Pendahuluan
PRASASTI PETAK – Dalam kajian sejarah Nusantara klasik, prasasti memiliki kedudukan sangat penting sebagai sumber primer yang merekam langsung keputusan politik, struktur birokrasi, sistem hukum, kehidupan religius, hubungan sosial, dan budaya intelektual kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Berbeda dengan tradisi babad yang umumnya ditulis jauh setelah peristiwa berlangsung dan sering bercampur unsur simbolik, legitimasi dinasti, maupun konstruksi mitologis, prasasti memiliki nilai historiografis lebih tinggi karena berasal langsung dari konteks sezaman.
Oleh sebab itu, epigrafi menjadi salah satu fondasi utama dalam rekonstruksi sejarah Jawa Kuna, terutama untuk memahami periode-periode yang minim sumber naratif kontemporer. Dalam konteks sejarah Majapahit akhir, salah satu sumber primer paling penting adalah Prasasti Petak atau Prasasti Kembangsore yang bertarikh tahun Saka 1408 atau:
Masehi. Prasasti ini memiliki arti luar biasa penting dalam historiografi Majapahit karena berasal dari fase senjakala kerajaan, ketika pusat kekuasaan Jawa Timur sedang mengalami perubahan politik besar, konflik elite, dan fragmentasi dinasti. Selama berabad-abad berkembang narasi tradisional bahwa Majapahit runtuh secara mendadak akibat serangan eksternal pada akhir abad ke-15. Akan tetapi, keberadaan Prasasti Petak memperlihatkan kenyataan sejarah yang jauh lebih kompleks.
Prasasti ini menunjukkan bahwa pada tahun 1486 M Majapahit masih memiliki raja aktif, pejabat tinggi kerajaan, sistem birokrasi, hukum negara, administrasi agraria, dan budaya tulis yang tetap berjalan. Karena itu, Prasasti Petak menjadi salah satu bukti primer terpenting bahwa keruntuhan Majapahit bukan peristiwa tunggal yang berlangsung seketika, melainkan proses panjang transformasi politik yang melibatkan konflik internal kerajaan dan perubahan struktur kekuasaan di Jawa.
Prasasti Petak ditemukan di wilayah Kembangsore, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kawasan lereng Gunung Penanggungan yang sejak masa Majapahit dikenal sebagai pusat aktivitas spiritual Hindu-Buddha. Dalam kosmologi Jawa Kuna, Gunung Penanggungan dipandang sebagai representasi Mahameru, gunung suci pusat alam semesta dalam tradisi Hindu-Buddha India-Jawa. Lereng gunung tersebut dipenuhi pertapaan, petirtaan, candi kecil, jalur ritual, dan bangunan suci yang berkaitan erat dengan elite politik serta religius Majapahit akhir. Karena itu, lokasi penemuan Prasasti Petak memiliki makna simbolik penting dalam konteks legitimasi kosmis kerajaan. Secara fisik, prasasti dibuat dari batu andesit berbentuk oval dengan ukuran sekitar tinggi 1,2 meter dan lebar 1,5 meter.
Pada permukaannya dipahat aksara Jawa Kuna akhir atau Kawi pasca-klasik yang memperlihatkan karakter paleografis akhir Majapahit. Selain tulisan, prasasti juga memuat simbol-simbol sakral seperti Surya Majapahit, keris, payung songsong, yoni, ular melilit tongkat, dan sepasang tapak kaki simbolik. Kehadiran simbol-simbol tersebut menunjukkan eratnya hubungan antara kekuasaan politik, legitimasi religius, dan konsep negara sakral dalam budaya Majapahit akhir.
Pada awal abad ke-20, Prasasti Petak mulai mendapat perhatian serius dari para sarjana epigrafi Hindia Belanda. J. L. A. Brandes memasukkan prasasti ini ke dalam korpus Oud-Javaansche Oorkonden (OJO XCI), kemudian diterbitkan dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap, Deel LX, Batavia, 1913. Publikasi tersebut menjadi dasar penting bagi kajian epigrafi Majapahit akhir. Setelah itu, prasasti ini dikaji lebih lanjut oleh sejumlah sarjana seperti N. J. Krom, Damais, J. G. de Casparis, Boechari, dan Hasan Djafar.
Dalam historiografi modern, Prasasti Petak dipandang sebagai salah satu dokumen politik paling penting dari fase akhir Majapahit karena memuat informasi langsung mengenai konflik internal elite kerajaan. N. J. Krom menempatkan prasasti-prasasti akhir Majapahit sebagai sumber utama untuk memahami fragmentasi politik penghujung era Hindu-Jawa, sedangkan Hasan Djafar melihat Prasasti Petak sebagai salah satu bukti penting keberlangsungan pemerintahan Girindrawardhana setelah konflik dinasti akhir Majapahit.
Isi utama Prasasti Petak berkaitan dengan peneguhan kembali anugerah tanah sima di wilayah Petak kepada Sri Brahmaraja Ganggadhara. Akan tetapi, di balik penetapan tanah tersebut tersimpan informasi politik yang sangat penting mengenai perang saudara Majapahit akhir. Pada salah satu bagian prasasti disebutkan bahwa anugerah diberikan karena jasa Sri Brahmaraja Ganggadhara dalam membantu kemenangan melawan “Sang Munggwing Jinggan” ketika berlangsung “yudha lawaning majapait” atau perang melawan Majapahit. Frasa tersebut memiliki arti sangat besar dalam historiografi Jawa karena menunjukkan bahwa konflik besar akhir Majapahit merupakan perang internal elite kerajaan sendiri.
Bagian ini menjadi salah satu bukti primer paling penting mengenai fragmentasi dinasti Majapahit pada akhir abad ke-15. Selain penting dari sudut politik, Prasasti Petak juga memiliki nilai besar dalam kajian filologi, linguistik historis, epigrafi, paleografi, arkeologi, dan kosmologi Jawa Kuna. Struktur bahasa prasasti memperlihatkan karakter Jawa Kuna akhir yang mulai mengalami transisi menuju Jawa Pertengahan. Penggunaan istilah Sanskerta, formula astrologi, sistem kalender India, dan konsep hukum sakral menunjukkan tingginya budaya intelektual Majapahit pada masa senjakalanya. Teks prasasti juga memperlihatkan bagaimana negara Majapahit memadukan agama, hukum, astronomi, dan legitimasi politik ke dalam satu sistem kekuasaan yang utuh.
Dalam perspektif historiografi modern, Prasasti Petak memiliki posisi sangat penting karena membantu merevisi pandangan lama mengenai keruntuhan Majapahit. Historiografi tradisional dalam sejumlah babad Jawa sering menggambarkan keruntuhan Majapahit sebagai peristiwa tunggal yang dramatis. Akan tetapi, sumber primer seperti Prasasti Petak memperlihatkan gambaran sejarah yang jauh lebih kompleks. Majapahit akhir masih memiliki struktur negara, administrasi kerajaan, budaya birokrasi, budaya tulis, dan legitimasi hukum, meskipun sedang mengalami krisis politik internal yang berat.
Karena itu, Prasasti Petak menjadi salah satu kunci utama untuk memahami proses transformasi politik Jawa dari era Hindu-Buddha menuju konfigurasi kekuasaan baru pada abad ke-16. Kajian terhadap Prasasti Petak juga penting untuk memahami bagaimana kerajaan Majapahit membangun legitimasi kekuasaan melalui kosmologi Hindu-Buddha, kultus leluhur raja, hukum sakral, sistem agraria kerajaan, dan simbolisme politik. Prasasti ini memperlihatkan bahwa keputusan negara dipandang sebagai bagian dari keteraturan alam semesta sehingga pelanggaran terhadap hukum kerajaan dianggap sebagai ancaman terhadap keseimbangan kosmos.
Dalam konteks tersebut, Prasasti Petak tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi juga refleksi cara pandang masyarakat Jawa Kuna terhadap hubungan antara kekuasaan, agama, hukum, alam semesta, dan legitimasi politik. Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian terhadap Prasasti Petak menjadi sangat penting untuk memahami struktur politik Majapahit akhir, konflik dinasti abad ke-15, sistem hukum dan agraria kerajaan, budaya intelektual Jawa Kuna, serta proses panjang senjakala Majapahit menjelang berakhirnya era Hindu-Buddha klasik di Jawa Timur.
















1 thought on “Prasasti Petak 1486 M, Sumber Sejarah Utama Majapahit Terakhir”