Berdirinya Giri Kedaton dan Lahirnya Pusat Islam Maritim Nusantara
Kehadiran Sunan Giri dalam sejarah Nusantara menempati posisi yang sangat penting dalam proses islamisasi kawasan maritim Asia Tenggara, khususnya Indonesia Timur. Dalam historiografi Islam Nusantara modern, Sang Sunan dipandang bukan sekadar tokoh dakwah lokal Jawa, melainkan salah satu arsitek utama terbentuknya jaringan Islam maritim yang menghubungkan Jawa, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga jalur perdagangan rempah-rempah Asia Tenggara. Dari pusat kekuasaannya di Giri Kedaton di kawasan perbukitan selatan Gresik, Beliau membangun sebuah otoritas religius yang memadukan pendidikan pesantren, legitimasi politik, perdagangan maritim, dan jaringan ulama lintas pulau. Karena itu, Giri Kedaton berkembang bukan hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat kekuasaan spiritual yang memiliki pengaruh luas terhadap kerajaan-kerajaan Islam Nusantara.
Secara geopolitik, kemunculannya berkaitan erat dengan melemahnya Majapahit pada akhir abad ke-15. Runtuhnya hegemoni Majapahit membuka ruang bagi pertumbuhan kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa seperti Gresik, Tuban, Demak, dan Surabaya. Pelabuhan-pelabuhan tersebut berkembang karena berada di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Laut Jawa, Selat Malaka, Maluku, hingga Samudra Hindia. Kenneth R. Hall dalam Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia menjelaskan bahwa pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa telah menjadi:
“major commercial intermediaries in the spice trade routes of Southeast Asia.”
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa islamisasi Jawa tidak dapat dipisahkan dari dinamika perdagangan internasional Asia Tenggara. Dalam konteks perdagangan rempah-rempah inilah Islam berkembang sangat cepat di pesisir Jawa. Jalur perdagangan maritim kemudian menjadi medium utama penyebaran Islam menuju kawasan Indonesia Timur. Prabu Satmoto muncul sebagai salah satu tokoh sentral yang mampu menghubungkan perdagangan, pendidikan agama, dan legitimasi politik ke dalam satu jaringan besar Islam maritim Nusantara.
Tradisi Jawa menyebut bahwa Sang Giri Nata lahir sekitar tahun 1442 dengan nama Jaka Samudra atau Raden Paku dan merupakan putra Maulana Ishak. Setelah belajar kepada Sunan Ampel dan melakukan perjalanan ke Pasai, ia mendirikan Giri Kedaton sekitar tahun 1481 di kawasan perbukitan selatan Gresik. Penelitian sejarah lokal menyebut bahwa pembangunan kompleks kedaton berlangsung sekitar tahun 1486–1487 M dan Beliau memperoleh gelar Prabu Satmata atau Prabu Satmoto. Namun secara metodologis penting ditegaskan bahwa sebagian besar data mengenai awal berdirinya Giri berasal dari tradisi lokal seperti Babad Gresik, Babad Tanah Jawi, dan historiografi keraton yang ditulis jauh setelah peristiwa berlangsung. Karena itu, sumber-sumber tersebut harus dibaca secara kritis sebagai political memory texts yang memadukan unsur sejarah, legitimasi dinasti, dan simbolisme religius.
Walaupun demikian, keberadaan wilayah ini sebagai pusat religius besar pada akhir abad ke-15 memiliki dukungan kuat dari sumber kolonial Belanda dan tradisi lokal Jawa. Dalam sumber Belanda, Giri bahkan disebut sebagai Geestelijke Heeren atau “Kerajaan Ulama.” Kedudukan Beliau sangat unik karena memadukan fungsi ulama dan penguasa politik dalam konsep Jawa yang dikenal sebagai pandhita ratu, yakni pemimpin spiritual sekaligus pemegang otoritas pemerintahan. Karena itu, wilayah ini bukan sekadar pesantren, melainkan sebuah pusat kekuasaan religio-politik yang memiliki pengaruh sangat luas.
“De Paus van Java” 1615 dan Otoritas Spiritual Islam Nusantara
Besarnya pengaruh Giri membuat para pejabat VOC dan penulis Belanda abad ke-17 menjulukinya sebagai “De Paus van Java” atau “Paus dari Jawa.” Julukan ini bukan gelar resmi dalam tradisi Islam Nusantara, melainkan analogi kolonial Eropa untuk menjelaskan posisi unik Giri kepada pembaca Barat. Orang-orang Eropa saat itu tidak memahami konsep wali, sunan, maupun struktur legitimasi religius Islam Jawa. Mereka melihat bahwa penguasanya tidak memiliki kerajaan militer besar seperti Mataram, tetapi fatwa dan restunya ditaati oleh penguasa dari berbagai wilayah Nusantara. Karena fenomena tersebut dianggap mirip dengan posisi Paus Katolik di Vatikan yang memiliki otoritas moral atas raja-raja Eropa, maka muncul istilah:
- “De Paus van Java,”
- “De Mohammedaansche Paus,”
- atau “Paus Islam Jawa.”
Catatan VOC awal seperti laporan Artus Gijsels sekitar tahun 1615 menyebut penguasa wilayah ini sebagai “Paus kaum Muslim.” Tahun 1615 menjadi sangat penting karena memperlihatkan bahwa bahkan pada awal abad ke-17, ketika kekuatan politik pesisir Jawa mulai ditekan oleh Kesultanan Mataram, wibawa spiritualnya masih sangat dihormati oleh kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. H. J. de Graaf dalam Islamic States in Java 1500–1700 menjelaskan bahwa pengaruh Giri:
“extended far beyond East Java and was respected by rulers throughout the archipelago.”
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa wilayah ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan lokal Jawa Timur, tetapi sebagai pusat legitimasi moral Islam Nusantara. Dalam tradisi Jawa, penguasa Demak, Pajang, bahkan Mataram awal memerlukan pengakuan simbolik dari Gresik untuk memperkuat legitimasi kekuasaan mereka. Karena itu, walaupun Giri tidak memiliki kekuatan militer sebesar kerajaan agraris pedalaman, pengaruh spiritualnya justru sangat besar.
Tradisi Jawa menyebut bahwa Raden Patah memperoleh dukungan moral dari Beliau ketika mendirikan Demak pada akhir abad ke-15. Pada masa berikutnya, Giri juga berfungsi sebagai mediator konflik antarkerajaan Islam Jawa. Pada masa Sunan Prapen yang memimpin sekitar tahun 1548–1605, wilayah ini mencapai puncak kejayaannya. Tradisi Jawa menyebut bahwa pada tahun 1568 Sunan Prapen mendamaikan Sultan Adiwijaya dari Pajang dengan adipati-adipati Jawa Timur setelah konflik pasca-runtuhnya Demak. Namun secara historiografis, perlu ditegaskan bahwa sebagian informasi mengenai mediasi politik Giri berasal dari babad Jawa, tradisi lokal, dan historiografi keraton. Karena itu, narasi tersebut perlu dipahami sebagai refleksi memori politik Jawa Islam yang memperlihatkan tingginya wibawa Giri dalam budaya politik Nusantara abad ke-16.
Kuatnya Pengaruh Islam Jawa di Indonesia Timur
Kekuatan terbesar Giri sebenarnya terletak pada sistem pendidikan pesantrennya. Sejak akhir abad ke-15, Giri berkembang menjadi pusat kaderisasi ulama internasional Nusantara. Menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo, murid-murid pesantren wilayah ini berasal dari Maluku, Makassar, Banjar, Kutai, hingga Nusa Tenggara. Sunyoto menulis:
“Santri-santri Giri datang dari berbagai wilayah Nusantara dan kembali menjadi penyebar Islam di daerah masing-masing.”
Pernyataan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa islamisasi Nusantara berlangsung melalui jaringan pendidikan dan mobilitas ulama, bukan semata-mata melalui penaklukan militer. Para santri dari Indonesia Timur yang belajar di Giri kemudian kembali ke daerah asal sebagai imam, khatib, guru agama, penasihat kerajaan, dan elite intelektual Islam lokal. Dari sinilah pengaruh Islam Jawa menyebar luas ke kawasan timur Nusantara.
Hubungan antara Giri dan Kesultanan Ternate menjadi salah satu bukti paling kuat pengaruh Islam Jawa di Indonesia Timur. Tradisi Maluku menyebut bahwa Sultan Zainal Abidin melakukan perjalanan ke Jawa sekitar tahun 1494–1495 untuk belajar Islam di wilayah ini bersama Datu Maula Husain. Dalam manuskrip Kesultanan Ternate disebutkan bahwa Sultan Zainal Abidin:
“berangkat ke Jawa bersama Datu Maula Husain untuk memperdalam syariat Islam di Giri.”
Setelah kembali ke Ternate, Sultan Zainal Abidin melakukan reformasi Islam terhadap struktur kerajaan dan membawa sejumlah ulama Jawa untuk membantu dakwah Islam di Maluku. Dari sinilah berkembang institusi “Imam Jawa” dalam struktur Bobato Akhirat Kesultanan Ternate. Leonard Andaya dalam The World of Maluku menulis:
“Java played an important role in the Islamization of the Moluccas.”
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa islamisasi Maluku berlangsung melalui jaringan perdagangan dan ulama Jawa yang berpusat di Giri. Pengaruh Islam Jawa di Maluku bahkan bertahan sangat lama melalui keberadaan elite religius keturunan ulama Jawa dalam struktur kesultanan Ternate.
Pengaruh Giri semakin meluas setelah Kesultanan Gowa-Tallo menerima Islam pada tahun 1605. Setelah islamisasi Makassar, kota pelabuhan Makassar berkembang menjadi kekuatan maritim terbesar di Indonesia Timur dan menjadi penghubung utama perdagangan rempah-rempah Nusantara. J. Noorduyn dalam Makasar and the Islamization of Bima menjelaskan bahwa:
“Islam spread to Bima through Makassarese political influence supported by religious networks.”
Dalam konteks ini terlihat jelas adanya sinergi antara legitimasi spiritual Giri dan kekuatan maritim Makassar. Giri menyediakan jaringan ulama dan otoritas religius, sementara Makassar menyediakan armada perdagangan dan kekuatan politik yang mempercepat islamisasi Bima, Sumbawa, Lombok, dan kawasan timur Nusantara lainnya. Karena itu, islamisasi Indonesia Timur tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu pusat tunggal, melainkan melalui interaksi kompleks antara Jawa, Makassar, Ternate, Melayu, Arab, Gujarat, dan jaringan perdagangan internasional Samudra Hindia.
Tradisi lokal Lombok dan Sumbawa juga menyimpan memori kuat mengenai kedatangan ulama dari Jawa yang berafiliasi dengan Giri. Dalam Babad Lombok disebutkan adanya ekspedisi dakwah Islam dari Jawa pada akhir abad ke-16 yang dipimpin tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Sunan Prapen. Walaupun sumber babad harus dibaca secara kritis karena memadukan unsur sejarah dan mitologi, keberadaan jaringan Islam Jawa di kawasan Nusa Tenggara memang memiliki dasar historis yang cukup kuat. Karena itu, dalam historiografi modern, pengaruh Islam Jawa di Indonesia Timur dipahami sebagai hasil interaksi panjang antara perdagangan, pendidikan pesantren, legitimasi religius, dan jaringan elite maritim Nusantara.
Keruntuhan dan Warisan Islam Maritim Nusantara
Kebesaran Giri mulai melemah ketika Kesultanan Mataram bangkit sebagai kekuatan dominan di Jawa pada awal abad ke-17. Sultan Agung memandang Giri sebagai otoritas religius independen yang dapat menyaingi legitimasi Mataram. Tradisi Jawa menyebut bahwa banyak panglima Mataram enggan menyerang Giri karena takut terhadap wibawa spiritualnya. Penaklukan Giri akhirnya berlangsung sekitar tahun 1635–1636 melalui ekspedisi Pangeran Pekik dari Surabaya. H. J. de Graaf dalam The Rise of Mataram menyebut bahwa:
“the fall of Giri marked the end of an independent religious authority in East Java.”
Namun secara metodologis penting dipahami bahwa sumber-sumber mengenai penaklukan Giri berasal dari tradisi Jawa, kronik lokal, dan catatan kolonial yang masing-masing memiliki perspektif politik berbeda. Historiografi Mataram cenderung menampilkan penaklukan Giri sebagai simbol kemenangan kerajaan agraris pedalaman atas otoritas maritim pesisir. Sebaliknya, tradisi pesisir Jawa memandang runtuhnya Giri sebagai berakhirnya kemandirian jaringan ulama maritim Nusantara.
Walaupun kekuasaan politik Giri runtuh, pengaruh intelektual dan spiritualnya tetap bertahan selama berabad-abad. Jaringan pesantren, ulama, dan tradisi Islam yang dibangun sejak akhir abad ke-15 terus hidup di Maluku, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Lombok, Sumbawa, hingga Bima. Karena itu, dalam historiografi Islam Nusantara modern,Beliau layak dipandang sebagai salah satu arsitek utama terbentuknya jaringan Islam maritim Indonesia Timur yang menghubungkan perdagangan, pendidikan, legitimasi politik, dan otoritas religius dalam satu sistem besar dunia Nusantara awal modern.











Berdirinya Giri Kedaton dan Lahirnya Pusat Islam Maritim Nusantara



4 thoughts on “Sunan Giri (“De Paus van Java” 1615) Dan Pengaruh Kuat di Indonesia Timur”