Sejarah Desa Dander, Ditandai Berdasarkan 2 Prasasti Majapahit

Table of Contents
ToggleDander pada Masa Kerajaan Jawa Timur Kuno
Desa Dander merupakan salah satu daerah tua di kawasan Bojonegoro yang sejak lama berhubungan dengan perkembangan daerah pedalaman Jawa Timur. Dilihat dari letaknya, Dander berada di jalur yang menghubungkan daerah pertanian pedalaman dengan Bengawan Solo, sungai terbesar di Pulau Jawa yang sejak abad ke-11 menjadi jalan air penting untuk membawa hasil bumi, kayu, dan barang dagangan menuju berbagai daerah di Jawa. Pada masa Kerajaan Kadiri sekitar tahun 1042–1222 M, daerah Bojonegoro berkembang sebagai tempat penghasil bahan makanan kerajaan. Sawah, ladang, dan hutan jati menjadi sumber kehidupan masyarakat pedalaman.
Bengawan Solo membantu pengangkutan hasil panen menuju pusat pemerintahan di Jawa Timur. Ketika Kerajaan Singhasari berdiri pada tahun 1222–1292 M, hubungan daerah pedalaman dengan pusat kerajaan semakin kuat karena kerajaan memerlukan banyak bahan makanan, kayu, dan tenaga dari daerah pedalaman untuk menjaga kekuasaan. Dalam keadaan itu, daerah Bojonegoro menjadi salah satu tempat penting yang membantu kehidupan kerajaan. Walaupun nama Dander belum ditemukan dalam prasasti dari masa Kadiri dan Singhasari, daerah di sepanjang Bengawan Solo sudah lama menjadi tempat permukiman dan perdagangan sehingga Dander dapat dipandang sebagai bagian dari daerah tua Bojonegoro yang telah tumbuh sejak masa kerajaan kuno Jawa Timur.
Dander pada Masa Majapahit
Perubahan besar dalam riwayat Jawa Timur terjadi pada tahun 1293 M ketika Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit setelah mengalahkan Jayakatwang. Berdirinya Majapahit menjadi awal munculnya kerajaan besar baru di Jawa Timur yang kemudian berkembang menjadi kerajaan terbesar di Nusantara pada abad ke-14. Pada masa awal Majapahit antara tahun 1293–1309 M, kerajaan memerlukan bantuan daerah pedalaman untuk menjaga kekuatan pemerintahan.
Daerah Bojonegoro menjadi penting karena menghasilkan padi, kayu jati, dan hasil bumi lain yang diperlukan kerajaan. Jalur Bengawan Solo memudahkan pengangkutan hasil bumi menuju pusat kerajaan. Para ahli prasasti Jawa Kuna seperti J.G. de Casparis dan M.M. Sukarto menjelaskan bahwa daerah pedalaman Jawa Timur dimasukkan ke dalam kekuasaan Majapahit melalui pemberian tanah bebas pajak dan hubungan perlindungan antara raja dengan pemimpin daerah.
Hubungan Bojonegoro dengan Majapahit awal terlihat jelas melalui Prasasti Adan-adan tahun 1301 M dari masa pemerintahan Raden Wijaya. Prasasti tersebut ditemukan pada tanggal 2 Maret 1992 di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, lalu diteliti oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan. Isi prasasti menjelaskan pemberian tanah bebas pajak kepada Sri Paduka Rajarsi karena jasanya terhadap kerajaan.
Pada masa itu, tanah bebas pajak diberikan sebagai tanda penghargaan atas kesetiaan kepada raja. Prasasti Adan-adan juga menyebut beberapa desa di daerah Bojonegoro kuno seperti Tinawun, Kawengan, Jajar, Tambar, Padasan, Paran, Panjer, dan Sanda. Penyebutan desa-desa tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1301 M daerah Bojonegoro sudah memiliki kehidupan pertanian dan pemerintahan desa yang berkembang. Walaupun nama Dander belum disebut secara langsung, letak Dander berada dekat dengan daerah yang disebut dalam prasasti tersebut sehingga Dander diperkirakan termasuk bagian dari daerah pertanian yang berada di bawah pengaruh Majapahit awal.
Setelah Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 M, pemerintahan Majapahit dilanjutkan oleh Sri Jayanagara yang memerintah antara tahun 1309–1328 M. Masa pemerintahannya diwarnai berbagai pemberontakan di dalam kerajaan. Salah satu sumber penting dari masa itu ialah Prasasti Tuhanyaru tahun 1323 M yang menjelaskan pemberian penghargaan kepada orang yang berjasa menyelamatkan raja ketika terjadi pemberontakan Rakuti. Pada masa itu, daerah pedalaman seperti Bojonegoro menjadi penting karena letaknya jauh dari pusat keributan di Trowulan.
Daerah pertanian yang aman membantu kerajaan memenuhi kebutuhan bahan makanan dan menjaga ketenteraman pemerintahan. Beberapa ahli sejarah Bojonegoro memperkirakan bahwa daerah Dander berkembang sebagai salah satu daerah pertanian yang membantu kehidupan Majapahit awal, walaupun hubungan tersebut masih berupa perkiraan sejarah berdasarkan keadaan wilayah pada masa itu.
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk antara tahun 1350–1389 M, Majapahit mencapai masa kejayaan. Salah satu sumber penting dari masa itu ialah Prasasti Canggu tahun 1358 M yang menyebut bandar sungai dan tempat penyeberangan di sepanjang Bengawan Solo dan Sungai Brantas. Prasasti tersebut menunjukkan bahwa jalur sungai menjadi jalan utama perdagangan Majapahit. Hasil pertanian, kayu, dan kebutuhan kerajaan dibawa melalui sungai dari daerah pedalaman menuju pusat pemerintahan dan daerah pesisir.
Wilayah Kawengan di Bojonegoro yang juga disebut dalam Prasasti Adan-adan menunjukkan bahwa daerah Bojonegoro telah masuk ke dalam jalur perdagangan sungai Majapahit. Dalam keadaan itu, Dander kemungkinan berkembang sebagai daerah pertanian yang membantu kehidupan perdagangan di sepanjang Bengawan Solo.
Dander pada Masa Belanda hingga Masa Sekarang
Pada abad ke-19, daerah Bojonegoro mengalami perubahan besar setelah pemerintahan Belanda memperkuat kekuasaan di Jawa Timur. Setelah Perang Jawa berakhir, pemerintah Belanda memperluas pengawasan di daerah pedalaman Jawa, termasuk Bojonegoro. Pada pertengahan abad ke-19, Bojonegoro dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kayu jati terbesar di Jawa. Hutan jati di Dander dan daerah sekitarnya dimanfaatkan untuk pembangunan, pembuatan kapal, dan berbagai kebutuhan pemerintahan Belanda. Jalan-jalan pedalaman mulai diperbaiki agar pengangkutan hasil hutan dan hasil pertanian menjadi lebih mudah. Kehidupan masyarakat Dander pada masa itu masih bergantung pada sawah, ladang, dan hasil hutan.
Pada awal abad ke-20 hingga masa Indonesia sekarang, Dander berkembang menjadi salah satu daerah penting di Bojonegoro yang tetap mempertahankan kehidupan pertaniannya. Perkembangan jalan, pertumbuhan penduduk, dan perubahan pemerintahan membuat hubungan Dander dengan daerah lain semakin ramai. Walaupun mengalami perkembangan zaman, masyarakat Dander masih menjaga berbagai adat lama seperti sedekah bumi, adat panen, penghormatan terhadap sumber air, dan keberadaan punden desa.
Adat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat pedalaman Jawa masih bertahan hingga sekarang. Daerah Dander juga berada tidak jauh dari Kahyangan Api, api abadi yang sejak lama dianggap memiliki arti penting bagi masyarakat Bojonegoro. Tempat tersebut menjadi bagian dari riwayat panjang daerah pedalaman Bojonegoro. Hingga abad ke-21, Dander tetap berkembang sebagai bagian penting dari riwayat Bojonegoro dan menyimpan jejak panjang kehidupan masyarakat Jawa Timur sejak masa kerajaan kuno, masa Majapahit, pemerintahan Belanda, hingga masa Indonesia sekarang.
















3 thoughts on “Sejarah Desa Dander, Ditandai Berdasarkan 2 Prasasti Majapahit”