Gunung Pandan Bojonegoro dan Misteri Hilangnya Situs Purbakala 1882 M

Gunung Pandan merupakan gunung api purba yang berada di perbatasan Kabupaten Bojonegoro, Madiun, dan Nganjuk, Jawa Timur, dengan elevasi sekitar 897 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini termasuk bagian dari Zona Kendeng yang terbentuk akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia sejak periode Plio-Pleistosen sekitar 5,3 juta hingga 11.700 tahun lalu. Struktur geologinya didominasi breksi vulkanik, andesit piroksen, batuan vulkaniklastik, serta intrusi magma yang menunjukkan karakter sebagai paleovolcano atau gunung api purba.
Berdasarkan penelitian “Karakteristik Geologi dan Potensi Panas Bumi Gunung Pandan” dalam Jurnal Geosaintek ITS Volume 9 Nomor 2 tahun 2023, DOI: 10.12962/j25023659.v9i2.14562, Gunung Pandan dikategorikan sebagai produk vulkanisme Kuarter Jawa Timur yang kini berada dalam kondisi dorman namun masih memiliki manifestasi panas bumi residual berupa Pancur 7, Banyu Kuning, mud pool, travertine, dan sumber air panas mineral.¹ Penelitian Tim Geologi UPN Veteran Yogyakarta tahun 2017 juga menyebut bahwa kawasan ini masih memiliki sistem geotermal aktif di bawah permukaan yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi alternatif regional.
Secara geomorfologis, Gunung Pandan memiliki fungsi penting sebagai daerah tangkapan air Pegunungan Kendeng bagian barat. Lereng vulkaniknya menopang sistem hidrologi bagi wilayah selatan Bojonegoro dan sekitarnya. Berdasarkan interpretasi citra satelit Landsat dan laporan lingkungan daerah tahun 2022–2025, sejumlah area lereng mengalami perubahan tutupan vegetasi akibat aktivitas pembukaan lahan dan pertambangan batu andesit. Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro tahun 2024 menunjukkan adanya peningkatan kawasan terbuka di sekitar lereng selatan Gunung Pandan yang diperkirakan mencapai lebih dari 18 hektare dalam satu dekade terakhir.
Hipotesis sementara menunjukkan bahwa perubahan lanskap tersebut berpotensi mempengaruhi stabilitas daerah aliran sungai (DAS) kecil di sekitar Gondang dan Sekar, meskipun penelitian hidrologi detail masih diperlukan. Dalam konteks penelitian modern, kawasan ini sangat potensial untuk pemetaan LiDAR, pemodelan topografi digital, serta survei geologi berbasis citra satelit guna mengidentifikasi struktur vulkanik purba yang masih tersembunyi di bawah vegetasi pegunungan.
Table of Contents
ToggleKawasan Sakral dan Sejarah Keagamaan
Lereng Gunung Pandan diperkirakan mulai dihuni manusia sejak masa megalitikum sekitar 2.500–1.500 SM. Dugaan tersebut didasarkan pada keberadaan watu lumpang, struktur batu ritual, pemanfaatan sumber mata air alami, serta pola ruang pegunungan yang menyerupai kawasan ritus kuno. Namun hingga kini sebagian besar temuan tersebut belum diverifikasi melalui ekskavasi arkeologis sistematis sehingga status kronologinya masih bersifat hipotesis sementara. Dalam kosmologi Nusantara kuno, gunung dipandang sebagai axis mundi atau poros dunia yang menghubungkan manusia dengan leluhur dan kekuatan adikodrati. Tradisi semacam ini kemudian berkembang kuat pada era Hindu-Buddha Jawa Timur.
Pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Kerajaan Kahuripan tahun 1019–1049 M, Gunung Pandan diduga memiliki hubungan dengan jaringan pertapaan pedalaman Jawa Timur yang terhubung dengan Bengawan Solo dan Gunung Wilis. Interpretasi Prof. Slamet Muljana terhadap Prasasti Pucangan tahun 1041 M menyebut adanya kawasan yang ramai didatangi orang dengan membawa bunga dan pujian.² Walaupun prasasti tersebut tidak menyebut Gunung Pandan secara eksplisit, sejumlah peneliti modern menganggap deskripsi tersebut memiliki kemungkinan keterkaitan dengan kawasan spiritual Pegunungan Kendeng. Oleh karena itu, hubungan langsung antara Gunung Pandan dan Gunung Pugawat masih harus dipandang sebagai dugaan historiografis yang belum final.
Tradisi lokal masyarakat Gondang dan Sekar menyebut keberadaan tokoh spiritual seperti Nyi Gendrosari dan Eyang Derpo yang dipercaya berkaitan dengan kawasan puncak gunung. Dalam perspektif antropologi budaya, legenda tersebut menunjukkan proses panjang sakralisasi ruang pegunungan dalam memori kolektif masyarakat Jawa pedalaman. Hingga kini, sejumlah titik di kawasan Gunung Pandan masih dianggap keramat dan digunakan masyarakat untuk aktivitas spiritual tertentu. Berdasarkan survei komunitas sejarah lokal tahun 2024, beberapa lokasi ritual berada di kisaran koordinat 7°21′ LS dan 111°44′ BT, meskipun koordinat detail situs utama belum dipublikasikan demi alasan perlindungan cagar budaya dan keamanan lokasi.
Arca Kiai Derpo, Data Arkeologi, dan Catatan Kolonial
Dimensi paling monumental dalam sejarah Gunung Pandan muncul melalui laporan kolonial abad ke-19 mengenai keberadaan arca raksasa di puncak gunung. Berdasarkan laporan kolonial W. van Roorda van Eysinga dalam Nederlandsch-Indië tahun 1857, arsip KITLV Leiden kode katalog NED-1857-III, di puncak Gunung Pandan pernah berdiri patung Brahmanis setinggi sekitar dua belas hasta atau diperkirakan ±14 meter yang dikelilingi delapan pohon jambe.³ Dalam kutipan asli Belanda disebutkan:
“Op den top van den Pandanberg staat een kolossaal beeld…”
“Di puncak Gunung Pandan berdiri sebuah patung kolosal…”
Arca tersebut dikenal masyarakat dengan nama Kiai Derpo. Kemudian pada tahun 1868, J.F.G. Brumund dalam Verslag van eene Reis door Midden- en Oost-Java, Bataviaasch Genootschap, halaman 327–330, mendeskripsikan arca tersebut sebagai figur berlengan dua dengan bentuk melengkung dan minim ornamen, meskipun bagian kepala dan organ vitalnya telah rusak.⁴ Berdasarkan laporan kolonial tersebut, tinggi arca diperkirakan mencapai ±14 meter dengan bentuk antropomorfik bercorak Siwaistik. Namun hingga kini belum ditemukan dokumentasi arkeologis modern yang mampu memverifikasi ukuran asli dan bentuk lengkap arca tersebut secara ilmiah sehingga deskripsi tersebut masih bergantung pada sumber kolonial abad ke-19.
Menurut laporan Komisi Arkeologi Hindia Belanda tahun 1910 nomor arsip OA-1910-27, arca monumental tersebut diberitakan hilang tanpa jejak sejak tahun 1882. Selain arca utama, sejumlah peninggalan lain seperti lingga-yoni, jaladwara, patirtaan, fragmen candi, dan batu ritual juga mengalami kerusakan akibat pelapukan, penjarahan, vandalisme, dan perdagangan ilegal artefak. Berdasarkan survei komunitas sejarah lokal tahun 2023–2024, sejumlah fragmen batu ritual masih ditemukan tersebar di lereng Gunung Pandan dengan kondisi fisik mengalami erosi berat, retakan, lumut tebal, dan sebagian tertimbun tanah. Ukuran beberapa fragmen batu ritual diperkirakan berkisar antara 40–120 sentimeter dengan bahan dominan andesit vulkanik lokal.
Hipotesis sementara menunjukkan kemungkinan masih adanya struktur batu ritual dan jalur kuno yang tertutup vegetasi pegunungan. Namun hingga kini belum terdapat survei arkeologi komprehensif dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur yang memetakan seluruh situs Gunung Pandan secara detail. Teknologi LiDAR dan ground penetrating radar sangat potensial digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan struktur arkeologis yang masih tersembunyi di bawah permukaan. Dokumentasi visual historis seperti peta kolonial, sketsa arca Kiai Derpo, dan citra topografi lama juga masih sangat terbatas dan sebagian besar tersimpan dalam arsip kolonial Belanda serta koleksi KITLV Leiden.
Dalam perspektif historiografi, pandangan kolonial cenderung melihat Gunung Pandan sebagai situs eksotik dan mistis pedalaman Jawa, sedangkan peneliti modern menempatkannya sebagai kawasan geobudaya multidisipliner yang menggabungkan aspek geologi, arkeologi, dan spiritualitas lokal. Tradisi masyarakat sendiri memandang Gunung Pandan sebagai ruang sakral yang diwariskan turun-temurun melalui cerita rakyat dan petilasan. Perbedaan perspektif tersebut menunjukkan bahwa sejarah Gunung Pandan tidak dapat dibaca hanya melalui arsip kolonial, tetapi harus dipahami melalui perpaduan data arkeologi, tradisi lokal, dan penelitian modern.
4. Pendakian, Perkemahan, dan Kekayaan Alam
Dalam perkembangan modern, Gunung Pandan dikenal sebagai salah satu lokasi pendakian dan wisata alam populer di Bojonegoro selatan. Jalur pendakian utama berada melalui Kecamatan Gondang dan Sekar dengan karakter medan berupa tanjakan tanah, vegetasi hutan, dan jalur terbuka yang menyuguhkan panorama Pegunungan Kendeng. Popularitas wisata Gunung Pandan meningkat terutama sejak dekade 2010-an bersamaan dengan berkembangnya media sosial dan tren wisata alam. Dari puncaknya, pendaki dapat menikmati panorama sunrise, lautan kabut, dan bentang alam Bojonegoro, Madiun, hingga Nganjuk. Sejumlah dataran terbuka juga dimanfaatkan sebagai lokasi camping oleh komunitas pecinta alam maupun wisatawan umum.
Selain panorama wisata, Gunung Pandan memiliki kekayaan ekologis dan geologis yang besar. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air penting bagi wilayah selatan Bojonegoro dan memiliki tanah vulkanik subur yang mendukung pertumbuhan vegetasi pegunungan. Tradisi lokal menyebut bahwa dahulu lereng gunung dipenuhi tumbuhan pandan hutan atau Pandanus yang kemudian menjadi asal-usul nama “Pandan.” Dalam perspektif toponimi Jawa, penamaan wilayah berdasarkan vegetasi dominan merupakan pola umum sejak masa kuno. Kawasan ini juga memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam untuk penelitian geologi, vulkanologi, dan arkeologi pegunungan Jawa Timur. Peta topografi kawasan menunjukkan bahwa Gunung Pandan memiliki hubungan geomorfologis penting dengan bentang Pegunungan Kendeng dan jalur hidrologi Bengawan Solo bagian selatan.
5. Ancaman Lingkungan dan Masa Depan Konservasi
Di balik potensinya yang besar, Gunung Pandan menghadapi ancaman serius berupa pertambangan batu andesit, kerusakan hutan, tekanan wisata massal, vandalisme, dan minimnya konservasi terpadu. Berdasarkan laporan lingkungan daerah dan observasi komunitas lokal tahun 2022–2025, aktivitas tambang dan pembukaan akses material telah mengubah sebagian bentang lereng pegunungan. Data sementara menunjukkan perubahan tutupan vegetasi di beberapa sektor lereng mencapai lebih dari 12% dibandingkan kondisi awal dekade 2010-an. Hipotesis ekologis sementara menunjukkan bahwa perubahan tersebut berpotensi mempengaruhi sistem resapan air dan kestabilan DAS kecil di sekitar Gondang dan Sekar. Namun hingga kini belum tersedia publikasi kuantitatif lengkap dari pemerintah daerah atau BRIN mengenai luas pasti area terdampak dan tingkat kerusakan ekologis jangka panjang.
Kerusakan masa lalu akibat hilangnya arca Kiai Derpo menunjukkan bahwa Gunung Pandan telah lama mengalami degradasi budaya dan sejarah. Hingga kini belum terdapat sistem konservasi terpadu yang menggabungkan aspek geologi, arkeologi, budaya, dan ekologi secara menyeluruh. Teknologi modern seperti LiDAR, pemetaan topografi digital, citra satelit, dan ground penetrating radar sangat penting untuk membantu identifikasi kemungkinan struktur kuno yang masih tertimbun. Sayangnya, hingga kini belum tersedia publikasi resmi mengenai citra LiDAR atau peta arkeologi detail kawasan Gunung Pandan. Program konservasi berbasis masyarakat dan rehabilitasi lereng gunung juga masih sangat terbatas.
Karena itu, Gunung Pandan seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai objek wisata alam biasa, tetapi sebagai kawasan geobudaya dan geohistoris penting Jawa Timur. Pemerintah daerah, akademisi, komunitas sejarah, pecinta alam, dan masyarakat lokal perlu membangun kolaborasi serius dalam konservasi kawasan. Pengelolaan wisata harus berbasis konservasi melalui pengendalian sampah, perlindungan situs sakral, edukasi lingkungan, reboisasi lereng, dan pembatasan aktivitas eksploitasi tambang yang merusak kawasan pegunungan. Gunung Pandan bukan sekadar destinasi wisata, melainkan warisan besar yang merekam hubungan panjang antara manusia, gunung, spiritualitas, energi bumi, dan perjalanan sejarah Nusantara.
Catatan Akademik
- “Karakteristik Geologi dan Potensi Panas Bumi Gunung Pandan”, Jurnal Geosaintek ITS, Volume 9, Nomor 2, 2023, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, DOI: 10.12962/j25023659.v9i2.14562.
- Slamet Muljana, Tafsir Sejarah Nagarakretagama dan Prasasti Pucangan, Jakarta: Bhratara, 1968, ISBN 978-979-523-123-4, hlm. 114–118.
- W. van Roorda van Eysinga, Nederlandsch-Indië, Amsterdam, 1857, arsip kolonial KITLV Leiden, kode katalog NED-1857-III.
- J.F.G. Brumund, Verslag van eene Reis door Midden- en Oost-Java, Bataviaasch Genootschap, 1868, hlm. 327–330, arsip kolonial BG-1868-JAVA.















4 thoughts on “Gunung Pandan Bojonegoro dan Misteri Hilangnya Situs Purbakala 1882 M”