I. Pendahuluan
Sejarah awal pembentukan Bojonegoro modern tidak dapat dipisahkan dari transformasi politik, administratif, dan militer yang berlangsung pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18 di wilayah Jipang Padangan. Fondasi pemerintahan regional Bojonegoro mulai terbentuk pada tahun 1677 ketika Raden Mas Tumapel diangkat sebagai Bupati Jipang pertama oleh Kesultanan Mataram, menandai lahirnya struktur administratif formal di kawasan strategis tepi Bengawan Solo.
Sejarah Kabupaten Rajekwesi (1725–1828): Benteng Kemerdekaan Terakhir Jipang
Wilayah Jipang sejak awal memiliki arti geopolitik besar karena berada pada jalur perdagangan sungai utama yang menghubungkan pedalaman Jawa dengan pesisir utara, menjadikannya kawasan penting dalam jaringan ekonomi dan pertahanan kerajaan Jawa. Setelah masa pemerintahan awal tersebut, kepemimpinan dilanjutkan oleh Raden Tumenggung Surowidjojo atau Ki Wirosentiko pada periode 1705–1718, yang mempertahankan stabilitas pemerintahan regional di tengah gejolak politik Mataram pasca-Perang Suksesi Jawa.
Pada tahun 1718, Harya Matahun I—yang dikenal pula sebagai Pangeran Sasongko atau Raden Songko—resmi diangkat sebagai Bupati Jipang ke-3. Pengangkatannya menandai fase baru dalam sejarah Jipang karena berlangsung pada saat Kesultanan Mataram sedang melakukan konsolidasi kekuasaan terhadap wilayah timur.
Dalam kapasitasnya sebagai aristokrat regional, Harya Matahun I tidak hanya menjalankan fungsi pemerintahan lokal, tetapi juga memainkan peran strategis dalam menjaga stabilitas politik, mengelola perdagangan regional, dan memperkuat loyalitas wilayah Jipang terhadap pusat kerajaan. Masa pemerintahannya menjadi sangat penting karena pada tahun 1725 ia melaksanakan perintah Susuhunan Pakubuwono II untuk memindahkan ibu kota kabupaten dari Padangan ke Rajekwesi, sebuah kebijakan monumental yang mengubah struktur administratif wilayah dan menjadi fondasi langsung bagi lahirnya Bojonegoro modern.
Transformasi Jipang Padangan menuju Rajekwesi pada 1725 merupakan titik balik paling menentukan dalam sejarah awal Bojonegoro. Relokasi ini bukan hanya perpindahan geografis, melainkan restrukturisasi politik besar yang bertujuan memperkuat pertahanan wilayah, meningkatkan kontrol administratif Mataram, dan membangun pusat pemerintahan yang lebih strategis di pedalaman.
Dengan demikian, Harya Matahun I tercatat sebagai Bupati Jipang terakhir sekaligus Bupati Rajekwesi pertama. Status historis ganda ini menjadikannya figur transisional yang sangat penting dalam pembentukan identitas kelembagaan Bojonegoro.
Pemerintahan Harya Matahun I berakhir sekitar tahun 1741 ketika ia gugur dalam ekspedisi militer kerajaan menghadapi konflik Mataram-Madura di Badholeng Sedayu. Gugurnya sang adipati dalam tugas negara menempatkannya sebagai simbol loyalitas aristokrasi regional terhadap negara Mataram.
II. Latar Belakang Politik Jawa Awal Abad ke-18
Awal abad ke-18 merupakan periode penuh gejolak dalam sejarah politik Jawa, terutama setelah wafatnya Amangkurat II pada tahun 1703. Kematian penguasa Mataram tersebut memicu ketidakstabilan politik internal yang ditandai oleh konflik suksesi, perebutan legitimasi kekuasaan di kalangan bangsawan, serta semakin intensifnya intervensi VOC dalam urusan kerajaan.
Pada masa Pakubuwono I (1704–1719), Mataram berupaya keras mengonsolidasikan kembali wilayah-wilayah strategis pasca-Perang Suksesi Jawa I, terutama di kawasan timur yang dikenal sebagai Mancanegara Wetan. Wilayah ini memiliki fungsi vital sebagai penyangga antara pusat kekuasaan Kartasura dengan daerah pesisir utara, Madura, dan kawasan ekonomi utama Jawa Timur.
Mancanegara Wetan merupakan struktur pemerintahan regional yang dirancang untuk menjaga stabilitas daerah luar pusat melalui aristokrasi lokal. Kawasan ini mencakup Jipang, Japan, Madiun, dan wilayah-wilayah penting lain yang menopang kekuatan fiskal serta militer kerajaan.
Dalam konteks ini, Jipang Padangan memiliki posisi strategis karena terletak di sepanjang Bengawan Solo, sungai utama yang sejak abad ke-17 telah berfungsi sebagai jalur distribusi perdagangan beras, kayu jati, hasil peternakan, dan logistik militer. Padangan berkembang menjadi bandar perdagangan regional yang menghubungkan pedalaman Bojonegoro dengan Tuban, Gresik, Surabaya, hingga Kartasura.
Pada masa transisi menuju pemerintahan Pakubuwono II (1725–1749), kebutuhan untuk memperkuat kontrol atas wilayah timur semakin mendesak. Ancaman regional, potensi pemberontakan, serta pentingnya efisiensi administrasi mendorong kerajaan melakukan restrukturisasi wilayah, termasuk pemindahan pusat pemerintahan Jipang ke Rajekwesi.
III. Identitas, Silsilah, dan Legitimasi Aristokrasi
Harya Matahun I lahir dalam tradisi aristokrasi Jawa dengan nama Pangeran Sasongko atau Raden Songko. Setelah memperoleh jabatan formal dalam struktur pemerintahan Mataram, ia dianugerahi gelar resmi Raden Tumenggung Harya Matahun I, sebuah gelar yang menunjukkan statusnya sebagai elite regional dengan legitimasi administratif dan politik tinggi.
Dalam budaya politik Jawa, gelar semacam ini tidak sekadar simbol kehormatan, melainkan instrumen legalitas kekuasaan yang menempatkan pemegangnya dalam hierarki bangsawan pemerintahan kerajaan.
Tradisi genealogis lokal Bojonegoro dan Serat Matahunan menghubungkan Harya Matahun I dengan garis keturunan kerajaan besar Jawa, mulai dari Raden Wijaya (pendiri Majapahit, 1293), Raden Patah (pendiri Demak, akhir abad ke-15), hingga Dinasti Mataram Islam.
Konstruksi silsilah tersebut berfungsi sebagai legitimasi aristokratik yang sangat penting dalam memperkuat posisi politik regional. Melalui hubungan simbolik dengan Majapahit, Demak, dan Mataram, Harya Matahun I diposisikan sebagai penerus sah tradisi kekuasaan Jawa.
Namun, historiografi modern menunjukkan bahwa sumber genealogis seperti babad lokal, tradisi lisan, dan serat keluarga harus dibaca secara kritis karena sering berfungsi sebagai alat legitimasi simbolik.
IV. Pengangkatan Sebagai Bupati Jipang (1718)
Pada tahun 1718, Pangeran Sasongko resmi menggantikan Ki Wirosentiko sebagai Bupati Jipang ke-3. Sebelum pengangkatan ini, ia diketahui telah menjabat dalam struktur birokrasi lokal sebagai patih, yang menunjukkan adanya pola kaderisasi aristokrasi regional dalam sistem pemerintahan Mataram.
Pengangkatannya mencerminkan kepercayaan kerajaan terhadap kapasitas administratif, genealogis, dan politiknya dalam mengelola kawasan strategis Jipang.
Pusat pemerintahan awal tetap berada di Padangan, bandar sungai utama di Bengawan Solo. Struktur pemerintahan di kawasan ini meliputi pengelolaan fiskal, perdagangan, distribusi logistik, dan pengamanan militer.
Aktivitas ekonomi regional berkembang melalui distribusi beras, kayu jati, peternakan, dan perdagangan antarwilayah. Selama periode 1718–1725, Harya Matahun I berhasil mempertahankan stabilitas politik regional, menjaga loyalitas terhadap Mataram, serta memperkuat posisi Jipang dalam struktur Mancanegara Wetan.
V. Pemindahan Ibu Kota Jipang ke Rajekwesi (1725)
Tahun 1725 menjadi salah satu tonggak paling fundamental dalam sejarah awal Bojonegoro ketika Susuhunan Pakubuwono II mengeluarkan kebijakan strategis untuk memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dari Padangan ke Rajekwesi.
Keputusan ini berlangsung dalam konteks konsolidasi kekuasaan Mataram pasca-transisi pemerintahan dari Pakubuwono I menuju Pakubuwono II, ketika kerajaan menghadapi kebutuhan mendesak untuk memperkuat kontrol administratif dan pertahanan di wilayah Mancanegara Wetan.
Dalam struktur geopolitik Jawa awal abad ke-18, Jipang bukan sekadar kabupaten biasa, melainkan kawasan strategis yang menghubungkan pedalaman Mataram dengan jalur perdagangan sungai Bengawan Solo dan kawasan pesisir utara Jawa Timur. Karena itu, pemindahan ibu kota bukan tindakan administratif sederhana, melainkan bagian dari restrukturisasi kekuasaan kerajaan yang dirancang untuk memperkuat stabilitas regional sekaligus memperbesar efektivitas kontrol pusat terhadap wilayah timur.
Padangan sebelumnya berkembang sebagai bandar perdagangan utama di tepian Bengawan Solo dengan fungsi ekonomi yang sangat penting. Sejak abad ke-17, wilayah ini menjadi jalur distribusi beras, kayu jati, hasil peternakan, dan logistik regional yang menghubungkan Bojonegoro dengan Tuban, Gresik, Surabaya, hingga Kartasura.
Posisi ekonomi ini menjadikan Padangan pusat aktivitas fiskal dan perdagangan Jipang. Namun, dari perspektif pertahanan dan administrasi kerajaan, posisi Padangan dinilai memiliki sejumlah kerentanan strategis. Letaknya yang sangat terbuka di jalur sungai utama menjadikannya rentan terhadap pengaruh eksternal, infiltrasi politik, serta ancaman militer dari wilayah pesisir dan kawasan timur seperti Madura atau Gresik.
Dalam situasi politik Mataram yang semakin kompleks pada awal pemerintahan Pakubuwono II, kebutuhan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi yang lebih defensif menjadi prioritas utama.
Rajekwesi, yang terletak lebih ke pedalaman di kawasan yang kini berada sekitar Ngumpakdalem-Dander, dipilih karena memiliki posisi strategis yang lebih aman secara militer dan administratif. Lokasi ini memungkinkan kontrol politik yang lebih kuat, pengawasan wilayah yang lebih efisien, serta pertahanan teritorial yang lebih stabil dibanding Padangan.
Pemindahan ini sekaligus mencerminkan perubahan orientasi politik Mataram dari ketergantungan utama pada pusat perdagangan sungai menuju pembangunan pusat kekuasaan yang lebih terlindungi secara geopolitik.
Dalam konteks ini, Harya Matahun I memainkan peran sentral sebagai pelaksana utama kebijakan kerajaan. Sebagai Bupati Jipang sekaligus Wedana Bupati Mancanegara Wetan, ia bertanggung jawab memastikan transisi pemerintahan berlangsung efektif tanpa mengganggu stabilitas fiskal maupun politik regional.
Kebijakan pemindahan ibu kota tahun 1725 juga menandai transformasi nomenklatur resmi dari Kabupaten Jipang menjadi Kabupaten Rajekwesi. Perubahan nama ini memiliki makna politik yang mendalam karena mencerminkan restrukturisasi administratif penuh dalam kerangka pemerintahan Mataram.
Harya Matahun I dengan demikian tercatat dalam sejarah sebagai Bupati Jipang terakhir sekaligus Bupati Rajekwesi pertama. Status ganda ini menempatkannya sebagai figur transisional paling penting dalam sejarah awal Bojonegoro.
Transformasi ini bukan hanya memindahkan pusat pemerintahan, tetapi juga membentuk struktur kelembagaan baru yang lebih terintegrasi dengan kebutuhan fiskal, militer, dan politik kerajaan.
Sebagai Wedana Bupati Mancanegara Wetan, Harya Matahun I memanfaatkan Rajekwesi bukan hanya sebagai ibu kota administratif, tetapi juga sebagai basis militer regional. Restrukturisasi wilayah memungkinkan Rajekwesi berkembang sebagai pusat mobilisasi pasukan, pengumpulan pajak, distribusi logistik, dan pengawasan kawasan timur kerajaan.
Dalam jangka panjang, keputusan ini terbukti sangat strategis karena pada dekade berikutnya Rajekwesi mampu memainkan peran penting sebagai basis operasi militer dalam konflik besar Mataram-Madura tahun 1740–1741.
Dengan demikian, pemindahan ibu kota tahun 1725 tidak hanya berdampak administratif, tetapi juga menciptakan fondasi pertahanan regional yang memperkuat posisi Bojonegoro dalam struktur geopolitik Jawa Timur.
Dari perspektif sejarah Bojonegoro modern, relokasi dari Padangan ke Rajekwesi merupakan momen kelahiran struktural daerah. Kebijakan ini menandai pergeseran identitas wilayah dari bandar perdagangan Jipang menjadi pusat pemerintahan Rajekwesi yang lebih terorganisasi dan siap berkembang sebagai embrio Bojonegoro.
Struktur administratif yang dibangun Harya Matahun I melalui kebijakan ini menjadi fondasi langsung bagi evolusi pemerintahan Bojonegoro pada masa kolonial hingga era modern.
Oleh karena itu, pemindahan ibu kota Jipang ke Rajekwesi pada tahun 1725 harus dipahami sebagai transformasi geopolitik besar yang menjadikan Harya Matahun I sebagai arsitek utama pembentukan Bojonegoro awal.
VI. Harya Matahun I Sebagai Wedana Bupati Mancanegara Wetan
Sebagai Wedana Bupati Mancanegara Wetan, Harya Matahun I memegang jabatan supra-regional dengan otoritas atas sejumlah wilayah strategis di Jawa Timur. Fungsi utamanya meliputi pengumpulan pajak, pengawasan distribusi ekonomi, mobilisasi militer, dan stabilitas politik regional.
Posisi ini menempatkannya langsung di bawah Susuhunan dan di atas bupati-bupati lokal lain, menjadikannya salah satu aristokrat regional paling berpengaruh di Jawa Timur awal abad ke-18.
VII. Konflik Mataram-Madura dan Gugurnya Harya Matahun I (1740–1741)
Konflik antara Kesultanan Mataram di bawah pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II dengan penguasa Madura, Cakraningrat IV, pada periode 1740–1741 merupakan salah satu episode paling menentukan dalam sejarah politik Jawa Timur abad ke-18 sekaligus fase akhir yang menentukan nasib Harya Matahun I sebagai penguasa Rajekwesi.
Ketegangan ini berakar pada memburuknya hubungan politik antara pusat kerajaan Kartasura dengan Madura, terutama setelah Cakraningrat IV semakin menunjukkan kecenderungan otonom dan menolak tunduk sepenuhnya terhadap otoritas Mataram.
Dalam struktur politik Jawa, tindakan penolakan terhadap Susuhunan bukan sekadar pembangkangan administratif, melainkan ancaman langsung terhadap legitimasi negara. Pada dekade 1740-an, Cakraningrat IV berupaya memperluas pengaruh politik dan militernya di wilayah pesisir timur Jawa, termasuk Gresik dan Sedayu, sehingga menciptakan ancaman strategis terhadap stabilitas kawasan Mancanegara Wetan.
Situasi ini mendorong Pakubuwono II mengambil langkah militer untuk menegakkan kembali supremasi kerajaan di wilayah timur. Dalam konteks tersebut, Harya Matahun I sebagai Bupati Rajekwesi sekaligus Wedana Bupati Mancanegara Wetan memperoleh mandat langsung dari Susuhunan untuk memimpin mobilisasi pasukan regional.
Posisi supra-regionalnya menjadikan dirinya bukan sekadar kepala daerah, tetapi komandan strategis yang bertanggung jawab atas stabilitas politik, logistik, dan pertahanan wilayah timur Mataram.
Perintah militer kepada Harya Matahun I menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan kerajaan terhadap kapasitas politik dan militernya. Rajekwesi yang telah direstrukturisasi sejak tahun 1725 terbukti berkembang bukan hanya sebagai pusat pemerintahan administratif, tetapi juga sebagai basis militer regional yang mampu menyediakan pasukan, logistik, dan koordinasi strategis.
Mobilisasi pasukan Jipang-Rajekwesi menuju kawasan konflik di Gresik dan Sedayu memperlihatkan bahwa Bojonegoro awal telah memainkan fungsi penting dalam geopolitik Jawa Timur. Pasukan regional yang dipimpin Harya Matahun I bergerak sebagai bagian dari ekspedisi besar Mataram untuk menekan kekuatan Madura dan sekutu-sekutunya di pesisir.
Dalam tahap awal operasi militer, pasukan Rajekwesi dilaporkan berhasil menekan kekuatan lawan dan memperoleh kemenangan strategis. Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas struktur militer yang dibangun Harya Matahun I selama masa pemerintahannya, sekaligus menegaskan pentingnya transformasi Rajekwesi sebagai fondasi pertahanan regional.
Namun, konflik tersebut berkembang menjadi lebih kompleks ketika pasukan Madura menerapkan strategi non-konvensional melalui tipu muslihat politik dan militer. Dalam tradisi sejarah lokal Bojonegoro, pasukan Madura dilaporkan menggunakan penyamaran sebagai pembawa upeti atau utusan penyerahan diri untuk mendekati Harya Matahun I.
Strategi ini memanfaatkan norma diplomatik Jawa yang menjunjung penghormatan terhadap simbol penyerahan resmi. Saat situasi dianggap aman dan pasukan Rajekwesi menurunkan kewaspadaan, serangan mendadak dilancarkan.
Dalam momentum inilah Harya Matahun I gugur di Badholeng, Sedayu. Menurut tradisi penanggalan Jawa, wafatnya terjadi pada hari Sabtu Kliwon, 3 Ruwah tahun Jimakhir, yang dalam sinkronisasi historiografi modern berkisar antara tahun 1740 hingga 1741 Masehi.
Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling monumental dalam sejarah Bojonegoro, karena menandai berakhirnya pemerintahan figur transisional paling penting dalam pembentukan struktur awal daerah tersebut.
Gugurnya Harya Matahun I memiliki makna jauh melampaui sekadar kekalahan militer personal. Dalam perspektif politik Jawa, kematian seorang adipati dalam tugas kerajaan merepresentasikan bentuk tertinggi loyalitas aristokrasi terhadap negara.
Ia dipandang sebagai martir politik regional yang wafat dalam mempertahankan legitimasi Mataram di tengah ancaman disintegrasi kawasan timur. Jenazahnya kemudian dipulangkan oleh putranya, Raden Tumenggung Kramawijaya, ke Astana Mojoranu di Desa Ngraseh, Dander, yang selanjutnya menjadi situs makam utama tokoh ini.
Dalam memori kolektif Bojonegoro, peristiwa gugurnya Harya Matahun I di Badholeng Sedayu tidak hanya dikenang sebagai akhir pemerintahan, tetapi juga sebagai simbol pengabdian tertinggi terhadap negara, fondasi moral aristokrasi daerah, dan manifestasi historis loyalitas politik regional.
VIII. Pemakaman, Warisan, dan Memori Kolektif
Jenazah Harya Matahun I dipulangkan oleh putranya, R.T. Kramawijaya, ke Astana Mojoranu, Ngraseh, Dander. Makam ini kemudian menjadi situs sejarah utama Bojonegoro dan lokasi ritual ziarah tahunan pemerintah daerah pada peringatan Hari Jadi Bojonegoro.
Warisan politiknya meliputi status sebagai Bupati Jipang terakhir, Bupati Rajekwesi pertama, serta pendiri fondasi administratif Bojonegoro awal. Dalam historiografi lokal, Harya Matahun I dikenang sebagai leluhur pemerintahan Bojonegoro, tokoh transisi politik Jawa Timur, dan simbol identitas regional yang terus hidup hingga era modern.
IX. Kesimpulan
Harya Matahun I merupakan figur historis yang memainkan peran fundamental dalam transformasi Jipang Padangan menjadi Rajekwesi, sekaligus meletakkan fondasi administratif, militer, dan geopolitik bagi lahirnya Bojonegoro modern. Masa pemerintahannya pada 1718–1741 mencerminkan integrasi antara politik regional, strategi kerajaan Mataram, dan pembentukan identitas kelembagaan daerah.
Sebagai aristokrat, administrator, dan komandan militer, Harya Matahun I menempati posisi unik dalam sejarah Jawa Timur sebagai arsitek transisi regional yang warisannya tetap relevan dalam konstruksi identitas Bojonegoro kontemporer.















