Tambakberas 1295 M, Tragedi Berdarah di Awal Majapahit

TAMBAKBERAS – Tahun 1295 M merupakan salah satu masa paling genting dalam sejarah awal Kerajaan Majapahit. Hanya dua tahun setelah kerajaan didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293 M, konflik bersenjata meletus di antara para tokoh yang sebelumnya bersama-sama berjuang menumbangkan kekuasaan Kediri dan mengusir pasukan Mongol Yuan dari Jawa. Peristiwa yang dalam tradisi historiografi Jawa dikenal sebagai Pertempuran Tambakberas itu berakhir dengan gugurnya dua tokoh penting generasi pendiri Majapahit, yakni Ranggalawe dan Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang. Bagi banyak sejarawan, konflik tersebut dapat dipandang sebagai perang saudara pertama dalam sejarah Majapahit karena melibatkan para pendukung utama kerajaan yang sebelumnya berada dalam satu barisan politik.
Rekonstruksi sejarah mengenai peristiwa ini bertumpu pada sejumlah sumber yang memiliki tingkat otoritas berbeda. Sumber utama yang secara langsung menyebut Ranggalawe dan Mahisa Anabrang adalah Pararaton serta Kidung Ranggalawe. Sementara itu, Kidung Panji Wijayakrama memberikan konteks tambahan mengenai tokoh-tokoh generasi awal Majapahit. Untuk memahami latar politik yang lebih luas digunakan Prasasti Padang Roco, Prasasti Amoghapasa, serta Nagarakretagama yang merekam hubungan Jawa dan Melayu serta struktur politik Majapahit pada abad ke-14. Dengan demikian, sejarah Tambakberas tidak berdiri sebagai peristiwa yang terpisah, melainkan bagian dari dinamika politik yang menghubungkan akhir Singhasari, Ekspedisi Pamalayu, dan proses konsolidasi awal Majapahit.
Table of Contents
ToggleDari Pamalayu Menuju Majapahit
Nama Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang dalam tradisi historiografi Jawa erat dikaitkan dengan Ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan Raja Kertanegara pada tahun 1275 M. Ekspedisi tersebut merupakan salah satu kebijakan geopolitik terbesar Singhasari pada abad ke-13 yang bertujuan memperluas pengaruh politik Jawa ke Sumatra, memperkuat hubungan dengan Kerajaan Melayu Dharmasraya, serta mengamankan jalur perdagangan internasional di kawasan Selat Malaka. Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan ini juga dipahami oleh sejumlah sejarawan sebagai bagian dari strategi Kertanegara menghadapi meningkatnya pengaruh Kekaisaran Yuan di Asia Tenggara.
Bukti primer terkuat mengenai keberadaan hubungan politik antara Singhasari dan Melayu berasal dari Prasasti Padang Roco yang bertarikh 1208 Saka atau 1286 M. Prasasti tersebut mencatat pengiriman Arca Amoghapasa ke Dharmasraya atas perintah Kertanegara. Dalam bagian prasasti disebutkan:
“śrīmat śrī kṛtanāgarīndra … amoghapāśa lokanātha saha caturdaśa pariwāra”
Kutipan berbahasa Sanskerta tersebut menyebut Raja Kertanegara dan Arca Amoghapasa Lokanatha beserta empat belas pengiringnya yang dikirim ke Melayu. Bagi para sejarawan, prasasti ini merupakan bukti primer yang menegaskan bahwa hubungan politik dan keagamaan antara Singhasari dan Dharmasraya benar-benar berlangsung pada akhir abad ke-13. Prasasti ini sekaligus menjadi landasan historis yang membuktikan bahwa kebijakan Pamalayu bukan sekadar legenda atau tradisi lisan, melainkan sebuah peristiwa politik yang tercatat dalam sumber sezaman.
Meskipun demikian, tidak terdapat satu pun bagian Prasasti Padang Roco yang menyebut nama Mahisa Anabrang. Karena itu, secara akademik tidak dapat dinyatakan bahwa prasasti tersebut membuktikan Mahisa Anabrang sebagai pemimpin Ekspedisi Pamalayu. Hubungan antara Mahisa Anabrang dan Pamalayu berasal dari tradisi historiografi Jawa yang berkembang kemudian, terutama dalam Kidung Panji Wijayakrama serta sejumlah tradisi kronikal Majapahit. Oleh sebab itu, keberadaan Pamalayu merupakan fakta sejarah yang didukung prasasti sezaman, sedangkan peran Mahisa Anabrang dalam ekspedisi tersebut merupakan rekonstruksi historiografis yang bersumber dari tradisi sastra sejarah.
Gambaran mengenai pentingnya kawasan Melayu dalam dunia politik Jawa juga tercermin dalam Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam Pupuh XIII disebutkan:
“Melayu, Jambi, Palembang, Teba, Darmmasraya…”
Penyebutan wilayah-wilayah tersebut menunjukkan bahwa hampir delapan dekade setelah Ekspedisi Pamalayu, kawasan Melayu masih dipandang sebagai bagian penting dari jaringan politik dan ekonomi yang terhubung dengan Majapahit. Walaupun Nagarakretagama bukan sumber sezaman dengan peristiwa Pamalayu maupun Pertempuran Tambakberas, kakawin ini memberikan konteks yang sangat penting mengenai kesinambungan hubungan Jawa dan Sumatra sejak masa Singhasari hingga masa kejayaan Majapahit.
Berdirinya Majapahit dan Munculnya Ketegangan
Keruntuhan Kerajaan Singhasari pada tahun 1292 M menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Jawa Timur. Menurut tradisi yang terekam dalam Pararaton, Raja Kertanegara gugur setelah serangan yang dilancarkan oleh Jayakatwang, penguasa Kediri yang memberontak terhadap kekuasaan Singhasari. Runtuhnya Singhasari mengakhiri Dinasti Rajasa yang telah berkuasa sejak masa Ken Arok, sekaligus menciptakan kekosongan politik yang membuka jalan bagi lahirnya kekuatan baru di Jawa.
Dalam situasi yang penuh gejolak tersebut, Raden Wijaya, menantu Kertanegara, berhasil menyelamatkan diri dan memperoleh perlindungan dari Arya Wiraraja di Madura. Atas saran Arya Wiraraja, Raden Wijaya memperoleh izin dari Jayakatwang untuk membuka hutan Tarik yang kemudian berkembang menjadi permukiman baru bernama Majapahit. Nama tersebut menurut tradisi berasal dari buah maja yang rasanya pahit dan banyak ditemukan di kawasan itu.
Perubahan besar terjadi pada tahun 1293 M ketika armada Mongol Yuan yang dikirim oleh Kublai Khan tiba di Jawa untuk menghukum Kertanegara yang sebelumnya menolak tunduk kepada kekaisaran Mongol. Karena Kertanegara telah wafat, Raden Wijaya memanfaatkan situasi tersebut dengan menjalin kerja sama sementara dengan pasukan Yuan untuk menyerang Jayakatwang. Setelah Kediri berhasil ditaklukkan, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol dan memaksa mereka meninggalkan Jawa. Peristiwa inilah yang menjadi fondasi berdirinya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M.
Tradisi historiografi Jawa menggambarkan bahwa di sekitar Raden Wijaya berkumpul sejumlah tokoh yang kemudian menjadi elite generasi pertama Majapahit. Mereka antara lain Ranggalawe, Nambi, Lembu Sora, Arya Wiraraja, dan Mahisa Anabrang. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dalam berbagai sumber Jawa dianggap memiliki jasa besar dalam proses kelahiran kerajaan baru tersebut. Sebagian berasal dari lingkungan aristokrasi Singhasari, sementara sebagian lainnya merupakan sekutu politik yang membantu perjuangan Raden Wijaya sejak masa pelarian hingga berdirinya Majapahit.
Meskipun demikian, persatuan para pendiri Majapahit ternyata tidak berlangsung lama. Menurut tradisi yang tercatat dalam Pararaton dan dikembangkan lebih lanjut dalam Kidung Ranggalawe, benih-benih ketegangan mulai muncul setelah pengangkatan Nambi sebagai Mahapatih Majapahit. Dalam tradisi tersebut, keputusan Raden Wijaya untuk memberikan jabatan tertinggi pemerintahan kepada Nambi menimbulkan ketidakpuasan di kalangan tertentu, terutama yang merasa memiliki jasa besar dalam pendirian kerajaan. Kidung Ranggalawe menggambarkan situasi ini sebagai awal memburuknya hubungan antara istana dan Ranggalawe.
Namun perlu dicatat bahwa sumber-sumber primer tidak menjelaskan secara rinci proses pengangkatan Nambi maupun alasan politik di balik munculnya konflik tersebut. Karena itu, para sejarawan modern memandang ketegangan antara Ranggalawe dan istana bukan semata-mata persoalan jabatan, melainkan kemungkinan berkaitan dengan proses konsolidasi kekuasaan yang lazim terjadi dalam kerajaan yang baru berdiri. Dalam konteks inilah perselisihan yang mula-mula bersifat politik kemudian berkembang menjadi konflik terbuka yang berujung pada Pertempuran Tambakberas tahun 1295 M, salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah awal Majapahit.
Ranggalawe dan Perlawanan terhadap Istana
Dalam sumber-sumber historiografi Jawa, Ranggalawe digambarkan sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh pada masa awal berdirinya Majapahit. Ia merupakan putra Arya Wiraraja, penguasa Sumenep yang berperan penting dalam membantu Raden Wijaya membangun kembali kekuatan politik setelah runtuhnya Singhasari pada tahun 1292 M. Berkat dukungan Arya Wiraraja dan jaringan kekuatan Madura-Tuban, Raden Wijaya berhasil mendirikan Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M. Dalam konteks tersebut, posisi Ranggalawe bukan sekadar pejabat daerah, melainkan bagian dari kelompok elite yang memiliki kontribusi langsung terhadap lahirnya kerajaan baru di Jawa Timur.
Informasi mengenai konflik antara Ranggalawe dan istana Majapahit terutama berasal dari Pararaton dan Kidung Ranggalawe. Pararaton memberikan keterangan yang relatif singkat, sedangkan Kidung Ranggalawe menyajikan uraian yang lebih panjang dengan corak sastra kepahlawanan yang kuat. Kedua sumber tersebut sama-sama menunjukkan adanya ketegangan politik pada masa awal pemerintahan Raden Wijaya, meskipun tidak seluruh detail yang disampaikan dapat diverifikasi melalui sumber sezaman.
Menurut tradisi yang terekam dalam Pararaton, konflik bermula setelah pengangkatan Nambi sebagai Mahapatih Majapahit. Keputusan tersebut digambarkan menimbulkan ketidakpuasan di kalangan tertentu, termasuk Ranggalawe. Akan tetapi, sumber-sumber yang ada tidak menjelaskan secara rinci alasan politik maupun proses pengangkatan tersebut. Karena itu, para sejarawan modern cenderung melihat peristiwa ini sebagai bagian dari dinamika konsolidasi kekuasaan yang lazim terjadi pada kerajaan yang baru berdiri, ketika distribusi jabatan dan pengaruh politik menjadi sumber persaingan di antara para pendukung utama kerajaan.
Kidung Ranggalawe menggambarkan eskalasi konflik tersebut melalui bait yang terkenal:
“Sira Ranggalawe amuk ana Tambakberas.”
Terjemahan bebasnya:
“Ranggalawe mengamuk di Tambakberas.”
Kutipan tersebut merupakan salah satu rujukan tekstual yang menghubungkan konflik Ranggalawe dengan Tambakberas. Namun perlu dicatat bahwa Kidung Ranggalawe merupakan karya sastra sejarah yang ditulis beberapa generasi setelah peristiwa berlangsung. Oleh sebab itu, kutipan tersebut lebih tepat dipahami sebagai representasi memori historis masyarakat Jawa daripada laporan pertempuran yang ditulis oleh saksi mata.
Terlepas dari perbedaan penafsiran mengenai penyebab konflik tersebut, Pararaton dan Kidung Ranggalawe sama-sama menunjukkan bahwa perselisihan antara Ranggalawe dan pihak kerajaan berkembang menjadi konfrontasi bersenjata. Sumber-sumber yang tersedia tidak memberikan penjelasan rinci mengenai seluruh proses politik yang melatarbelakanginya, tetapi keduanya sepakat bahwa konflik tersebut berakhir di medan pertempuran. Dalam tradisi historiografi Jawa, peristiwa itu mencapai puncaknya dalam Pertempuran Tambakberas pada tahun 1295 M, yang kemudian mengakibatkan gugurnya Ranggalawe dan Mahisa Anabrang. Karena melibatkan tokoh-tokoh utama yang sebelumnya berada dalam lingkungan pendukung Raden Wijaya, banyak sejarawan memandang peristiwa ini sebagai konflik internal pertama yang mengguncang Majapahit pada masa awal pembentukannya.
Pertempuran Tambakberas Tahun 1295
Puncak konflik antara Ranggalawe dan pemerintahan Majapahit terjadi pada tahun 1295 M. Dalam tradisi historiografi Jawa, peristiwa tersebut dikenal sebagai Pertempuran Tambakberas, sebuah bentrokan yang mempertemukan pasukan kerajaan dengan pengikut Ranggalawe. Nama Tambakberas muncul dalam Kidung Ranggalawe dan kemudian diwariskan dalam berbagai tradisi sejarah Jawa sebagai lokasi pertempuran yang menentukan nasib para tokoh utama Majapahit generasi pertama.
Meskipun demikian, hingga kini belum ditemukan bukti arkeologis yang dapat memastikan lokasi medan perang tersebut secara pasti. Tidak ditemukan prasasti peringatan kemenangan, struktur pertahanan, kuburan massal, maupun artefak militer yang dapat secara langsung dihubungkan dengan pertempuran tahun 1295 M. Oleh sebab itu, identifikasi Tambakberas sebagai lokasi konflik terutama bertumpu pada tradisi naskah dan memori historiografi yang berkembang dalam masyarakat Jawa.
Sumber primer terpenting mengenai hasil pertempuran ini adalah Pararaton. Berbeda dengan Kidung Ranggalawe yang menyajikan kisah lebih panjang dan bercorak sastra kepahlawanan, Pararaton mencatat peristiwa tersebut secara ringkas:
“Ranggalawe mati dening Mahisa Anabrang.”
Yang berarti:
“Ranggalawe mati oleh Mahisa Anabrang.”
Catatan singkat ini merupakan inti informasi historis yang paling kuat mengenai akhir kehidupan Ranggalawe. Pararaton tidak menjelaskan jalannya pertempuran, bentuk duel yang terjadi, strategi militer yang digunakan, maupun kondisi medan tempur. Karena itu, berbagai kisah mengenai duel heroik, pertempuran di sungai, atau rincian taktis lainnya yang muncul dalam tradisi sastra Jawa harus dipahami sebagai pengembangan naratif yang tidak dapat diverifikasi melalui sumber primer sezaman.
Meskipun keterangannya sangat singkat, Pararaton menunjukkan bahwa konflik tersebut berakhir dengan kematian Ranggalawe di tangan Mahisa Anabrang. Peristiwa itu sekaligus menandai berakhirnya perlawanan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam generasi awal Majapahit. Namun kemenangan pihak kerajaan ternyata tidak berlangsung lama, karena tidak lama setelah gugurnya Ranggalawe, Mahisa Anabrang sendiri tewas dalam rangkaian konflik yang sama. Tragedi beruntun inilah yang menjadikan Pertempuran Tambakberas sebagai salah satu peristiwa paling penting dan paling dikenang dalam sejarah awal Majapahit.
Gugurnya Mahisa Anabrang
Kemenangan Mahisa Anabrang atas Ranggalawe ternyata tidak berlangsung lama. Setelah mencatat kematian Ranggalawe, Pararaton melanjutkan kisah tersebut dengan kalimat yang sama ringkasnya:
“Mahisa Anabrang mati dening Sora.”
Artinya:
“Mahisa Anabrang mati oleh Sora.”
Catatan singkat ini merupakan sumber primer terpenting mengenai akhir kehidupan Mahisa Anabrang. Dari keterangan tersebut dapat dipastikan bahwa setelah gugurnya Ranggalawe, Mahisa Anabrang sendiri tewas di tangan Lembu Sora dalam rangkaian konflik yang sama. Akan tetapi, sebagaimana pada peristiwa kematian Ranggalawe, Pararaton tidak memberikan penjelasan mengenai kronologi kejadian, cara kematian, lokasi pasti peristiwa, maupun motif yang melatarbelakangi tindakan Lembu Sora.
Keterangan yang lebih rinci baru muncul dalam Kidung Ranggalawe dan Kidung Sorandaka yang disusun pada masa kemudian. Dalam tradisi sastra sejarah tersebut, kematian Mahisa Anabrang dikisahkan dengan berbagai unsur dramatik yang menonjolkan nilai kesetiaan, kehormatan, dan kepahlawanan para tokoh Majapahit awal. Namun karena berasal dari karya sastra yang ditulis beberapa generasi setelah peristiwa berlangsung, rincian-rincian tersebut tidak dapat diterima begitu saja sebagai fakta sejarah.
Oleh sebab itu, dalam perspektif historiografi modern, fakta yang dapat dipastikan hanyalah bahwa Ranggalawe tewas di tangan Mahisa Anabrang, sedangkan Mahisa Anabrang kemudian tewas di tangan Lembu Sora. Dua peristiwa yang dicatat secara singkat dalam Pararaton tersebut menjadi inti sejarah yang menandai berakhirnya kiprah dua tokoh penting generasi pendiri Majapahit dalam satu rangkaian konflik yang sama.
Gugurnya Mahisa Anabrang juga memiliki arti politik yang penting bagi Majapahit. Dalam waktu yang hampir bersamaan, kerajaan yang baru berdiri kehilangan dua tokoh militer berpengaruh yang sebelumnya berada dalam lingkaran pendukung Raden Wijaya. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa proses konsolidasi kekuasaan pada masa awal Majapahit berlangsung dalam suasana yang jauh dari stabil dan diwarnai oleh konflik di antara para elite kerajaan sendiri.
Dampak Politik bagi Majapahit
Kematian Ranggalawe dan Mahisa Anabrang merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah awal Majapahit. Konflik yang berujung pada Pertempuran Tambakberas memperlihatkan bahwa kerajaan yang baru berdiri masih menghadapi berbagai tantangan dalam proses pembentukan struktur kekuasaan dan hubungan di antara para elite pendukungnya. Meskipun sumber-sumber yang tersedia tidak menjelaskan secara rinci dampak politik langsung dari peristiwa tersebut, kematian dua tokoh penting dalam satu rangkaian konflik menunjukkan bahwa stabilitas politik Majapahit pada masa awal pemerintahannya belum sepenuhnya kokoh.
Dalam tradisi historiografi Jawa, peristiwa Tambakberas sering dipandang sebagai awal dari rangkaian konflik yang melibatkan sejumlah tokoh penting generasi pertama Majapahit. Pada tahun-tahun berikutnya, nama-nama seperti Nambi, Lembu Sora, dan Mahapati juga muncul dalam berbagai kisah konflik politik yang terekam dalam Pararaton maupun tradisi kidung. Akan tetapi, hubungan sebab-akibat antara peristiwa Tambakberas dan konflik-konflik berikutnya tidak selalu dapat dibuktikan secara langsung dari sumber primer yang tersedia.
Sejumlah sejarawan modern melihat konflik-konflik awal Majapahit sebagai bagian dari proses konsolidasi kekuasaan yang lazim terjadi pada kerajaan yang baru berdiri. Dalam kajiannya mengenai sejarah Majapahit, Slamet Muljana menempatkan berbagai pertikaian pada masa awal pemerintahan Raden Wijaya dan Jayanegara sebagai bagian dari dinamika politik internal yang menyertai pembentukan kerajaan baru. Sementara itu, Theodore G. Th. Pigeaud mengingatkan bahwa sumber-sumber seperti Kidung Ranggalawe dan Kidung Sorandaka harus dibaca secara kritis karena memadukan unsur sejarah, memori kolektif, dan sastra kepahlawanan.
Menjadi Peristiwa Penting Sejarah Awal Majapahit
Pertempuran Tambakberas tahun 1295 M merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah awal Majapahit. Konflik tersebut mempertemukan tokoh-tokoh yang sebelumnya berada dalam lingkungan pendukung Raden Wijaya dan berakhir dengan gugurnya dua figur penting generasi pendiri kerajaan, yaitu Ranggalawe dan Mahisa Anabrang.
Pararaton mengabadikan peristiwa itu dalam dua catatan singkat yang kemudian menjadi dasar seluruh tradisi historiografi mengenai Tambakberas:
“Ranggalawe mati dening Mahisa Anabrang.”
“Mahisa Anabrang mati dening Sora.”
Kedua kalimat tersebut merupakan inti informasi historis yang paling kuat mengenai akhir kehidupan Ranggalawe dan Mahisa Anabrang. Di luar catatan singkat itu, sebagian besar rincian mengenai jalannya pertempuran berkembang melalui tradisi sastra sejarah yang muncul pada masa-masa berikutnya.
Meskipun sumber yang tersedia tidak memungkinkan rekonstruksi lengkap mengenai seluruh peristiwa Tambakberas, Pararaton dan tradisi historiografi Jawa menunjukkan bahwa konflik tersebut menjadi salah satu episode penting dalam masa awal Majapahit. Tragedi yang menewaskan Ranggalawe dan Mahisa Anabrang bukan hanya menandai berakhirnya kiprah dua tokoh utama generasi pendiri kerajaan, tetapi juga memperlihatkan kompleksitas politik yang menyertai proses pembentukan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.
DAFTAR PUSTAKA
- Berg, C. C. 1927. De Middeljavaansche Historische Traditie. Santpoort: Mees.
- Berg, C. C. 1930. Rangga Lawe: Middeljavaansche Historische Roman. Bibliotheca Javanica I. Batavia: Albrecht.
- Berg, C. C. 1931. Kidung Harsa-Wijaya. The Hague: Martinus Nijhoff.
- Brandes, J. L. A. 1897. Pararaton (Ken Arok of Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit). Batavia: Albrecht & Co.
- Brandes, J. L. A., dan N. J. Krom. 1920. Pararaton (Ken Arok) of Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. Edisi Kedua. Batavia: Albrecht & Co.
- Coedès, George. 1968. The Indianized States of Southeast Asia. Honolulu: East-West Center Press.
- Krom, N. J. 1931. Hindoe-Javaansche Geschiedenis. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
- Muljana, Slamet. 2005. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.
- Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: LKiS.
- Pigeaud, Theodore G. Th. 1960–1963. Java in the Fourteenth Century: A Study in Cultural History. 5 Jilid. The Hague: Martinus Nijhoff.
- Prapanca, Mpu. 1365. Desawarnana (Nagarakretagama).
- Robson, Stuart. 1995. Desawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca. Leiden: KITLV Press.
- Zoetmulder, P. J. 1974. Kalangwan: A Survey of Old Javanese Literature. The Hague: Martinus Nijhoff.
- Prasasti Amoghapasa. 1286 M.
- Prasasti Kudadu. 1294 M.
- Prasasti Padang Roco. 1286 M.
- Prasasti Sukamrta. 1296 M.
- Kidung Panji Wijayakrama. Naskah Jawa Tengahan.
- Kidung Ranggalawe. Naskah Jawa Tengahan.
- Kidung Sorandaka. Naskah Jawa Tengahan.















4 thoughts on “Tambakberas 1295 M, Tragedi Berdarah di Awal Majapahit”