Geger Sepehi 1812, Kekalahan Yogyakarta Dan Musnahnya Manuskrip Peradaban Jawa
Table of Contents
ToggleKesultanan Yogyakarta Menjelang Geger Sepehi
YOGYAKARTA – Pada awal abad ke-19, Kesultanan Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh di Jawa. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak hanya berfungsi sebagai istana raja, melainkan juga menjadi pusat pemerintahan, pengendali wilayah agraria, pusat kebudayaan Jawa-Islam, serta simbol legitimasi politik keturunan Mataram Islam. Wilayah kekuasaan Yogyakarta mencakup daerah-daerah strategis di Jawa bagian tengah dan timur, termasuk Kedu, Jipang, Japan, Grobogan, sebagian Pacitan, dan kawasan agraria subur yang menjadi sumber ekonomi utama Kesultanan.
Struktur kekuasaan kerajaan ditopang oleh jaringan bupati, bangsawan, prajurit keraton, dan elite keagamaan yang masih memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat Jawa. Penguasa Yogyakarta saat itu adalah Hamengkubuwono II, sosok yang dikenal keras, anti-intervensi kolonial, dan berupaya mempertahankan kemandirian politik Mataram. Setelah sebelumnya dipaksa turun oleh pemerintahan kolonial Belanda-Prancis di bawah Daendels, Hamengkubuwono II kembali naik takhta pada 1811 setelah Inggris mengambil alih Jawa dari tangan Belanda. Namun posisi Kesultanan saat itu berada dalam tekanan besar akibat konflik internal dinasti, campur tangan kolonial, dan perebutan pengaruh di lingkungan keraton.
Penyebab utama Geger Sepehi berasal dari meningkatnya ketegangan antara pemerintah kolonial Inggris di Jawa dengan Hamengkubuwono II. Thomas Stamford Raffles menilai Sultan terlalu independen dan berpotensi mengancam stabilitas kekuasaan Inggris di Jawa. Pemerintah kolonial menuduh pihak keraton menolak tunduk terhadap kebijakan Inggris, memperkuat kekuatan militer Kesultanan, membangun fasilitas persenjataan, serta menjalin komunikasi politik yang dianggap anti-Inggris. Di sisi lain, Hamengkubuwono II memandang Inggris tidak berbeda dengan Belanda, yakni kekuatan asing yang berusaha mengurangi kedaulatan Mataram melalui tekanan politik dan perjanjian yang merugikan kerajaan. Secara lebih luas, Inggris ingin menghancurkan pusat kekuasaan Jawa di Yogyakarta yang masih mandiri, mengendalikan struktur politik kerajaan, menguasai ekonomi agraria Jawa, dan menempatkan Yogyakarta di bawah kendali kolonial langsung.
Konflik menuju Geger Sepehi sebenarnya telah dimulai sejak masa perlawanan Ronggo Prawirodirjo III pada 1810. Ronggo Prawirodirjo III merupakan Bupati Madiun sekaligus Bupati Wedana Mancanegara Wetan yang sangat loyal kepada Hamengkubuwono II dan menolak campur tangan kolonial Belanda-Prancis di bawah Daendels. Ia melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan kolonial sebelum akhirnya gugur di Sekaran, Bojonegoro, pada 17 Desember 1810. Gugurnya Ronggo menjadi pukulan besar bagi Kesultanan Yogyakarta karena Hamengkubuwono II kehilangan salah satu panglima regional terkuat dan pendukung militernya yang paling loyal. Dalam banyak pembacaan historiografi modern, jatuhnya Ronggo dipandang sebagai pembuka jalan menuju kehancuran Yogyakarta dalam Geger Sepehi dua tahun kemudian.
Tokoh-tokoh penting dalam peristiwa ini terdiri dari pihak Yogyakarta maupun pihak kolonial Inggris dan sekutunya. Dari pihak Kesultanan terdapat Hamengkubuwono II, Hamengkubuwono III atau Raden Mas Surojo yang kemudian diangkat Inggris sebagai Sultan baru, Raden Tumenggung Sumodiningrat sebagai panglima pertahanan keraton, Pangeran Diponegoro yang pada masa itu masih muda tetapi menjadi saksi langsung runtuhnya martabat Mataram, serta Pangeran Arya Panular dan Paku Alam I atau Pangeran Notokusumo yang kemudian memperoleh dukungan Inggris dalam pembentukan Kadipaten Pakualaman.
Dari pihak kolonial terdapat Thomas Stamford Raffles sebagai arsitek kebijakan kolonial Inggris di Jawa, Mayor General Robert Rollo Gillespie sebagai panglima penyerbuan keraton, John Crawfurd sebagai Residen Inggris di Yogyakarta, Colin Mackenzie sebagai pengumpul manuskrip dan arsip Jawa, Mangkunegara II yang membantu Inggris dengan pasukan Mangkunegaran, serta Tan Jin Sing atau K.R.T. Secadiningrat yang menjadi perantara politik dan logistik kolonial Inggris di Yogyakarta.
Kronologi Penyerbuan dan Runtuhnya Keraton Yogyakarta
Ketegangan politik mulai meningkat sejak Inggris berhasil menguasai Jawa pada Agustus–September 1811 setelah mengalahkan pemerintahan Belanda-Prancis. Pada November 1811, John Crawfurd ditempatkan sebagai Residen Inggris di Yogyakarta dan hubungannya dengan Hamengkubuwono II segera memburuk. Sepanjang Desember 1811 hingga Mei 1812, Yogyakarta memperkuat pertahanan kota dan keraton, sementara Inggris mulai menyiapkan operasi militer besar. Inggris juga melakukan komunikasi politik dengan Surakarta dan mulai mencurigai kemungkinan terjadinya pemberontakan Jawa terhadap pemerintahan kolonial. Pada 8 Juni 1812, pasukan Inggris di bawah komando Robert Gillespie bergerak dari Semarang menuju Yogyakarta.
Sepuluh hari kemudian, pada 18 Juni 1812, pasukan Inggris mulai mendekati wilayah Yogyakarta dan terjadi bentrokan awal dengan pasukan Kesultanan Yogyakarta di luar kota. Pada 19 Juni 1812, pasukan Inggris berkumpul di sekitar Benteng Vredeburg untuk mempersiapkan serangan akhir terhadap keraton. Dini hari 20 Juni 1812, sebelum fajar menyingsing, Inggris melancarkan serangan utama dengan membagi pasukan menjadi tiga kolom penyerangan: menyerang gerbang selatan, gerbang utara, dan sisi timur Baluwarti menggunakan tangga bambu untuk menembus benteng pertahanan.
Tangga-tangga tersebut disediakan melalui jaringan logistik Tan Jin Sing yang membantu operasi kolonial Inggris. Pasukan Yogyakarta memberikan perlawanan sengit menggunakan artileri dan pertahanan benteng keraton. Namun pada pagi hingga siang hari 20 Juni 1812, pasukan Inggris berhasil menembus pertahanan Baluwarti, merebut artileri keraton, dan menggempur bagian dalam kompleks istana. Dalam pertempuran tersebut Raden Tumenggung Sumodiningrat gugur, sementara Hamengkubuwono II akhirnya menyerah di dalam keraton.
Kekuatan militer Yogyakarta diperkirakan mencapai sekitar 6.000 prajurit atau lebih yang terdiri dari pasukan reguler keraton, laskar bangsawan, prajurit benteng, dan pasukan rakyat. Kesultanan juga memperkuat benteng Baluwarti, memiliki artileri, membangun fasilitas persenjataan, dan mengonsolidasikan pertahanan kota menjelang serangan Inggris. Surakarta sebenarnya menyiapkan sekitar 7.000 pasukan untuk membantu Yogyakarta, tetapi bantuan tersebut tidak pernah efektif terlibat dalam pertempuran.
Di pihak lain, Inggris membawa sekitar 1.000 serdadu Inggris dan Sepoy India yang terdiri dari Bengal Army, Madras Horse Artillery, Royal Artillery, 59th Regiment, 78th Regiment, serta sekitar 500 pasukan Mangkunegaran. Keunggulan Inggris terletak pada disiplin militer, pengalaman tempur, penggunaan artileri modern, strategi pengepungan, dan koordinasi serangan yang jauh lebih baik dibanding pasukan Kesultanan.
Korban di kedua belah pihak cukup besar. Dari pihak Inggris tercatat sekitar 23 tentara tewas dan 76 lainnya mengalami luka-luka, termasuk Robert Gillespie yang tertembak di bagian lengan kiri. Sementara itu, korban dari pihak Yogyakarta diperkirakan mencapai ratusan orang. Banyak prajurit gugur di sekitar gerbang keraton, bastion Baluwarti, dan area pertahanan utama. Jumlah pasti korban Yogyakarta tidak pernah tercatat secara akurat dalam arsip kolonial maupun sumber dari Kesultanan Yogyakarta.
Setelah keraton jatuh, Hamengkubuwono II ditangkap oleh Inggris, keris pribadinya disita, dan pada Juli 1812 ia diasingkan ke Penang bersama dua putranya. Inggris kemudian mengangkat Hamengkubuwono III sebagai Sultan baru di bawah pengawasan kolonial. Pangeran Notokusumo memperoleh dukungan kolonial dan kemudian diangkat sebagai Paku Alam I dalam pembentukan Kadipaten Pakualaman. Peristiwa ini menandai berakhirnya sebagian besar kemandirian politik Yogyakarta sekaligus memperlihatkan strategi kolonial Inggris memecah kekuatan Mataram menjadi unit-unit politik yang lebih kecil dan mudah dikendalikan.
Penjarahan Keraton dan Dampak Pasca Geger Sepehi
Kemenangan Inggris diikuti penjarahan besar-besaran terhadap Keraton Yogyakarta yang berlangsung selama beberapa hari. Menurut penelitian Peter Carey dan berbagai catatan kolonial, nilai rampasan mencapai lebih dari 850.000 rixdollar. Harta yang dirampas meliputi emas, perak, berlian, pusaka, keris bertatahkan permata, gamelan, perhiasan bangsawan, dan regalia kerajaan yang menjadi simbol legitimasi kekuasaan Mataram. Sebagian besar emas, perak, dan batu permata kemudian dibagi sebagai hadiah perang bagi perwira dan tentara Inggris sesuai tradisi militer kolonial saat itu.
Banyak benda berharga dilebur, dijual, atau berpindah ke koleksi pribadi pejabat kolonial di India Britania dan Inggris sehingga jejaknya hilang dari catatan sejarah Jawa. Regalia kerajaan dan pusaka-pusaka penting sebagian dijadikan trofi kemenangan imperial oleh pejabat kolonial karena benda-benda tersebut dipandang sebagai simbol jatuhnya martabat politik Mataram. Dalam tradisi Jawa, pusaka kerajaan bukan sekadar barang berharga, melainkan lambang legitimasi kosmologis kekuasaan raja. Karena itu, perampasan pusaka memiliki dampak psikologis dan politik yang sangat besar bagi Kesultanan Yogyakarta.
Selain harta benda, Inggris juga merampas babad, arsip pemerintahan, manuskrip Jawa, teks sastra, dokumen diplomatik, dan silsilah kerajaan. Banyak manuskrip kemudian dibawa ke British Museum, British Library, India Office Records, dan Mackenzie Collection. Sebagian besar naskah tersebut digunakan sebagai sumber penelitian kolonial mengenai Jawa pada abad ke-19, termasuk dalam penyusunan The History of Java karya Thomas Stamford Raffles. Dalam perspektif historiografi modern, peristiwa ini bukan sekadar pencurian benda budaya, melainkan pengambilalihan memori dan pengetahuan suatu peradaban. Inggris tidak hanya menjarah kekayaan material Yogyakarta, tetapi juga memindahkan otoritas penafsiran sejarah Jawa ke tangan kolonial. Dalam catatan Jawa disebutkan bahwa penjarahan berlangsung lebih dari empat hari dan menyebabkan kerusakan besar terhadap struktur simbolik Kesultanan.
Pasca Geger Sepehi, Yogyakarta mengalami perubahan besar dalam bidang politik, militer, wilayah, dan kebudayaan. Kesultanan kehilangan sebagian besar kemandiriannya karena Inggris mulai mengontrol suksesi kerajaan dan membatasi kekuasaan Sultan. Yogyakarta juga kehilangan banyak wilayah strategis dan harus menerima pengurangan pengaruh politik di Jawa. Dalam bidang militer, pasukan Kesultanan dibatasi dan banyak prajurit dibubarkan, sebagian bahkan berubah menjadi laskar liar atau kelompok perampok akibat hilangnya struktur komando lama. Dalam bidang budaya dan intelektual, Yogyakarta kehilangan manuskrip, arsip, pusaka, dan sebagian memori sejarah kerajaan yang selama berabad-abad menjadi fondasi identitas Mataram. Peristiwa ini menjadi salah satu trauma terbesar dalam sejarah Jawa dan meninggalkan luka panjang yang kelak ikut membentuk lahirnya perang besar di Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro.
















3 thoughts on “Geger Sepehi 1812, Kekalahan Yogyakarta Dan Musnahnya Manuskrip Peradaban Jawa”