Tuban 1309, Membuka Kunci Rahasia Sejarah Adipati Ranggalawe

Table of Contents
ToggleBangsawan Besar Tuban dan Berdirinya Majapahit
Akhir abad ke-13 menjadi masa penuh pergolakan dalam sejarah Jawa Timur. Setelah Keruntuhan Singhasari akibat serangan Jayakatwang, muncul pertarungan besar untuk menentukan kekuasaan baru di tanah Jawa. Dari pergolakan itulah lahir Majapahit yang kemudian berkembang menjadi salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Akan tetapi, berdirinya Majapahit bukan hanya hasil kekuatan satu raja atau satu istana. Kerajaan tersebut dibangun melalui dukungan banyak bangsawan daerah yang memiliki wilayah, pasukan, dan pengaruh besar di pesisir maupun pedalaman Jawa Timur.
Di antara tokoh penting dalam masa pergolakan itu, Ranggalawe menjadi salah satu nama yang paling menonjol sekaligus paling diperdebatkan dalam sejarah Jawa. Dalam penulisan sejarah resmi kerajaan, ia lebih sering digambarkan sebagai bangsawan yang melawan Majapahit akibat kecewa terhadap pengangkatan Nambi sebagai Mahapatih. Kisah tersebut terutama berasal dari Pararaton yang selama berabad-abad menjadi sumber utama mengenai pergolakan awal Majapahit.
Akan tetapi, para ahli sejarah seperti C.C. Berg serta Theodore G. Th. Pigeaud sejak lama mengingatkan bahwa naskah istana Jawa tidak sepenuhnya dapat dipahami sebagai catatan kejadian murni. Banyak bagian dalam naskah tersebut disusun untuk menguatkan pengesahan kuasa kerajaan yang sedang memerintah. Karena itu, kisah mengenai Ranggalawe perlu dibaca bersama sumber lain seperti Kidung Ranggalawe, Prasasti Kudadu, dan Nagarakretagama agar gambaran sejarahnya menjadi lebih utuh.
Ranggalawe bukan bangsawan kecil tanpa pengaruh. Ia berasal dari Tuban, bandar laut penting di pesisir utara Jawa yang sejak abad ke-13 berkembang menjadi pusat perdagangan besar. Letak Tuban di jalur perdagangan Laut Jawa menjadikannya tempat singgah saudagar Arab, Persia, Gujarat, Tiongkok, dan Asia Tenggara. Keadaan ini membuat Tuban bukan sekadar daerah bawahan kerajaan pedalaman, melainkan bandar niaga yang memiliki kekuatan ekonomi dan hubungan antarbangsa sangat besar.
Dalam tradisi masyarakat Tuban, Ranggalawe sering dihubungkan dengan garis keturunan Kyai Ageng Papringan atau Arya Dandang Wacana yang dipercaya sebagai pembuka Alas Papringan sekaligus perintis kekuasaan awal Tuban. Kisah tersebut hidup dalam Babad Tuban dan diwariskan turun-temurun dalam ingatan masyarakat pesisir utara Jawa. Walaupun hubungan keturunan itu belum dapat dibuktikan sepenuhnya melalui sumber sezaman, keberadaan kisah tersebut memperlihatkan bahwa keluarga Tuban memiliki pengakuan kuat di daerahnya jauh sebelum Majapahit mencapai masa kejayaan.
Kedudukan politik Tuban semakin besar ketika terhubung dengan Arya Wiraraja, bangsawan Madura yang berperan penting dalam berdirinya Majapahit. Setelah runtuhnya Singhasari, Arya Wiraraja membantu Raden Wijaya menyusun siasat untuk merebut kembali kekuasaan. Peran Arya Wiraraja bahkan tercatat dalam Prasasti Kudadu yang menjelaskan pelarian Raden Wijaya dan bantuan para kepala daerah terhadap dirinya.
Prasasti tersebut menjadi bukti penting bahwa berdirinya Majapahit bukan hanya hasil kekuatan pusat, melainkan juga hasil dukungan para bangsawan daerah yang memiliki wilayah dan pasukan sendiri. Sebagai balas jasa, Arya Wiraraja memperoleh wilayah luas di Jawa Timur bagian timur, termasuk Lamajang dan sejumlah daerah penting lainnya. Keadaan ini melahirkan bentuk kuasa setengah mandiri dalam Majapahit awal, ketika para bangsawan pendukung kerajaan masih memiliki pengaruh besar di wilayah masing-masing.
Tanah Merah dan Gugurnya Prajurit Setia Tuban
Selama pemerintahan Raden Wijaya antara 1293 hingga 1309, hubungan antara pusat kerajaan dan bangsawan daerah masih berjalan cukup seimbang. Keadaan tersebut terutama disebabkan oleh hubungan pribadi antara pendiri Majapahit dan para pendukungnya. Akan tetapi, setelah Jayanegara naik takhta pada 1309, keadaan politik mulai berubah.
Sebagai generasi kedua dinasti Rajasa, Jayanegara berkepentingan memperkuat pemusatan kuasa kerajaan. Bangsawan daerah yang memiliki kekuatan perang dan kekayaan besar mulai dipandang sebagai ancaman terhadap kestabilan kerajaan. Dalam tata politik Jawa kuno, keadaan semacam ini sangat umum terjadi. Ketika kerajaan mulai kuat, pusat kuasa biasanya berusaha mengurangi pengaruh para bangsawan yang sebelumnya ikut mendirikan negara.
Dalam keadaan inilah pertentangan yang melibatkan Ranggalawe berkembang menjadi perang terbuka. Pararaton menjelaskan pertentangan tersebut sebagai akibat kekecewaan terhadap pengangkatan Nambi sebagai Mahapatih. Akan tetapi, penjelasan tersebut terasa terlalu sederhana apabila dibandingkan dengan besarnya kedudukan politik Ranggalawe. Perselisihan jabatan saja sulit menjelaskan mengapa pertentangan tersebut melibatkan pasukan besar dan menimbulkan pertumpahan darah besar.
Nama Mahapati Halayudha juga sering muncul dalam sumber Jawa sebagai tokoh siasat istana. Dalam tradisi Jawa, Halayudha digambarkan berperan dalam mendorong pertentangan antara Ranggalawe, Nambi, dan kelompok bangsawan besar lainnya. Walaupun kisah tersebut tetap harus dibaca hati-hati karena bercampur unsur sastra dan politik istana, pola pertentangan itu memperlihatkan adanya usaha melemahkan jaringan bangsawan lama demi memperkuat kuasa pusat kerajaan.
Pertempuran besar kemudian terjadi di Tanah Merah. Dalam berbagai kisah Jawa, tempat ini dikenang sebagai medan berdarah tempat gugurnya Ranggalawe dan para prajurit setianya. Nama Tanah Merah dalam ingatan masyarakat Jawa Timur kemudian berkaitan dengan pertumpahan darah dan perang besar pada masa awal Majapahit.
Menurut tradisi masyarakat Tuban, Tanah Merah bukan sekadar nama wilayah biasa, melainkan tempat gugurnya Ranggalawe dan pasukan setianya dalam perang melawan kuasa pusat Majapahit. Dalam ingatan turun-temurun masyarakat pesisir, tanah di kawasan tersebut dipercaya berubah merah akibat darah para prajurit yang tumpah dalam pertempuran besar itu. Kepercayaan tersebut hidup kuat dalam cerita lisan masyarakat Tuban dan menjadi bagian penting dari ingatan sejarah daerah hingga sekarang.
Bagi masyarakat pesisir Tuban, perang tersebut bukan sekadar perebutan jabatan istana, melainkan pertarungan mempertahankan kehormatan daerah dan kedudukan bangsawan pesisir terhadap pemusatan kuasa kerajaan. Karena itu, Ranggalawe dalam ingatan rakyat lebih sering dikenang sebagai bangsawan pemberani yang gugur bersama para prajurit setianya.
Kepercayaan mengenai tanah yang berubah merah akibat darah pasukan yang gugur memperlihatkan kuatnya ingatan bersama masyarakat Jawa terhadap suatu kejadian besar. Dalam banyak tradisi Jawa kuno, nama sebuah daerah sering berkaitan dengan peperangan, bencana, atau tokoh penting yang pernah hidup di wilayah tersebut. Tanah Merah kemudian menjadi lambang luka sejarah masyarakat Tuban terhadap gugurnya bangsawan dan prajurit yang mereka anggap sebagai pelindung daerah pesisir.
Dalam Kidung Ranggalawe, Ranggalawe ditampilkan bukan sekadar penentang kerajaan, melainkan bangsawan pemberani yang bertarung hingga akhir demi kehormatan dan kesetiaannya. Berbeda dengan Pararaton yang lebih berpihak kepada pusat kerajaan, Kidung Ranggalawe memberikan gambaran lebih manusiawi mengenai tokoh tersebut.
Gugurnya Ranggalawe di Tanah Merah bukan hanya menandai kekalahan seorang bangsawan pesisir, tetapi juga menjadi penanda awal melemahnya kekuatan bangsawan daerah dalam susunan Majapahit. Setelah kejadian tersebut, satu per satu kelompok bangsawan besar pendukung awal Majapahit mulai disingkirkan atau dilemahkan.
Pengaburan Sejarah Ranggalawe dalam Majapahit
Pemberontakan Nambi di Lamajang beberapa waktu kemudian memperlihatkan bahwa ketegangan antara pusat kerajaan dan jaringan keturunan Arya Wiraraja belum benar-benar selesai. Penumpasan terhadap kelompok tersebut secara bertahap memperkuat kuasa pusat Majapahit sekaligus mengurangi pengaruh bangsawan setengah mandiri di Jawa Timur bagian timur.
Dalam sudut pandang sejarah politik, keadaan ini merupakan bagian dari pembentukan negara berkuasa tunggal di Jawa abad ke-14. Namun pada saat yang sama, proses tersebut juga menyebabkan pengaburan terhadap peran para bangsawan pesisir yang sebenarnya memiliki andil besar dalam berdirinya Majapahit.
Salah satu hal paling menarik dalam sejarah Ranggalawe ialah bagaimana namanya perlahan mengalami penurunan citra dalam penulisan sejarah resmi kerajaan. Ia lebih sering digambarkan sebagai penentang kerajaan dibanding sebagai tokoh besar yang pernah membantu membangun kekuatan Majapahit awal. Keadaan semacam ini umum terjadi dalam penulisan sejarah kerajaan lama. Pihak yang kalah biasanya mengalami penyederhanaan citra agar kewibawaan penguasa tetap terjaga.
Karena itu, apa yang selama ini dipahami sebagai pemberontakan Ranggalawe dapat pula dibaca sebagai pertarungan besar antara bangsawan pesisir dan usaha pemusatan kuasa kerajaan. Dari sudut pandang ini, Ranggalawe bukan sekadar tokoh pembangkang, melainkan lambang pertentangan antara pusat dan daerah pada masa awal pembentukan Majapahit.
Pengaburan sejarah Ranggalawe juga berdampak terhadap kedudukan Tuban dalam sejarah Majapahit. Padahal secara letak dan perdagangan, Tuban merupakan bandar laut utama yang sangat menentukan kekuatan ekonomi kerajaan. Kedudukan penting Tuban bahkan tercatat dalam Nagarakretagama karya Mpu Prapanca tahun 1365 yang menyebut daerah-daerah penting dalam susunan Majapahit.
Walaupun Nagarakretagama bersifat pujian terhadap kerajaan, isi naskah tersebut tetap memperlihatkan pentingnya bandar-bandar pesisir dalam hubungan perdagangan dan politik Majapahit. Hal itu menunjukkan bahwa kekuatan Majapahit tidak hanya dibangun oleh wilayah pedalaman, tetapi juga oleh bandar laut seperti Tuban yang menghubungkan Jawa dengan dunia luar.
Membaca ulang kisah gugurnya Ranggalawe di Tanah Merah berarti membuka kembali ruang kritik terhadap penulisan sejarah yang terlalu berpusat pada istana. Ia bukan sekadar penentang kerajaan, melainkan tokoh penting yang berada di tengah pertarungan besar mengenai kuasa, perdagangan, dan kedudukan bangsawan pesisir pada masa awal Majapahit.
Tanah Merah akhirnya bukan hanya menjadi tempat gugurnya Ranggalawe dan prajurit setianya. Tempat itu juga menjadi lambang perubahan besar dalam sejarah Jawa Timur, ketika kuasa pusat mulai menundukkan bangsawan daerah demi membangun kerajaan yang lebih terpusat. Dari darah yang tumpah di Tanah Merah, lahirlah Majapahit sebagai kerajaan besar yang kemudian menguasai sebagian besar Nusantara, tetapi sekaligus meninggalkan jejak kelam mengenai nasib para bangsawan pendiri yang perlahan disingkirkan dari panggung sejarah.















4 thoughts on “Tuban 1309, Membuka Kunci Rahasia Sejarah Adipati Ranggalawe”