Pangeran Pekik, Nasib Tragis Adipati Surabaya ke 11

PANGERAN PEKIK – Pembantaian, perebutan takhta, dan peperangan besar mewarnai sejarah Jawa abad ke-17, tetapi hanya sedikit tokoh yang mengalami nasib setragis Pangeran Pekik. Ia bukan seorang pemberontak yang kalah di medan perang, bukan pula penguasa yang tumbang karena ambisi pribadi. Sebaliknya, ia adalah bangsawan Surabaya yang memilih berdamai dengan pemenangnya, mengabdikan hidupnya kepada Kesultanan Mataram, dan menjadi salah satu tokoh terpenting dalam proyek penyatuan Jawa di bawah Sultan Agung.
Namanya dikenang sebagai penakluk Giri Kedaton, pusat spiritual keturunan Sunan Giri yang selama lebih dari satu abad menjadi sumber legitimasi keagamaan dan politik bagi banyak kerajaan di Nusantara. Namun ironi sejarah memperlihatkan bahwa segala jasa, kesetiaan, dan pengorbanannya justru berakhir di tangan dinasti yang pernah ia bantu mencapai puncak kejayaan.
Kisah hidup Pangeran Pekik merupakan potret besar transformasi politik Jawa pada abad ke-17, ketika dominasi kota-kota pesisir perlahan digantikan oleh hegemoni kerajaan agraris di pedalaman. Dalam perjalanan hidupnya, ia menyaksikan keruntuhan Surabaya sebagai kekuatan maritim terbesar di Jawa Timur, kebangkitan Kesultanan Mataram sebagai penguasa tunggal Pulau Jawa, jatuhnya Giri Kedaton sebagai pusat kewibawaan spiritual para wali, hingga lahirnya pemerintahan Amangkurat I yang dipenuhi kecurigaan dan kekerasan politik.
Dari seorang putra mahkota Surabaya yang kehilangan kerajaannya, menjadi menantu keluarga kerajaan Mataram, lalu menjelma sebagai panglima yang mengukuhkan legitimasi Sultan Agung atas Jawa, Pangeran Pekik akhirnya menemui nasib tragis sebagai korban intrik istana. Karena itulah namanya menempati posisi yang unik dalam historiografi Jawa: seorang penakluk yang membantu membangun kekuasaan Mataram, tetapi pada akhirnya dihancurkan oleh kekuasaan yang sama.
Table of Contents
ToggleSang Pewaris Kadipaten Surabaya
Jauh sebelum namanya dikenang sebagai penakluk Giri Kedaton, Pangeran Pekik adalah pewaris salah satu kekuatan terbesar di pesisir utara Jawa. Ia lahir pada penghujung abad ke-16, kemungkinan antara tahun 1580 hingga 1595, ketika Kadipaten Surabaya sedang menikmati masa kejayaannya sebagai pusat perdagangan dan kekuatan politik paling berpengaruh di Jawa Timur. Pada masa itu Surabaya bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan pemimpin koalisi besar kota-kota pesisir yang mengendalikan jalur perdagangan dari Selat Madura hingga Laut Jawa. Kapal-kapal dari Maluku, Makassar, Kalimantan, Malaka, hingga berbagai wilayah Asia Tenggara berlabuh di pelabuhan Surabaya, menjadikannya salah satu pusat ekonomi terpenting di Nusantara.
Pangeran Pekik merupakan putra Panembahan Jayalengkara atau Jayalengkoro, penguasa terakhir Surabaya yang memimpin kadipaten tersebut pada masa paling menentukan dalam sejarahnya. Di bawah kepemimpinan Jayalengkara, Surabaya berkembang sebagai kekuatan yang mampu menandingi pengaruh Kesultanan Mataram yang sedang tumbuh di pedalaman Jawa Tengah. Jika Mataram mewakili tradisi kerajaan agraris, maka Surabaya merupakan simbol kejayaan dunia pesisir yang kosmopolitan, terbuka terhadap perdagangan internasional, dan memiliki hubungan luas dengan jaringan Islam maritim Nusantara.
Tradisi historiografi Jawa Timur juga menempatkan keluarga penguasa Surabaya dalam lingkungan aristokrasi Islam yang memiliki hubungan dengan warisan dakwah para wali. Berbagai naskah lokal dan tradisi lisan mengaitkan Penguasa Surabaya dengan garis keturunan Sunan Ampel, meskipun rincian genealoginya masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan modern. Namun yang tidak terbantahkan adalah kenyataan bahwa keluarga penguasa Surabaya memiliki kewibawaan religius dan politik yang sangat besar di Jawa Timur. Kedudukan inilah yang kelak menjadikan Pangeran Pekik memperoleh tempat istimewa dalam lingkungan Kesultanan Mataram.
Ketika Pangeran Pekik tumbuh dewasa, Surabaya sedang berada dalam pusaran konflik besar yang akan menentukan masa depan Pulau Jawa. Pada tahun 1613, Sultan Agung naik takhta sebagai penguasa Mataram dan segera melanjutkan ambisi para pendahulunya untuk menyatukan seluruh Jawa di bawah satu kekuasaan. Program penyatuan tersebut membawa Mataram pada konfrontasi langsung dengan Surabaya yang selama beberapa dekade menjadi pemimpin kekuatan pesisir Jawa Timur.
Perang besar dimulai pada tahun 1614 ketika pasukan Mataram menyerang Wirasaba, salah satu wilayah strategis yang menjadi bagian dari jaringan kekuasaan Surabaya. Serangan ini bukan sekadar ekspedisi militer biasa, melainkan langkah awal dari strategi jangka panjang Sultan Agung untuk memutus satu per satu simpul kekuatan yang menopang hegemoni Surabaya. Bagi Mataram, Surabaya terlalu kuat untuk ditaklukkan melalui satu pertempuran besar. Karena itu Sultan Agung memilih menghancurkan sekutunya terlebih dahulu sebelum mengepung pusat kekuasaannya.
Dua tahun kemudian, pada 1616, Surabaya bersama sekutu-sekutunya berusaha melakukan serangan balasan ke wilayah barat. Namun upaya tersebut berakhir dengan kekalahan dalam pertempuran yang dalam sumber-sumber Jawa dikenal sebagai Pertempuran Siwalan atau Pajang. Kekalahan ini menjadi titik balik penting karena sejak saat itu inisiatif perang sepenuhnya berpindah ke tangan Mataram.
Antara tahun 1617 hingga 1619, Sultan Agung terus mempersempit ruang gerak Surabaya. Lasem berhasil ditaklukkan, Tuban kehilangan pengaruh politiknya, dan berbagai wilayah pesisir yang selama ini menjadi mitra Surabaya satu per satu jatuh ke bawah kekuasaan Mataram. Bersamaan dengan itu, jalur perdagangan yang menjadi sumber kemakmuran Surabaya mulai terganggu. Kota yang selama puluhan tahun hidup dari perdagangan internasional perlahan kehilangan akses terhadap jaringan ekonomi yang menopang kejayaannya.
Memasuki dekade 1620-an, strategi Mataram berubah menjadi pengepungan total. Jalur perdagangan diblokade, lahan pertanian di sekitar Surabaya dirusak, dan pasokan bahan makanan dipersulit. Tekanan tersebut semakin berat ketika pada tahun 1624 Madura berhasil ditaklukkan. Kejatuhan Madura memiliki dampak yang sangat besar karena pulau tersebut merupakan salah satu sekutu terdekat Surabaya sekaligus benteng pertahanan penting di wilayah utara. Setelah Madura jatuh, Surabaya praktis berdiri sendiri menghadapi kekuatan Mataram.
Catatan VOC menggambarkan kondisi yang sangat mengenaskan di dalam kota menjelang akhir pengepungan. Dalam laporan Daghregister disebutkan:
“Van de vele duysenden menschen zijn noch omtrent vijfhondert overgebleven.”
“Dari puluhan ribu penduduk, hanya sekitar lima ratus orang yang masih tersisa.”
Laporan tersebut menunjukkan bahwa kehancuran Surabaya bukan hanya akibat pertempuran bersenjata, tetapi juga karena kelaparan, wabah penyakit, dan runtuhnya sistem logistik yang menopang kehidupan kota. Salah satu pusat perdagangan terbesar di Nusantara perlahan berubah menjadi kota yang kehabisan tenaga untuk bertahan.
Pada tahun 1625, setelah lebih dari satu dasawarsa menghadapi tekanan militer yang terus-menerus, Surabaya akhirnya menyerah kepada Sultan Agung. Kejatuhan kota ini menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Jawa abad ke-17. Sejarawan H.J. de Graaf menilai peristiwa tersebut sebagai momen yang mengubah keseimbangan kekuatan di Jawa dengan menulis:
“Met de val van Soerabaja was het verzet van Oost-Java grotendeels gebroken.”
“Dengan jatuhnya Surabaya, perlawanan Jawa Timur pada dasarnya telah dipatahkan.”
Bagi Pangeran Pekik, tahun 1625 bukan sekadar tahun kekalahan politik. Tahun itu merupakan titik balik yang mengubah seluruh jalan hidupnya. Sebagai putra penguasa terakhir Surabaya, ia menyaksikan berakhirnya kedaulatan Penguasa yang telah membesarkannya. Dalam situasi seperti itu, banyak bangsawan biasanya memilih melanjutkan perlawanan atau mencari perlindungan di daerah lain. Namun Pangeran Pekik mengambil keputusan yang berbeda.
Ia memilih menerima kenyataan politik baru dan menempuh jalan rekonsiliasi. Keputusan tersebut menunjukkan kemampuan membaca perubahan zaman yang kelak menjadi salah satu karakter terpenting dalam hidupnya. Sultan Agung pun menyadari bahwa stabilitas Jawa Timur tidak mungkin dicapai hanya dengan kemenangan militer. Integrasi politik membutuhkan keterlibatan keluarga penguasa Surabaya yang masih dihormati masyarakat.
Karena itu, sekitar tahun 1625 hingga 1627, Sultan Agung menikahkan Pangeran Pekik dengan adik kandungnya sendiri, Ratu Pandansari atau Ratu Wandansari. Perkawinan tersebut merupakan salah satu rekonsiliasi politik paling penting dalam sejarah Jawa. Melalui pernikahan itu, darah penguasa Surabaya dipersatukan dengan darah Penguasa Mataram. Mantan pewaris kerajaan yang kalah perang kini berubah menjadi anggota keluarga inti kerajaan yang menaklukkannya.
Peristiwa tersebut menandai awal babak baru dalam kehidupan Pangeran Pekik. Dari seorang putra mahkota yang kehilangan tanah leluhurnya, ia perlahan menjelma menjadi salah satu bangsawan paling berpengaruh di lingkungan Kesultanan Mataram. Jalan rekonsiliasi yang dipilihnya setelah tahun 1625 akan membawanya menuju puncak kejayaan sebagai penakluk Giri Kedaton, sekaligus mengantarkannya pada tragedi besar yang kelak mengakhiri hidupnya di tangan Penguasa yang pernah ia bela dengan sepenuh kesetiaan.
Penaklukan Giri Kedaton
Meskipun Surabaya telah jatuh ke tangan Mataram pada tahun 1625, proyek penyatuan Jawa yang dijalankan Sultan Agung belum sepenuhnya selesai. Di pesisir utara Jawa Timur masih berdiri sebuah pusat kekuasaan yang memiliki kewibawaan jauh melampaui kerajaan-kerajaan duniawi, yaitu Giri Kedaton di Gresik. Didirikan oleh Sunan Giri pada akhir abad ke-15, Giri berkembang menjadi pusat pendidikan Islam, pusat dakwah, sekaligus sumber legitimasi politik dan keagamaan bagi banyak penguasa di Nusantara.
Selama lebih dari satu abad, para raja dan bangsawan dari Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku menghormati otoritas spiritual keturunan Sunan Giri. Dalam pandangan masyarakat Jawa, Giri bukan sekadar sebuah kadipaten atau pusat keagamaan, melainkan simbol kesinambungan warisan para wali yang menjadi fondasi Islam di Jawa.
Besarnya pengaruh Giri membuat Sultan Agung menghadapi dilema yang tidak ringan. Secara politik, keberadaan Giri sebagai pusat otoritas yang berdiri di luar kendali Mataram menjadi hambatan bagi cita-citanya menyatukan Jawa di bawah satu kekuasaan. Namun secara religius, menyerang keturunan Sunan Giri juga mengandung risiko besar.
Banyak kalangan Jawa memandang keluarga Giri sebagai pewaris kewibawaan spiritual para wali sehingga tindakan militer terhadap mereka berpotensi menimbulkan kegelisahan sosial dan keagamaan. Oleh sebab itu, penaklukan Giri tidak dapat dilakukan dengan pendekatan militer biasa. Sultan Agung membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki kemampuan memimpin perang, tetapi juga mempunyai legitimasi yang dapat diterima oleh masyarakat Jawa Timur.
Dalam konteks inilah nama Pangeran Pekik muncul sebagai pilihan utama. Sebagai putra penguasa Surabaya yang telah menjadi bagian dari keluarga inti Mataram melalui perkawinannya dengan Ratu Pandansari, Pekik memiliki kedudukan yang unik. Ia dihormati oleh masyarakat pesisir Jawa Timur, memiliki hubungan dengan tradisi Islam pesisir, dan sekaligus dipercaya oleh Sultan Agung. Faktor-faktor inilah yang menjadikannya tokoh ideal untuk memimpin ekspedisi ke Giri.
Penjelasan yang paling menarik mengenai alasan penunjukan Pangeran Pekik justru berasal dari Babad Tanah Jawi. Dalam naskah tersebut, keputusan Sultan Agung tidak dijelaskan sebagai pertimbangan militer semata, melainkan sebagai langkah yang memiliki dasar simbolik dan spiritual. Ketika membicarakan rencana penyerangan ke Giri, Sultan Agung dikisahkan berbicara kepada Ratu Pandansari:
“Kang prayoga angrusak ing Giri amung lakinira, karana padha trahing pandhita.”
“Yang pantas menaklukkan Giri hanyalah suamimu, karena sama-sama keturunan pendeta.”
Kutipan ini merupakan salah satu bagian terpenting dalam historiografi Pangeran Pekik. Melalui kalimat tersebut, Babad Tanah Jawi berusaha menjelaskan bahwa Giri tidak dapat ditaklukkan oleh sembarang panglima. Menurut logika politik Jawa yang tercermin dalam babad, Sultan Agung memerlukan seorang tokoh yang memiliki legitimasi religius untuk menghadapi keturunan Sunan Giri. Dengan demikian, penunjukan Pangeran Pekik bukan sekadar keputusan strategis, melainkan juga tindakan simbolik yang dimaksudkan untuk mempertemukan dua sumber kewibawaan besar dalam sejarah Jawa: kekuasaan politik Mataram dan otoritas spiritual warisan para wali.
Pandangan tersebut sejalan dengan tradisi historiografi Jawa Timur yang menghubungkan keluarga Surabaya dengan garis keturunan Sunan Ampel. Meskipun rincian silsilah tersebut masih diperdebatkan dalam kajian modern, Babad Tanah Jawi memanfaatkan narasi tersebut untuk membangun legitimasi penaklukan Giri. Dalam perspektif babad, Sultan Agung tidak sedang mengirim seorang panglima untuk menghancurkan pusat dakwah Islam, melainkan menugaskan seorang tokoh yang dianggap berasal dari lingkungan religius yang setara untuk menyelesaikan persoalan politik yang menghambat penyatuan Jawa.
Sekitar tahun 1635, persiapan ekspedisi besar ke Giri mulai dilakukan. Sultan Agung mengerahkan kekuatan yang cukup besar karena memahami bahwa perlawanan dari Giri bukan hanya soal kekuatan militer, tetapi juga menyangkut wibawa dan kehormatan sebuah lembaga keagamaan yang telah dihormati selama beberapa generasi. Pada tahun 1636, pasukan yang dipimpin Pangeran Pekik bergerak menuju Giri Kedaton dan berhasil menundukkan pusat kekuasaan tersebut. Dalam tradisi Babad Tanah Jawi, kemenangan itu diringkas dalam kalimat yang singkat namun sarat makna:
“Panembahan Giri kalah, kapundhut ing Mataram.”
“Panembahan Giri kalah dan dibawa ke Mataram.”
Di balik kalimat pendek tersebut tersembunyi sebuah perubahan besar dalam sejarah Jawa. Jatuhnya Giri Kedaton menandai berakhirnya kemandirian politik salah satu pusat spiritual paling berpengaruh di Nusantara. Jika sejak abad ke-15 Giri menjadi sumber legitimasi bagi banyak penguasa Islam di berbagai wilayah, maka setelah tahun 1636 pusat gravitasi kekuasaan Jawa semakin terkonsentrasi di tangan Kesultanan Mataram.
Sejarawan H.J. de Graaf menggambarkan kedudukan Giri dengan sangat tepat ketika menulis:
“Giri was de geestelijke macht van Oost-Java.”
“Giri merupakan kekuatan spiritual Jawa Timur.”
Karena itu, penaklukan Giri merupakan kemenangan simbolik yang memungkinkan Sultan Agung mengukuhkan dirinya sebagai penguasa terbesar di Jawa. Sementara dalam perspektif Babad Tanah Jawi, peristiwa tersebut menandai perpindahan legitimasi spiritual dari pusat keagamaan pesisir utara jawa menuju istana Mataram.
Puncak Karier Sang Penakluk Kedaton Para Wali
Jatuhnya Giri Kedaton pada tahun 1636 menjadi titik tertinggi dalam perjalanan hidup Pangeran Pekik. Jika kejatuhan Surabaya pada tahun 1625 menandai berakhirnya statusnya sebagai pewaris kerajaan pesisir, maka keberhasilan menundukkan Giri justru mengubahnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam lingkungan Kesultanan Mataram. Sejak saat itu, namanya tidak lagi hanya dikenal sebagai putra penguasa Surabaya yang telah berdamai dengan Sultan Agung, melainkan sebagai bangsawan yang berperan penting dalam penyempurnaan proyek penyatuan Jawa di bawah kekuasaan Mataram.
Sejarawan H.J. de Graaf menggambarkan kedudukan Pangeran Pekik di lingkungan istana dengan kalimat yang sangat jelas:
“Pangeran Pekik was een van de voornaamste Oost-Javaanse edelen aan het hof van Mataram.”
“Pangeran Pekik adalah salah satu bangsawan Jawa Timur yang paling terkemuka di istana Mataram.”
Penilaian tersebut menunjukkan bahwa setelah tahun 1636, Pekik bukan lagi sekadar mantan penguasa daerah yang ditaklukkan dan kemudian diintegrasikan ke dalam struktur kerajaan. Ia telah menjelma menjadi salah satu pilar utama yang menghubungkan Jawa Timur dengan pusat kekuasaan Mataram. Posisi tersebut sangat penting karena pada masa itu Jawa Timur masih menyimpan berbagai potensi perlawanan pasca-kejatuhan Surabaya. Kehadiran Pekik membantu Sultan Agung memperoleh dukungan dari kelompok aristokrasi pesisir yang sebelumnya menjadi lawan kerajaan.
Namun apabila dibaca melalui perspektif Babad Tanah Jawi, kedudukan Pangeran Pekik bahkan jauh melampaui sekadar bangsawan senior atau panglima perang yang berjasa. Dalam konstruksi historiografi keraton, ia ditempatkan sebagai figur yang membantu Sultan Agung memperoleh legitimasi religius atas seluruh Jawa. Penaklukan Giri tidak hanya dipandang sebagai kemenangan militer, melainkan juga sebagai keberhasilan menyatukan otoritas politik dan kewibawaan spiritual ke dalam satu pusat kekuasaan, yaitu Mataram.
Dalam kerangka itulah Babad Tanah Jawi menggambarkan hubungan yang sangat dekat antara Sultan Agung dan Pangeran Pekik. Tradisi Jawa bahkan melestarikan ungkapan:
“Pangeran Pekik kinasihan dening Sultan Agung.”
“Pangeran Pekik sangat dikasihi oleh Sultan Agung.”
Ungkapan tersebut tidak sekadar menunjukkan kedekatan pribadi, tetapi juga mencerminkan besarnya kepercayaan Sultan Agung terhadap dirinya. Di mata penguasa Mataram itu, Pekik adalah figur yang berhasil membuktikan kesetiaan setelah kejatuhan Surabaya. Ia menerima integrasi ke dalam Mataram tanpa melakukan pemberontakan, menjadi anggota keluarga kerajaan melalui perkawinannya dengan Ratu Pandansari, dan berhasil menyelesaikan tugas paling sensitif dalam sejarah pemerintahan Sultan Agung, yaitu menundukkan Giri Kedaton.
Periode antara tahun 1636 hingga wafatnya Sultan Agung pada tahun 1645 dapat disebut sebagai masa keemasan dalam kehidupan Pangeran Pekik. Selama hampir satu dasawarsa, ia menempati posisi yang sangat strategis di lingkungan kerajaan. Sebagai bangsawan yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi pesisir Jawa Timur, sekaligus menjadi anggota keluarga inti Mataram, Pekik berperan sebagai jembatan antara dua dunia yang berbeda. Di satu sisi terdapat budaya pesisir yang kosmopolitan, terbuka terhadap perdagangan, dan memiliki hubungan luas dengan dunia Islam maritim. Di sisi lain terdapat budaya keraton Mataram yang berakar pada tradisi agraris pedalaman Jawa.
Posisi tersebut menjadikan Pangeran Pekik sebagai salah satu tokoh integrasi terpenting pada masa Sultan Agung. Ia membantu meredam ketegangan antara elite Jawa Timur dan pusat kekuasaan di Mataram, sekaligus memperkuat legitimasi kerajaan di wilayah yang baru ditaklukkan. Tidak mengherankan apabila namanya memperoleh penghormatan yang besar, baik di lingkungan keraton maupun di kalangan masyarakat Jawa Timur.
Kedudukan keluarganya pun semakin kuat. Sebagai suami Ratu Pandansari, ia merupakan ipar Sultan Agung. Putrinya kemudian menjadi permaisuri Amangkurat I dan melahirkan Raden Mas Rahmat yang kelak naik takhta sebagai Amangkurat II. Dengan demikian, Pangeran Pekik tidak hanya memiliki legitimasi sebagai bangsawan Surabaya dan penakluk Giri, tetapi juga sebagai leluhur langsung penerus Penguasa Mataram.
Dalam konteks politik Jawa abad ke-17, kombinasi legitimasi semacam itu sangat jarang dimiliki oleh seorang tokoh. Ia adalah keturunan aristokrasi Surabaya yang dihormati masyarakat pesisir, menantu keluarga kerajaan Mataram, panglima yang berhasil menaklukkan Giri Kedaton, figur yang memperoleh kepercayaan Sultan Agung, sekaligus kakek dari calon pewaris takhta. Seluruh unsur tersebut menjadikannya salah satu bangsawan paling berwibawa di Jawa pada masanya.
Akan tetapi, sejarah sering memperlihatkan bahwa sumber kekuatan yang besar dapat berubah menjadi sumber bahaya yang sama besar. Selama Sultan Agung masih hidup, seluruh legitimasi yang dimiliki Pangeran Pekik menjadi aset penting bagi kerajaan. Namun setelah Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan Amangkurat I naik takhta, situasinya berubah secara drastis. Dalam iklim politik yang dipenuhi kecurigaan, pengaruh luas yang dimiliki Pekik mulai dipandang bukan sebagai penopang kekuasaan, melainkan sebagai potensi ancaman.
Ironisnya, justru faktor-faktor yang mengangkatnya ke puncak kejayaan kelak menjadi alasan yang menyeretnya menuju tragedi. Ia terlalu dihormati untuk diabaikan, terlalu berpengaruh untuk dibiarkan, dan terlalu dekat dengan garis suksesi kerajaan untuk tidak dicurigai. Dari sinilah perlahan dimulai babak terakhir dalam kehidupan Pangeran Pekik, sebuah babak yang akan mengubah sang penakluk Giri Kedaton menjadi korban pembantaian oleh sang menantu Amangkurat I.
Dari Pahlawan Menjadi Korban Pembantaian
Wafatnya Sultan Agung pada tahun 1645 menandai berakhirnya masa keemasan Pangeran Pekik. Penguasa baru Mataram, Amangkurat I, mewarisi kerajaan yang telah mencapai puncak kejayaan wilayahnya, tetapi tidak mewarisi gaya kepemimpinan ayahnya. Jika Sultan Agung membangun kekuasaannya melalui kompromi, integrasi, dan persekutuan dengan para bangsawan daerah, maka Amangkurat I justru berusaha memusatkan seluruh kekuasaan di tangan raja. Ia memandang para bangsawan besar, ulama berpengaruh, dan tokoh-tokoh yang memiliki basis dukungan luas sebagai potensi ancaman bagi stabilitas takhta.
Perubahan arah politik tersebut perlahan mengubah posisi Pangeran Pekik. Tokoh yang pada masa Sultan Agung merupakan salah satu pilar utama kerajaan kini berada dalam lingkungan politik yang semakin dipenuhi kecurigaan. Antara tahun 1646 hingga 1658, pengaruhnya yang besar di Jawa Timur, hubungan kekerabatannya dengan keluarga kerajaan, serta kedudukannya sebagai tokoh yang dihormati oleh kalangan aristokrasi pesisir membuat namanya terus berada dalam perhatian istana.
Dalam konteks politik Mataram, Pangeran Pekik sesungguhnya memiliki hampir seluruh unsur legitimasi yang dapat membuat seorang raja merasa tidak nyaman. Ia adalah putra penguasa terakhir Surabaya, menantu keluarga kerajaan, penakluk Giri Kedaton, bangsawan yang dihormati masyarakat Jawa Timur, sekaligus kakek dari Raden Mas Rahmat, putra mahkota yang kelak menjadi Amangkurat II. Tidak ada bangsawan lain pada masa itu yang memiliki kombinasi legitimasi politik, genealogis, dan simbolik sebesar dirinya.
Babad Tanah Jawi mengaitkan jatuhnya Pangeran Pekik dengan peristiwa yang melibatkan Rara Oyi, seorang perempuan yang menjadi pusat konflik antara Amangkurat I dan putra mahkota. Dalam tradisi babad, Pangeran Pekik digambarkan membantu keinginan cucunya, Raden Mas Rahmat, untuk mempersunting Rara Oyi. Tindakan tersebut kemudian memicu kemarahan Amangkurat I dan menjadi alasan yang digunakan untuk menghukum keluarga Pekik. Akan tetapi, banyak sejarawan modern menilai bahwa kisah Rara Oyi kemungkinan hanya menjadi pemicu dari persoalan yang jauh lebih besar. Di baliknya terdapat ketegangan politik yang telah lama berkembang antara Amangkurat I dan kelompok bangsawan senior warisan masa Sultan Agung.
Dalam pandangan politik kerajaan, Pangeran Pekik bukan lagi sekadar seorang sesepuh keluarga. Ia adalah simbol kuat yang menghubungkan berbagai sumber legitimasi kekuasaan di Jawa. Ia memiliki hubungan dengan aristokrasi Surabaya, dihormati oleh kalangan pesisir, pernah menjadi tokoh penting dalam penaklukan Giri, dan memiliki kedekatan dengan calon pewaris takhta. Dalam iklim politik yang sehat, posisi seperti itu merupakan aset yang sangat berharga bagi kerajaan. Namun dalam suasana paranoia politik, seluruh kelebihan tersebut justru berubah menjadi alasan untuk menyingkirkannya.
Puncak tragedi terjadi pada tahun 1659. Amangkurat I memerintahkan penangkapan dan pembunuhan Pangeran Pekik beserta keluarganya. Peristiwa ini menjadi salah satu pembantaian keluarga bangsawan terbesar dalam sejarah Mataram. Tidak hanya Pangeran Pekik yang menjadi korban, tetapi juga Ratu Pandansari dan sejumlah anggota keluarga Surabaya lainnya yang selama puluhan tahun telah hidup di lingkungan istana.
Babad Tanah Jawi merangkum tragedi tersebut dalam kalimat yang sangat singkat, tetapi menyimpan makna yang mendalam:
“Pangeran Pekik saha sadaya kulawarganipun kapatèn.”
“Pangeran Pekik beserta seluruh keluarganya dibunuh.”
Kesederhanaan kalimat itu justru memperlihatkan betapa besar tragedi yang terjadi. Dalam beberapa kata saja, babad menutup kisah seorang tokoh yang sebelumnya digambarkan sebagai penakluk Giri Kedaton, menantu Sultan Agung, serta salah satu bangsawan paling berjasa dalam proses penyatuan Jawa. Tidak ada catatan mengenai perlawanan, tidak ada kisah pertempuran heroik, dan tidak ada kematian di medan perang. Sang penakluk Kedaton Para Wali justru mengakhiri hidupnya di lingkungan istana yang pernah memberinya kehormatan tertinggi.
Tragedi tahun 1659 juga memiliki dampak yang jauh melampaui nasib pribadi Pangeran Pekik. Pembunuhan tersebut meninggalkan luka mendalam dalam keluarga kerajaan. Raden Mas Rahmat, yang kelak menjadi Amangkurat II, harus menyaksikan keluarga dari garis ibunya dihancurkan oleh ayahnya sendiri. Peristiwa ini menjadi salah satu sumber ketegangan yang terus membayangi Dinasti Mataram pada generasi berikutnya.
Di sinilah paradoks besar kehidupan Pangeran Pekik mencapai puncaknya. Tokoh yang menurut Babad Tanah Jawi membantu mengukuhkan legitimasi Mataram atas Jawa, menyelesaikan persoalan Giri Kedaton, serta menjembatani dunia pesisir dan pedalaman, justru berakhir sebagai korban kekuasaan yang pernah ia perkuat. Ia kehilangan Surabaya demi menerima Mataram, mengabdikan hidupnya kepada Sultan Agung, dan membantu memperluas kewibawaan kerajaan. Namun seluruh jasa tersebut tidak mampu melindunginya dari perubahan politik yang terjadi setelah pergantian penguasa.
Tragedi yang Mengubah Sejarah Mataram
Pembunuhan Pangeran Pekik pada tahun 1659 bukan sekadar tragedi keluarga kerajaan, melainkan sebuah peristiwa politik yang meninggalkan dampak panjang terhadap masa depan Kesultanan Mataram. Dalam jangka pendek, Amangkurat I memang berhasil menyingkirkan salah satu bangsawan paling berpengaruh di kerajaannya. Namun dalam jangka panjang, tindakan tersebut justru mempercepat keretakan hubungan antara istana dan kelompok-kelompok elite yang selama ini menjadi penopang kekuasaan Mataram, terutama di wilayah Jawa Timur.
Pangeran Pekik bukan tokoh biasa. Ia adalah simbol rekonsiliasi antara Surabaya dan Mataram setelah perang panjang yang berakhir pada tahun 1625. Melalui dirinya, Sultan Agung berhasil merangkul aristokrasi pesisir yang sebelumnya menjadi lawan kerajaan. Sebagai menantu keluarga kerajaan, penakluk Giri Kedaton, serta tokoh yang dihormati di Jawa Timur, Pekik berperan sebagai jembatan yang menghubungkan pusat kekuasaan Mataram dengan dunia pesisir yang selama berabad-abad memiliki tradisi politik dan budaya yang berbeda. Ketika jembatan itu dihancurkan oleh Amangkurat I, hubungan kepercayaan yang telah dibangun sejak masa Sultan Agung ikut mengalami keretakan.
Tragedi tersebut juga meninggalkan luka mendalam dalam lingkungan keluarga kerajaan sendiri. Pangeran Pekik adalah kakek dari Raden Mas Rahmat, putra mahkota yang kelak naik takhta sebagai Amangkurat II. Dengan demikian, pembantaian tahun 1659 bukan hanya menyasar keluarga Surabaya, tetapi juga menghancurkan keluarga dari garis ibu calon penerus takhta Mataram. Dalam berbagai tradisi Jawa, peristiwa ini dipandang sebagai salah satu sumber ketegangan yang membayangi hubungan antara Amangkurat I dan putranya pada tahun-tahun berikutnya.
Sejumlah sejarawan melihat bahwa kebijakan Amangkurat I yang menyingkirkan banyak bangsawan berpengaruh, ulama, serta tokoh-tokoh yang memiliki basis dukungan kuat di daerah, secara perlahan mengikis fondasi loyalitas kerajaan. Pada masa Sultan Agung, Mataram dibangun melalui jaringan aliansi yang melibatkan para elite daerah. Sebaliknya, Amangkurat I berusaha menggantikan sistem tersebut dengan kekuasaan yang lebih terpusat dan dikendalikan langsung oleh istana. Akibatnya, banyak kelompok yang sebelumnya menjadi pendukung kerajaan berubah menjadi pihak yang menyimpan kekecewaan dan ketidakpercayaan.
Dampak kebijakan tersebut mulai terlihat pada dekade 1670-an. Ketika Pemberontakan Trunajaya meletus pada tahun 1674, banyak elite Jawa Timur tidak menunjukkan kesediaan untuk membela kerajaan sebagaimana yang pernah mereka lakukan pada masa Sultan Agung. Sebaliknya, sebagian di antara mereka justru memberikan dukungan kepada gerakan yang menentang Mataram. Walaupun tidak dapat dikatakan bahwa pemberontakan tersebut secara langsung disebabkan oleh kematian Pangeran Pekik, banyak sejarawan menempatkan tragedi tahun 1659 sebagai salah satu titik balik yang mempercepat terjadinya krisis loyalitas di wilayah timur kerajaan.
Puncak dari krisis itu terjadi pada tahun 1677 ketika pasukan Trunajaya berhasil merebut Keraton Plered, ibu kota Kesultanan Mataram. Peristiwa yang sebelumnya tampak mustahil akhirnya menjadi kenyataan. Kerajaan yang pada masa Sultan Agung pernah menguasai hampir seluruh Jawa justru tidak mampu mempertahankan pusat pemerintahannya sendiri. Amangkurat I terpaksa meninggalkan keraton dan melarikan diri ke arah timur. Dalam perjalanan pelariannya menuju Tegalwangi, ia meninggal dunia pada tahun yang sama. Kejatuhan Plered dan wafatnya Amangkurat I menjadi salah satu krisis terbesar dalam sejarah Dinasti Mataram.
Dalam perspektif historiografi Jawa, rangkaian peristiwa tersebut sering dipandang sebagai konsekuensi dari kebijakan politik yang mengabaikan prinsip keseimbangan antara kekuasaan dan legitimasi. Sultan Agung berhasil membangun Mataram dengan cara merangkul lawan-lawannya, sedangkan Amangkurat I berusaha mempertahankan kekuasaan melalui penyingkiran dan ketakutan. Di antara korban paling terkenal dari perubahan arah politik tersebut adalah Pangeran Pekik.
Karena itu, dalam ingatan sejarah Jawa, Pangeran Pekik tidak hanya dikenang sebagai panglima yang berhasil menaklukkan Giri Kedaton pada tahun 1636. Ia juga dikenang sebagai simbol kesetiaan yang berakhir tragis. Sebagai putra penguasa Surabaya, ia menerima kekalahan demi perdamaian. Sebagai bangsawan Mataram, ia mengabdikan hidupnya kepada Sultan Agung dan membantu menyempurnakan penyatuan Jawa. Sebagai tokoh politik, ia menjadi penghubung antara dunia pesisir dan dunia pedalaman. Namun seluruh jasa tersebut tidak mampu menyelamatkannya dari perubahan politik yang terjadi setelah pergantian penguasa.
Kisah hidup Pangeran Pekik memperlihatkan salah satu paradoks terbesar dalam sejarah Jawa abad ke-17. Ia berhasil menundukkan Giri Kedaton, pusat spiritual yang selama lebih dari satu abad dihormati oleh para penguasa Nusantara, tetapi tidak mampu melindungi dirinya dari intrik politik di dalam istana. Ia membantu membangun legitimasi Mataram atas Jawa, tetapi justru menjadi korban dari dinasti yang memperoleh manfaat terbesar dari jasanya. Dalam konteks itulah Pangeran Pekik menempati tempat yang unik dalam historiografi Jawa: seorang penakluk yang membantu membesarkan kerajaan, tetapi akhirnya dihancurkan oleh kerajaan yang sama.















2 thoughts on “Pangeran Pekik, Nasib Tragis Adipati Surabaya ke 11”