Misteri Hilangnya Patung Raksasa Di Gunung Pandan Bojonegoro 1882

Gunung Pandan merupakan bentang alam purba yang menjulang di perbatasan Kabupaten Bojonegoro, Madiun, dan Nganjuk, Jawa Timur, dengan elevasi sekitar 897 meter di atas permukaan laut. Sebagai titik tertinggi Pegunungan Kendeng, lanskap ini tidak hanya dikenal melalui panorama matahari terbit, hamparan kabut menyerupai negeri di atas awan, serta jalur pendakian yang populer, tetapi juga karena menyimpan lapisan sejarah geologi, vulkanologi, etimologi, spiritualitas, arkeologi, dan peradaban yang sangat kompleks. Kajian kebumian modern, tradisi toponimi Jawa, sumber kolonial, temuan arkeologis, kehilangan artefak monumental, serta ancaman kerusakan modern menempatkan kawasan ini sebagai salah satu ruang historis multidimensional paling penting di Jawa Timur, tempat ekologi, budaya, energi bumi, dan memori sakral bertemu dalam satu kesatuan geografis.
Table of Contents
ToggleSejarah Gunung Pandan

Secara kronologis, sejarah Gunung Pandan dapat ditelusuri sejak periode Plio-Pleistosen ketika aktivitas vulkanik purba membentuk struktur stratovolkano awal di Zona Kendeng. Gunung ini merupakan paleovolcano hasil dinamika subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia yang menghasilkan litologi berupa breksi vulkanik, andesit piroksen, batuan vulkaniklastik, dan intrusi magmatik.
“Gunung Pandan merupakan produk vulkanisme Kuarter Jawa Timur yang saat ini sudah tidak aktif.”
— J. Marin dkk., Geosaintek ITS, 2023
Meskipun kini berada dalam kondisi dorman, sistem geotermal residual masih aktif melalui manifestasi seperti Pancur 7, Banyu Kuning, mud pool, travertine, dan sumber air panas mineral.
“Gunung Pandan menunjukkan karakteristik gunung api purba dengan sistem panas bumi aktif yang masih terdeteksi hingga kini.”
— Tim Geologi UPN Veteran Yogyakarta, 2017
Potensi panas bumi ini diperkirakan mencapai puluhan megawatt dan menjadikan kawasan tersebut penting dalam konteks energi regional, geowisata, serta konservasi geopark.
Kawasan Kuno Gunung Pugawat

Pasca fase vulkanik purba, kawasan lerengnya yang subur kemungkinan mulai dihuni manusia sejak masa prasejarah. Temuan watu lumpang, struktur batu megalitik, serta pola pemanfaatan sumber air menunjukkan bahwa Gunung Pandan mungkin telah berfungsi sebagai ruang ritus sejak era megalitikum. Dalam konteks kosmologi Nusantara awal, gunung kerap diposisikan sebagai poros dunia (axis mundi), tempat hubungan manusia dengan leluhur dan kekuatan adikodrati berlangsung.
Dari sudut etimologi, nama “Pandan” paling kuat berkaitan dengan dominasi vegetasi pandan hutan (Pandanus) yang dahulu tumbuh subur di lereng dan mata air pegunungan.
“Pemberian nama wilayah berdasarkan vegetasi dominan merupakan karakter kuat dalam sistem toponimi tradisional Jawa.”
— Tim Kajian Toponimi Nusantara, 2023
Kesuburan tanah vulkanik mendukung keberadaan flora tersebut, sehingga identitas vegetatif kawasan kemungkinan menjadi dasar utama penamaannya.
Dalam masyarakat Gondang dan Sekar, wilayah ini juga lama dikenal sebagai “Gunung Gede,” yang menandakan bentuknya sebagai bentang dominan regional. Sebutan tersebut menegaskan fungsinya sebagai orientasi geografis utama jauh sebelum administrasi modern berkembang.
Memasuki periode klasik Jawa Timur, terutama era Airlangga dan Kahuripan, sejumlah peneliti menduga Gunung Pandan mungkin berkaitan dengan kawasan kuno Gunung Pugawat atau pusat pertapaan strategis di jalur pedalaman antara Bengawan Solo, Gunung Wilis, dan jaringan spiritual pegunungan Jawa Timur. Posisi geografisnya yang strategis menjadikan kawasan ini mungkin terhubung dengan jalur peradaban regional besar.
“Tempat itu didatangi banyak orang yang membawa bunga dan pujian.”
— Prof. Slamet Muljana, interpretasi Prasasti Pucangan, 1968
Interpretasi ini memperkuat kemungkinan bahwa Gunung Pandan bukan sekadar gunung lokal, melainkan bagian dari lanskap spiritual dan politik Jawa Timur kuno.

Dalam kosmologi Hindu-Buddha Jawa, gunung merupakan representasi Mahameru atau pusat semesta. Oleh karena itu, keberadaan struktur pertapaan, patirtaan, jaladwara, lingga-yoni, serta situs ritual monumental di kawasan ini memperlihatkan pola mandala pegunungan yang selaras dengan tradisi sakral Jawa klasik.
Warisan budaya lokal memperkaya identitas kawasan melalui legenda Nyi Gendrosari dan Eyang Derpo.
“Gunung Pandan adalah ruang budaya yang memperlihatkan perpaduan antara lanskap ekologis dan konstruksi spiritual masyarakat lokal.”
— Dr. Budi Santoso, peneliti sejarah budaya Jawa Timur, 2022
Namun dimensi terbesar situs ini terletak pada catatan kolonial abad ke-19 mengenai keberadaan artefak monumental. Pada tahun 1857, W. van Roorda van Eysinga melaporkan adanya patung raksasa Brahmanis setinggi sekitar dua belas hasta atau ±14 meter di puncak gunung.
“Di puncak Gunung Pandan berdiri patung raksasa setinggi dua belas hasta yang dikelilingi delapan pohon jambe.”
— W. van Roorda van Eysinga, Nederlandsch-Indië, 1857
Arca yang dikenal sebagai Kiai Derpo ini kemungkinan berbentuk figur antropomorfik monumental berlengan dua dengan simbol linggaistik kuat, berfungsi sebagai pusat kosmologi gunung dan pemujaan religius besar.
“Patung berlengan dua, melengkung, tanpa banyak hiasan; kepala dan bagian vital pernah terlepas.”
— J.F.G. Brumund, Verslag van eene Reis door Midden- en Oost-Java, 1868
Jika rekonstruksi ini akurat, Kiai Derpo berpotensi menjadi salah satu arca Brahmanis terbesar di Jawa Timur.
Kerusakan Dan Penjarahan Artefak

Sayangnya, sejak akhir abad ke-19, situs monumental tersebut mengalami degradasi besar. Kerusakan terjadi melalui kombinasi pelapukan alami, mutilasi fisik, vandalisme, penjarahan kolonial, perdagangan ilegal artefak, dan pengabaian konservasi.
“Patung raksasa itu diberitakan hilang tanpa jejak sejak 1882.”
— Laporan Komisi Arkeologi Hindia Belanda, 1910
Selain arca utama, kerusakan juga menimpa:
- Jaladwara
- Patirtaan
- Fragmen candi
- Prasasti
- Lingga-yoni
- Struktur batu ritual
Akibatnya, sebagian besar kompleks spiritual monumental kini tersisa dalam bentuk fragmen tersebar.
Di era modern, ancaman baru muncul melalui eksploitasi tambang andesit, tekanan wisata massal, minimnya konservasi sistematis, serta potensi vandalisme modern. Padahal, teknologi seperti LiDAR, ground penetrating radar, dan ekskavasi arkeologis sistematis berpotensi membuka kembali struktur peradaban yang masih terkubur.
Potensi yang terpendam

Posisinya dalam Geopark Nasional Bojonegoro menjadikan Gunung Pandan memiliki potensi luar biasa sebagai:
- Situs geowisata nasional
- Laboratorium vulkanologi purba
- Pusat studi arkeologi regional
- Kawasan konservasi budaya
- Destinasi wisata sejarah premium
Keindahan visual sunrise, camping, paralayang, dan negeri di atas awan sejatinya hanyalah lapisan terluar dari sejarah ribuan tahun kawasan ini.
Sebagai keseluruhan, Gunung Pandan merepresentasikan perpaduan luar biasa antara vulkanologi purba, energi panas bumi residual, identitas ekologis, kosmologi Jawa, jaringan peradaban klasik, pusat ritual monumental, serta tragedi kehilangan artefak besar. Kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan warisan geohistoris multidimensional yang merekam hubungan panjang antara manusia, gunung, energi bumi, spiritualitas, dan perjalanan besar sejarah Nusantara. Sebagai salah satu situs geobudaya terpenting di Jawa Timur, Gunung Pandan layak mendapatkan penelitian arkeologis lanjutan, perlindungan konservasi serius, dan pengakuan nasional yang lebih kuat.














1 thought on “Misteri Hilangnya Patung Raksasa Di Gunung Pandan Bojonegoro 1882”