
KLINO – Penyebutan Kedaton Klino yang hidup di tengah masyarakat Desa Klino, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, merupakan bentuk penamaan lokal yang sarat makna, namun menuntut kehati-hatian ketika ditempatkan dalam kerangka keilmuan sejarah dan arkeologi. Dalam kajian akademik, lokasi ini lebih tepat dipahami sebagai Punden Kedaton, sebuah situs yang berada di lereng Gunung Pandan dan menunjukkan jejak aktivitas manusia masa lampau tanpa bukti konklusif sebagai pusat kekuasaan formal. Istilah “kedaton” dalam tradisi Jawa tidak selalu merujuk pada istana administratif, tetapi dapat pula menunjuk pada ruang simbolik atau kawasan dengan fungsi spiritual tertentu.
Lokasi Desa Klino Kecamatan Sekar
Desa Klino sendiri berada di kawasan perbukitan selatan Bojonegoro dengan ketinggian sekitar 400–700 mdpl, berbatasan secara geografis dengan wilayah Kabupaten Madiun dan Nganjuk. Posisi ini menjadikannya bagian dari zona “atas angin” yang secara historis sering menjadi jalur lintasan sekaligus ruang peralihan antara pusat kekuasaan dan wilayah spiritual. Akses menuju Klino dari pusat Bojonegoro melalui jalur Dander–Temayang–Gondang–Sekar menunjukkan karakter perjalanan yang menanjak dan berkelok, mencerminkan posisi geografisnya yang relatif terpencil namun strategis dalam konteks lanskap budaya.
Dalam perspektif arkeologi lanskap, lokasi seperti ini sejak lama dikaitkan dengan aktivitas spiritual. Hal ini sejalan dengan pandangan R. Soekmono:
“Tempat-tempat di pegunungan sering dipilih sebagai lokasi kegiatan keagamaan karena dianggap lebih dekat dengan dunia para dewa.”
— R. Soekmono, 1973, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia
Temuan Artefak Bersejarah
Temuan material di kawasan Kedaton Klino berupa batu andesit, struktur batu, dan komponen jaladwara menunjukkan adanya aktivitas manusia yang terorganisir. Dalam kajian arkeologi Jawa Timur, penggunaan batu andesit berkembang kuat pada periode Hindu-Buddha, sebagaimana dijelaskan oleh Slamet Muljana:
“Bangunan keagamaan pada masa Jawa Timur umumnya menggunakan batu andesit sebagai bahan utama konstruksi.”
— Slamet Muljana, 1979
Lebih lanjut, keberadaan jaladwara mengindikasikan fungsi ritual yang berkaitan dengan air suci, sebagaimana dijelaskan dalam publikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia:
“Jaladwara merupakan bagian penting dalam struktur petirtaan yang berfungsi sebagai saluran air dalam ritual penyucian.”
— Kemendikbud RI, 2017
Peripheral Sacred Landscape
Namun, untuk memahami Kedaton Klino secara lebih dalam, penting untuk menempatkannya dalam konteks regional yang lebih luas, khususnya dengan keberadaan Prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan di wilayah Nganjuk, tidak jauh dari Klino. Prasasti ini dikeluarkan oleh Mpu Sindok pada tahun 859 Saka (937 M), yang merupakan bukti kuat keberadaan struktur politik dan religius di kawasan Jawa Timur bagian barat pada abad ke-10.
Isi prasasti tersebut secara eksplisit menyebutkan kebijakan raja terkait wilayah dan bangunan suci:
“Raja Pu Sindok telah memerintahkan agar tanah sawah di Anjukladang dijadikan sima dan dipersembahkan kepada bhatara di sang hyang prasada kabhaktyan.”
— Prasasti Anjuk Ladang, 937 M
Prasasti ini juga menegaskan adanya pembangunan bangunan suci sebagai bentuk legitimasi kekuasaan dan penghormatan terhadap jasa masyarakat setempat:
“Prasasti ini menandai adanya bangunan suci sebagai tugu kemenangan (jayastambha) yang kemudian digantikan oleh candi.”
— Analisis J.G. de Casparis dalam kajian prasasti
Lebih jauh lagi, dalam interpretasi epigrafi disebutkan istilah penting yang relevan dengan pembahasan Kedaton Klino:
“Kadatwan Mdaŋ i Bhûmi Matarâm” yang berarti “kedaton (istana) Medang di tanah Mataram.”
Kata “kadatwan” di sini memiliki akar yang sama dengan istilah “kedaton”, yang memperkuat bahwa konsep ruang pusat atau ruang penting sudah dikenal dalam sistem politik dan budaya Jawa sejak abad ke-10.
Berdasarkan data ini, dapat ditarik satu kesimpulan penting: kawasan Nganjuk dan sekitarnya pada abad ke-10 bukanlah wilayah kosong, melainkan bagian dari jaringan kekuasaan dan religius Medang Timur. Kedekatan geografis antara Nganjuk (Anjuk Ladang) dan Klino membuka kemungkinan bahwa wilayah Klino berada dalam orbit pengaruh budaya dan politik tersebut, meskipun tidak disebut secara langsung dalam prasasti.
Namun, perlu ditegaskan secara ilmiah bahwa hingga saat ini tidak ditemukan bukti langsung yang mengaitkan Kedaton Klino dengan aktivitas spesifik pada masa Kerajaan Medang. Tidak adanya prasasti, arca, atau struktur monumental yang khas abad ke-10 menunjukkan bahwa jika pun Klino sudah digunakan pada masa itu, fungsinya kemungkinan bersifat sekunder, seperti ruang pertapaan atau kawasan sakral pinggiran.
Dalam konteks ini, konsep “peripheral sacred landscape” menjadi relevan, yaitu wilayah di luar pusat kekuasaan yang tetap memiliki fungsi spiritual penting. Klino, dengan posisi di lereng gunung dan jauh dari pusat administratif, lebih sesuai dengan pola ini dibandingkan sebagai pusat pemerintahan.
Dari sisi kronologi, pendekatan tipologi menunjukkan bahwa Kedaton Klino kemungkinan memiliki lapisan sejarah yang panjang. Struktur punden dan temu gelang mengindikasikan kemungkinan aktivitas sejak masa megalitik, sementara penggunaan batu andesit dan jaladwara menunjukkan perkembangan pada periode klasik Jawa, terutama antara abad ke-10 hingga ke-15 Masehi. Fase terakhir ini sangat kuat terkait dengan pola pemanfaatan ruang sakral pada masa Kerajaan Majapahit, ketika banyak aktivitas spiritual berkembang di wilayah pegunungan.
Dengan demikian, Kedaton Klino tidak dapat dipahami sebagai situs tunggal dalam satu periode, melainkan sebagai ruang yang berkembang secara bertahap dalam lintasan sejarah panjang. Keberadaan Prasasti Anjuk Ladang memberikan konteks penting bahwa wilayah ini telah aktif sejak abad ke-10, namun karakter Kedaton Klino sendiri lebih mencerminkan fungsi sakral yang berkembang kuat pada periode setelahnya.
Dalam konteks kekinian, posisi geografis Desa Klino yang berada di dataran tinggi, berada di jalur lintas perbukitan, serta memiliki keterkaitan historis dengan kawasan Anjuk Ladang, memberikan potensi besar dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro. Integrasi antara situs Kedaton, lanskap Gunung Pandan, serta narasi sejarah berbasis prasasti menjadikan Klino memiliki daya tarik yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki nilai historis regional yang kuat.
Pada akhirnya, Kedaton Klino harus dipahami bukan sebagai keraton dalam pengertian formal, melainkan sebagai bagian dari lanskap budaya yang lebih luas, yang menghubungkan masa megalitik, Medang Timur, hingga Majapahit dalam satu ruang yang sama. Dengan pendekatan ilmiah yang konsisten, situs ini berpotensi menjadi salah satu kunci dalam memahami dinamika sejarah kawasan selatan Jawa Timur yang selama ini masih minim kajian mendalam.












