
Ditulis Oleh : Mat Kohar, S.Kom
Pemerhati Sejarah Bojonegoro
KABUPATEN JIPANG – Padangan merupakan salah satu wilayah tua yang perkembangan sejarahnya harus dibaca dalam bentang panjang peradaban Jawa Timur sejak era kerajaan kuno hingga kolonial modern, sebagaimana diperkuat oleh berbagai sumber primer seperti Prasasti Telang (903 M), Prasasti Sangsang (907 M), Prasasti Pucangan (1041 M), Prasasti Maribong (1264 M), hingga Prasasti Canggu (1358 M) yang menempatkan kawasan Jipang-Padangan dalam struktur strategis kerajaan-kerajaan besar Jawa Timur.
Sebelum mencapai puncak perannya sebagai ibu kota administratif Kabupaten Jipang pada 1677 melalui kebijakan Sultan Amangkurat II pasca-Perjanjian Jepara, kawasan ini telah berkembang melalui proses panjang sebagai simpul politik, ekonomi, spiritual, dan sosial yang terus terhubung dengan dinamika kekuasaan besar di Jawa.
Era Kerajaan Mataram Kuno – Medang – Kahuripan
Era Kerajaan Singhasari Majapahit
Pada abad ke-13, posisi Jipang semakin jelas melalui Prasasti Maribong atau Trowulan II (1264 M) dari era Singasari pada masa Raja Wisnuwardhana. Dalam prasasti ini, wilayah Jipang diakui sebagai kawasan penting yang memperoleh legitimasi kerajaan melalui penetapan tanah sima bagi kelompok Brahmana yang berjasa besar terhadap dinasti Rajasa. Penyebutan Desa Maribong—yang kini diidentifikasi dengan wilayah Ngraho, Bojonegoro—menjadi bukti epigrafis kuat bahwa Jipang telah berkembang sebagai wilayah religius, administratif, dan politik penting sejak masa Singasari. Bahkan sebelum Majapahit mencapai puncak kejayaannya, Jipang telah menjadi bagian integral dalam struktur kekuasaan Jawa Timur.
Era Kesultanan Demak
Era Kesultanan Pajang

Setelah Pangeran Harya Penangsang gugur pada 1554, kesinambungan Kadipaten Jipang dalam tradisi genealogis Jawa diyakini berlanjut melalui adiknya, Arya Mataram. Peralihan ini dipahami sebagai bagian dari strategi politik Kesultanan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya untuk menjaga stabilitas kawasan Jipang sekaligus mempertahankan kesinambungan aristokrasi lokal di tengah perubahan besar pasca runtuhnya dominasi Demak-Jipang. Kebijakan tersebut memungkinkan struktur elite setempat tetap terintegrasi ke dalam tatanan kekuasaan baru tanpa memutus legitimasi sosial yang telah lama mengakar dalam masyarakat.
Dalam fase ini, Jipang mengalami reposisi politik dari pusat supremasi Demak menjadi kadipaten bawahan Pajang yang tetap memiliki nilai strategis tinggi secara geopolitik, ekonomi, dan sosial. Keberlanjutan garis aristokrasi melalui Arya Mataram menjadi landasan penting bagi stabilitas regional serta membuka ruang bagi migrasi bangsawan, ulama, dan perkembangan dakwah Islam pada era Pajang berikutnya.
Era Dakwah Islam Di Bumi Padangan Dan Sekitarnya
Era Kabupaten Jipang – Padangan
Transformasi paling menentukan dalam sejarah Jipang-Padangan terjadi ketika krisis Mataram dan tekanan VOC melahirkan Perjanjian Jepara pada 28 September 1677. Perjanjian ini menjadi titik balik reorganisasi politik regional yang secara resmi memindahkan pusat pemerintahan Jipang ke Padangan pada 20 Oktober 1677. Penetapan tersebut bukan keputusan acak, melainkan didasarkan pada kematangan historis Padangan sebagai kawasan strategis yang telah memiliki fondasi ekonomi kuat, jaringan sosial-keagamaan mapan, serta kapasitas regional yang mendukung stabilitas pemerintahan baru. Pengangkatan Pangeran Mas Toemapel sebagai bupati pertama menandai perubahan fundamental Padangan dari basis aristokrasi religius menjadi pusat birokrasi resmi Kabupaten Jipang.
Sepanjang 1677–1725, Padangan berkembang sebagai poros pemerintahan, perdagangan, pengawasan kolonial regional, dan kehidupan religius. Fase awal ini dipimpin oleh Pangeran Mas Toemapel (1677–1705), yang diangkat langsung oleh Amangkurat II sebagai Bupati I sekaligus Wedana Bupati Mancanegara Wetan. Masa pemerintahannya menjadi fondasi utama pembentukan struktur administratif baru, konsolidasi kekuasaan pasca-krisis Mataram, serta penguatan legitimasi Padangan sebagai pusat pemerintahan formal.
Kepemimpinan berikutnya berada di tangan Ki Wirosentiko atau Raden Tumenggung Surowidjojo (1705–1718), yang memerintah pada masa transisi politik besar antara Amangkurat II dan Pakubuwono I. Pemerintahannya berlangsung di tengah pergolakan Perang Mahkota Jawa dan meningkatnya penetrasi VOC dalam struktur kekuasaan Mataram. Dalam tradisi lokal, Ki Wirosentiko dikenal sebagai figur aristokrat regional yang memiliki sikap relatif independen terhadap dominasi kolonial.
Fase terakhir Padangan sebagai ibu kota administratif berlangsung di bawah Ki Songko atau Raden Tumenggung Hario Matahun I (1718–1741). Pada masa inilah, tepatnya tahun 1725, Pakubuwono II memerintahkan pemindahan pusat pemerintahan ke Rajekwesi. Kebijakan tersebut menandai berakhirnya Padangan sebagai ibu kota administratif, meskipun pengaruh historis, religius, dan sosialnya tetap bertahan kuat dalam struktur regional.

Era Kabupaten Jipang – Rajekwesi
Setelah Sri Susuhunan Pakubuwono II memindahkan pusat pemerintahan resmi dari Padangan ke Rajekwesi, menandai lahirnya era baru Kabupaten Rajekwesi sebagai kelanjutan administratif Kabupaten Jipang. Rajekwesi kemudian berkembang sebagai pusat birokrasi, politik, dan ekonomi regional hingga 1828. Pemerintahan fase ini berlangsung melalui sejumlah bupati penting, mulai dari Ki Songko (R.T. Hario Matahun I), R.T. Hario Matahun II, R.T. Hario Matahun III, R. Rangga Prawirodirjo I, R. Purwodidjojo, R.M. Guntur Wirotedjo, R. Rangga Djenggot, R. Prawirosentiko pada masa Raffles, hingga R.T. Sumonegoro, Sosrodiningrat, Purwonegoro, dan R. Adipati Djojonegoro. Dalam periode ini, wilayah Jipang-Rajekwesi mengalami perkembangan administratif yang semakin kompleks di bawah pengaruh Mataram, VOC, Inggris, hingga Hindia Belanda.
Meskipun status administratif berpindah, Padangan tidak mengalami kemunduran sebagai pusat peradaban regional. Sebaliknya, wilayah ini terus berkembang sebagai salah satu basis dakwah Islam pedalaman terpenting di Jawa Timur bagian barat. Warisan aristokrasi Pajang, jaringan pesantren awal, kekuatan sosial-keagamaan, serta keberadaan keluarga ulama besar menjadikan Padangan sebagai kawasan yang melahirkan banyak tokoh agama, cendekiawan Islam, dan pemimpin sosial-keagamaan. Transformasi dari aristokrasi politik menuju aristokrasi keilmuan terlihat melalui pertumbuhan pesantren, tradisi pengajian kitab, kaderisasi santri, penguatan sanad keilmuan, serta produksi manuskrip lokal yang memperkaya khazanah Islam regional.
Tokoh seperti Mbah Sabil, jaringan Wali Kidangan, Mbah Abdul Jabbar, serta generasi penerus ulama Padangan memainkan peran besar dalam memperluas pengaruh Islam ke Bojonegoro, Blora, Tuban, dan kawasan Mataraman barat. Tradisi intelektual ini mencapai bentuk dokumentatif penting melalui Kitab Klotok karya Mbah Durrohman, yang merekam dinamika sosial-keagamaan masyarakat, termasuk pagebluk besar tahun 1825.

Akhir Sejarah Panjang Kabupaten Jipang
Pergolakan terbesar pada fase Rajekwesi mencapai puncaknya dalam konteks Perang Diponegoro ketika Raden Tumenggung Aria Sosrodilogo, tokoh aristokrasi lokal sekaligus panglima penting dalam jaringan perjuangan Diponegoro, berhasil merebut Rajekwesi pada 1827 sebagai bagian dari front perlawanan Jawa terhadap kolonial Belanda. Dalam aksinya, Sosrodilogo membakar instalasi kolonial, mengusir otoritas Belanda, membebaskan tahanan, serta memperoleh legitimasi kuat dari masyarakat setempat sebagai simbol perlawanan regional. Gerakan ini mencerminkan kesinambungan semangat resistensi aristokrasi Jipang-Rajekwesi terhadap dominasi kolonial sekaligus menunjukkan bahwa wilayah ini tetap menjadi arena strategis dalam pergolakan politik Jawa abad ke-19.
Besarnya dampak politik perlawanan Sosrodilogo mendorong pemerintah Hindia Belanda melakukan restrukturisasi administratif secara menyeluruh. Pada 25 September 1828, Rajekwesi resmi diubah menjadi Bojonegoro, menandai lahirnya identitas administratif modern sekaligus berakhirnya eksistensi formal Kabupaten Jipang sebagai entitas pemerintahan historis. Pergantian nama tersebut bukan sekadar perubahan administratif, melainkan strategi politik kolonial untuk menghapus identitas historis Jipang-Rajekwesi, melemahkan simbol perlawanan lokal, serta menata ulang struktur kekuasaan regional di bawah kontrol Hindia Belanda.
Sintesis Kronologi Sejarah Lengkap:
- Abad XI: Medang–Airlangga (Prasasti Pucangan)
- Abad XIII: Singasari (Prasasti Maribong)
- 1301–1358: Majapahit (Adan-Adan, Tuhanyaru, Canggu, Pamintihan)
- 1525–1554: Kadipaten Jipang Panolan (Arya Penangsang)
- 1554–akhir abad XVI: Pajang (Sekar Seda ing Lepen)
- Era Pangeran Benowo: Migrasi elite Pajang dan basis dakwah Islam
- Mbah Sabil, Wali Kidangan, Abdul Jabbar: Konsolidasi aristokrasi religius Padangan-Kidangan
- 1677: Padangan menjadi ibu kota administratif Kabupaten Jipang
- 1725: Rajekwesi
- 1828: Bojonegoro modern
















2 thoughts on “Sejarah Lengkap Kabupaten Jipang 1677-1828”