak Sang Sinagara menjadi dasar utama para sejarawan merekonstruksi konflik dinasti akhir Majapahit. Walaupun Pararaton bercampur unsur legitimasi dan mitologisasi politik, naskah ini tetap menjadi sumber primer paling penting mengenai perang saudara Majapahit abad ke-15.
Table of Contents
TogglePemberontakan 1468 M dan Kekalahan Suraprabhawa
Pemberontakan Bhre Kertabhumi tahun 1468 M diperkirakan berlangsung dalam bentuk kudeta politik dan militer terhadap pusat kerajaan di Trowulan. Mayoritas sejarawan menafsirkan bahwa Bhre Kertabhumi berhasil merebut ibu kota Majapahit dan memaksa Dyah Suraprabhawa mundur ke Daha atau Keling di wilayah pedalaman barat. Kekalahan Suraprabhawa inilah yang kemudian menyebabkan Majapahit terpecah menjadi dua pusat kekuasaan besar. Trowulan dikuasai Bhre Kertabhumi, sementara Daha berada di bawah garis Suraprabhawa beserta keturunannya yang kemudian dikenal sebagai Dinasti Girindrawardhana.
Perpecahan tersebut diperkuat oleh keberadaan Prasasti Jiyu yang menunjukkan adanya dualisme politik di akhir Majapahit. Dalam salah satu bagian prasasti muncul penyebutan:
“Wilwatikta langkung Keling…”
Penyebutan Wilwatikta dan Keling secara terpisah memperlihatkan bahwa struktur politik Majapahit telah pecah menjadi dua pusat pemerintahan berbeda. Situasi ini menunjukkan bahwa pemberontakan Kertabhumi bukan sekadar konflik istana sementara, tetapi benar-benar menghancurkan kesatuan politik Majapahit.
Struktur Mandala Majapahit dan Dukungan Bandar Pesisir
Untuk memahami dampak besar perang tersebut, struktur politik Majapahit harus dipahami sebagai sistem mandala, bukan negara teritorial modern. Dalam sistem mandala Jawa klasik, pusat kerajaan mempertahankan pengaruh melalui hubungan loyalitas, upeti, perdagangan, dan legitimasi simbolik, bukan kontrol administratif mutlak. Selama pusat kerajaan kuat, wilayah-wilayah bawahan tetap tunduk. Akan tetapi ketika perang saudara meledak dan pusat kekuasaan terpecah, bandar-bandar pesisir otomatis memperoleh ruang otonomi yang jauh lebih besar.
Pada abad ke-15, bandar-bandar seperti Tuban, Gresik, Surabaya, Semarang, Jepara, dan kawasan Demak telah berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang terhubung dengan Gujarat, Malaka, Champa, Tiongkok Ming, dan dunia Islam Samudra Hindia. Bandar-bandar tersebut memiliki syahbandar, armada dagang, gudang komoditas, serta jaringan saudagar internasional yang membuat mereka semakin kaya dan mandiri dari aristokrasi agraris pedalaman.
Komoditas seperti beras Jawa, kayu jati, lada, kain, garam, dan rempah diperdagangkan melalui jalur Laut Jawa menuju Malaka dan Asia Selatan. Dalam konteks perang saudara Majapahit, kelompok-kelompok pesisir kemungkinan besar mengambil posisi pragmatis. Mereka cenderung mendukung faksi yang dianggap paling menguntungkan perdagangan dan memberi ruang otonomi lebih besar kepada pelabuhan. Karena itu sangat mungkin kubu Bhre Kertabhumi memperoleh simpati atau dukungan logistik tidak langsung dari jaringan pesisir yang sedang berkembang. Dukungan tersebut kemungkinan bukan berbasis ideologi agama, melainkan kepentingan ekonomi dan keamanan perdagangan maritim.
Historiografi Majapahit, Arya Damar, dan Raden Patah
Sejarah runtuhnya Majapahit selama berabad-abad mengalami penafsiran berbeda-beda. Dalam tradisi babad Jawa seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, keruntuhan Majapahit sering digambarkan sebagai perpindahan wahyu kekuasaan dari kerajaan Hindu-Buddha menuju kerajaan Islam Demak. Dalam tradisi ini Raden Patah diposisikan sebagai putra langsung Bhre Kertabhumi sehingga Demak memperoleh legitimasi sebagai pewaris sah Majapahit.
Dalam konteks transformasi dunia pesisir inilah muncul tokoh Arya Damar yang memiliki posisi penting dalam historiografi transisi Majapahit–Demak. Dalam tradisi Jawa, Arya Damar diposisikan sebagai penghubung antara Majapahit, Palembang, jaringan perdagangan maritim, dan komunitas Muslim Asia. Ia sering digambarkan sebagai elite regional dalam orbit Majapahit yang memiliki hubungan erat dengan bandar perdagangan dan kelompok saudagar Muslim. Tradisi Jawa umumnya menyebut Raden Patah sebagai putra Bhre Kertabhumi dari seorang perempuan Tionghoa atau Champa yang kemudian dibesarkan di lingkungan Arya Damar di Palembang.
Akan tetapi persoalan ini sangat problematik secara historiografis karena tidak ada prasasti sezaman yang secara eksplisit menyatakan bahwa Raden Patah adalah anak biologis Kertabhumi. Karena itu banyak sejarawan modern menilai hubungan tersebut kemungkinan merupakan simbolisasi politik untuk membangun legitimasi Demak. Dalam budaya politik Jawa, legitimasi tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah literal. Yang lebih penting adalah kesinambungan wahyu kekuasaan, penerimaan elite, dan hubungan simbolik dengan kerajaan lama. Demak membutuhkan legitimasi Majapahit agar tidak dipandang sebagai kekuatan asing pesisir yang memutus tradisi Jawa. Karena itu narasi bahwa Raden Patah adalah putra Kertabhumi kemungkinan besar merupakan strategi politik untuk menjadikan Demak sebagai penerus sah Majapahit, bukan penghancurnya.
Historiografi modern yang dikembangkan oleh Slamet Muljana, M.C. Ricklefs, Denys Lombard, dan H.J. de Graaf tidak lagi melihat runtuhnya Majapahit semata-mata sebagai “kehancuran Hindu oleh Islam,” melainkan sebagai hasil perang saudara internal, perubahan ekonomi maritim, dan pergeseran pusat kekuasaan dari pedalaman menuju bandar pesisir.
Pecahnya Majapahit dan Lahirnya Dunia Islam
Pemberontakan Bhre Kertabhumi tahun 1468 M bukan sekadar perang saudara istana, melainkan titik awal transformasi besar dunia Jawa. Konflik tersebut menghancurkan stabilitas Kerajaan Majapahit, melemahkan kontrol pusat terhadap bandar-bandar pesisir, dan membuka jalan bagi lahirnya jaringan maritim Islam yang kemudian melahirkan Kesultanan Demak.
Keruntuhan Majapahit bukan semata kehancuran sebuah kerajaan Hindu-Buddha akibat serangan luar, melainkan perubahan total struktur politik, ekonomi, dan budaya Jawa dari kerajaan agraris pedalaman menuju dunia maritim kosmopolitan yang menjadi fondasi lahirnya era Islam Jawa. Dalam proses perubahan tersebut, bandar-bandar pesisir berkembang menjadi pusat kekuatan ekonomi baru yang semakin mandiri dari aristokrasi pedalaman. Jaringan perdagangan internasional, komunitas saudagar Muslim, serta hubungan maritim dengan Gujarat, Malaka, Champa, dan Tiongkok membentuk dunia pesisir yang lebih kosmopolitan dan pragmatis dibanding struktur agraris lama Majapahit.
Dari lingkungan inilah lahir jaringan Walisongo, berkembangnya pengaruh Arya Damar, hingga munculnya Raden Patah sebagai simbol kesinambungan antara warisan Majapahit dan lahirnya dunia Islam Jawa.















