Sejarah Desa Simo Tuban Abad 14, Kisah Keberanian Raden Purnomo Membuka Alas Walen

Table of Contents
ToggleBabat Alas Walen
Desa Simo di Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, merupakan salah satu desa tua di kawasan bantaran Bengawan Solo yang memiliki sejarah panjang sejak masa akhir era Majapahit hingga berkembangnya jaringan Islam di pesisir utara Jawa. Meskipun belum ditemukan sumber tertulis yang mencatat tahun pasti berdirinya desa, struktur historis Desa Simo dapat ditelusuri melalui tradisi lisan masyarakat, pola geografi kawasan Bengawan Solo, serta perkembangan permukiman tua di wilayah Kendeng Utara.
Sekitar abad ke-14 hingga abad ke-15, kawasan yang kini menjadi Desa Simo diperkirakan masih berupa hutan lebat yang termasuk bagian dari Hutan Walen, kawasan alami di sekitar Pegunungan Kendeng Utara yang dipenuhi pepohonan besar dan satwa liar. Pada periode tersebut, wilayah pedalaman Bengawan Solo bagian hilir mulai berkembang sebagai jalur distribusi perdagangan yang menghubungkan kawasan pedalaman dengan bandar-bandar besar pesisir utara Jawa seperti Tuban dan Gresik.
Menurut tradisi masyarakat setempat, pembukaan kawasan Desa Simo berlangsung melalui proses babat alas yang dipimpin oleh tokoh bernama Raden Purnomo atau Mbah Krapyak. Berdasarkan pola perkembangan desa-desa tua Jawa, proses pembukaan hutan ini diperkirakan terjadi pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, bertepatan dengan melemahnya kekuasaan Majapahit dan munculnya pusat-pusat kekuatan Islam di Jawa bagian utara.
Dalam budaya Jawa, babat alas bukan hanya aktivitas membuka lahan, tetapi tindakan membangun peradaban baru melalui pembentukan struktur sosial, wilayah agraris, dan legitimasi spiritual masyarakat. Sosok Mbah Krapyak dipandang sebagai tokoh pendiri desa sekaligus pelindung masyarakat awal Simo. Gelar “Raden” menunjukkan kemungkinan keterkaitan dengan lingkungan elite Jawa tradisional, sementara istilah “Krapyak” dalam budaya Jawa sering dikaitkan dengan kawasan elite atau tempat perburuan bangsawan. Dalam historiografi desa Jawa, figur pembabat alas seperti Mbah Krapyak biasanya memiliki peran ganda sebagai pemimpin sosial dan tokoh spiritual yang meletakkan fondasi awal kehidupan masyarakat desa.
Nama “Simo” berasal dari bahasa Jawa yang berarti harimau atau macan. Dalam kosmologi Jawa kuno, harimau dipandang sebagai simbol penjaga wilayah dan lambang kekuatan supranatural leluhur. Kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan danyang harimau gaib kemungkinan berasal dari tradisi spiritual Jawa pra-Islam yang berkembang sebelum abad ke-16. Tradisi tersebut kemudian berasimilasi dengan budaya Islam lokal setelah proses Islamisasi berlangsung. Keyakinan terhadap harimau penjaga desa membentuk berbagai pantangan budaya masyarakat, termasuk larangan tertentu terhadap pertunjukan Reog karena simbol kepala harimau dianggap dapat menimbulkan benturan spiritual dengan penjaga gaib desa. Dalam perspektif antropologi sejarah, kepercayaan ini memperlihatkan kesinambungan unsur animisme dan dinamisme Jawa kuno yang tetap bertahan di tengah perkembangan Islam tradisional masyarakat desa.
Islamisasi desa Simo
Memasuki abad ke-16 hingga abad ke-17, kawasan Tuban berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan dan penyebaran Islam terbesar di pesisir utara Jawa. Setelah kemunduran Majapahit, bandar Tuban menjadi jalur penting penyebaran ajaran Islam menuju wilayah pedalaman Bengawan Solo. Dalam konteks tersebut, Desa Simo mulai mengalami proses Islamisasi melalui jaringan ulama lokal, santri, dan elite masyarakat desa. Tokoh yang paling dikenal dalam perkembangan spiritual Desa Simo adalah Syekh Abdul Mukti, seorang ulama lokal yang dipercaya memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut. Berdasarkan tradisi masyarakat, Syekh Abdul Mukti diperkirakan hidup pada sekitar abad ke-17 hingga awal abad ke-18, meskipun belum ditemukan sumber primer yang mencatat tahun pasti kehidupan beliau.
Keberadaan makam Syekh Abdul Mukti dan makam Mbah Krapyak di Dusun Simo Krajan memperlihatkan pola khas Islamisasi Jawa, di mana tokoh pembabat alas dan ulama desa menjadi pusat legitimasi sosial masyarakat. Pada masa perkembangan Islam pedalaman Jawa Timur abad ke-17 dan abad ke-18, pola semacam ini berkembang luas di berbagai desa tua. Islam tidak menghapus tradisi lokal secara menyeluruh, melainkan menyatu dengan budaya penghormatan leluhur dan ritual desa yang telah ada sebelumnya. Karena itu, hingga kini masyarakat Desa Simo masih mempertahankan tradisi haul, ziarah makam, pengajian umum, dan ritual keagamaan lain sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para tokoh pendiri desa.
Dalam sejarah regional Jawa Timur, kawasan Tuban memang memiliki posisi penting dalam jaringan dakwah Islam Nusantara. Sejak abad ke-15, pelabuhan Tuban menjadi tempat pertemuan pedagang Muslim dari berbagai wilayah Asia sehingga proses Islamisasi berlangsung lebih cepat dibanding banyak kawasan pedalaman lain di Jawa. Dari bandar pesisir inilah pengaruh Islam kemudian menyebar menuju kawasan bantaran Bengawan Solo, termasuk wilayah Soko dan sekitarnya. Karena itu, keberadaan Syekh Abdul Mukti di Desa Simo dapat dipahami sebagai bagian dari proses besar penyebaran Islam di kawasan pedalaman Tuban–Bojonegoro.
Desa Simo Modern
Sejak abad ke-18 hingga abad ke-19 pada masa kolonial Belanda, kawasan Bengawan Solo berkembang semakin penting sebagai jalur distribusi hasil pertanian dan perdagangan regional. Desa-desa di sepanjang sungai memperoleh keuntungan ekonomi dari akses transportasi air yang menghubungkan pedalaman dengan kawasan pesisir utara Jawa. Desa Simo kemungkinan berkembang sebagai desa agraris penyangga distribusi hasil bumi seperti padi, kayu, dan hasil pertanian lain yang diangkut melalui jalur sungai. Bengawan Solo pada masa itu berfungsi sebagai jalur utama perdagangan tradisional sebelum berkembangnya transportasi darat modern di Jawa Timur.
Memasuki awal abad ke-20, modernisasi administrasi kolonial dan pembangunan infrastruktur mulai mengubah pola konektivitas kawasan Tuban–Bojonegoro. Meskipun demikian, Bengawan Solo tetap menjadi pusat kehidupan masyarakat Simo. Pertanian sungai, budaya sedekah bumi, dan tradisi penghormatan leluhur tetap bertahan meskipun wilayah sekitar mulai mengalami perubahan sosial akibat penetrasi ekonomi modern. Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Desa Simo berkembang mengikuti perubahan administratif Kabupaten Tuban dan pertumbuhan ekonomi kawasan Bojonegoro bagian barat. Posisi strategis desa semakin penting setelah pembangunan Jembatan Glendeng yang menghubungkan Tuban dan Bojonegoro. Infrastruktur ini pada dasarnya melanjutkan fungsi historis kawasan Simo sebagai simpul konektivitas perdagangan dan mobilitas masyarakat di sepanjang Bengawan Solo.
Hingga abad ke-21, masyarakat Desa Simo masih mempertahankan tradisi warisan leluhur seperti sedekah bumi, bersih desa, haul Mbah Krapyak, dan haul Syekh Abdul Mukti. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa sejarah Desa Simo tidak hanya hidup dalam cerita lisan, tetapi terus diwariskan melalui praktik budaya masyarakat sehari-hari. Dalam perspektif antropologi sejarah, keberlanjutan ritual desa menunjukkan kuatnya memori kolektif masyarakat terhadap identitas leluhur dan sejarah wilayah mereka. Dengan perpaduan antara tradisi babat alas, spiritualitas lokal, Islamisasi, budaya sungai, dan perkembangan ekonomi regional, Desa Simo layak dipandang sebagai salah satu miniatur lengkap peradaban desa Jawa di kawasan bantaran Bengawan Solo.















