Strategi Majapahit Menghancurkan Mongol (1293) Berdasarkan Prasasti dan Catatan Yuan Shi

Keberhasilan Majapahit mengalahkan ekspedisi Mongol pada tahun 1293 memperoleh validasi kuat baik dari sumber lokal Jawa seperti Prasasti Kudadu (1294), Prasasti Gunung Butak, Pararaton, serta tradisi kidung, maupun dari kronik resmi Tiongkok Yuan Shi (Sejarah Dinasti Yuan). Sinkronisasi kedua tradisi historiografi ini menunjukkan bahwa kemenangan Jawa bukan mitos lokal semata, melainkan peristiwa geopolitik besar yang diakui oleh kedua belah pihak.
Berdasarkan Yuan Shi, perintah invasi dikeluarkan Kubilai Khan pada Maret 1292 setelah penghinaan Kertanegara terhadap utusan Yuan. Armada dikumpulkan dari Fujian, Jiangxi, dan Huguang dengan kekuatan sekitar 20.000–30.000 prajurit, sekitar 1.000 kapal, serta perbekalan untuk satu tahun penuh. Tiga panglima utama yang ditunjuk adalah Shi Bi, Ike Mese (Yighmish), dan Gao Xing. Catatan ini memperlihatkan bahwa ekspedisi tersebut merupakan operasi militer besar berskala imperium, bukan sekadar serangan terbatas.
Table of Contents
ToggleMemanfaatkan Kedatangan Mongol Pasca Runtuhnya Singhasari
Prasasti Kudadu bertarikh 1216 Saka (1294 M) menegaskan bahwa setelah “pralaya” atau kehancuran Singhasari akibat serangan Jayakatwang pada 1292, Raden Wijaya diselamatkan oleh para pengikut setia dan memperoleh dukungan Arya Wiraraja. Dalam fase ini, Arya Wiraraja berperan penting memberi perlindungan politik sekaligus menyusun strategi jangka panjang.
Yuan Shi mencatat bahwa ketika armada Mongol tiba di Tuban dan bergerak melalui Sungai Brantas, mereka mendapati bahwa Kertanegara telah wafat dan kekuasaan Jawa dikuasai Jayakatwang. Situasi ini dimanfaatkan Wijaya untuk menghadap komandan Yuan dan menawarkan aliansi. Dalam perspektif Jawa, langkah ini merupakan strategi manipulatif; dalam perspektif Yuan, Wijaya dipandang sebagai sekutu lokal yang sah. Hasilnya, Mongol mengalihkan misi hukuman mereka dari Singhasari ke Kediri.
Koalisi Mongol-Majapahit Menghancurkan Jayakatwang
Menurut Yuan Shi, operasi militer terhadap Daha berlangsung intensif pada April 1293. Pasukan Yuan dibagi dalam beberapa jalur serangan darat dan sungai, sementara kekuatan Wijaya memberikan dukungan lokal dan intelijen medan. Sumber Jawa seperti Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama memperkuat narasi bahwa koalisi ini berhasil menghancurkan pertahanan Jayakatwang. Pada 26 April 1293, Daha jatuh setelah pertempuran besar, ribuan pasukan Kediri tewas, dan Jayakatwang menyerah. Dari perspektif strategis, tahap ini menunjukkan keberhasilan Raden Wijaya memanfaatkan kekuatan militer asing untuk menyingkirkan rival domestik terbesar tanpa menguras kekuatan intinya sendiri.
Tipu Daya Diplomatik dan Serangan Balik Majapahit
Setelah kemenangan atas Kediri, Yuan Shi mencatat bahwa Raden Wijaya meminta izin kembali ke Majapahit dengan alasan menyiapkan upeti, surat penyerahan diri, serta penghormatan kepada Kubilai Khan. Shi Bi dan Ike Mese menerima permintaan ini, meskipun Gao Xing dilaporkan lebih waspada. Catatan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa bahkan dalam sumber resmi Yuan sendiri, keputusan menerima permintaan Wijaya diakui sebagai kesalahan strategis. Menurut Yuan Shi, sekitar 200 prajurit Yuan tanpa senjata dikirim mengawal misi diplomatik tersebut. Pada 26 Mei 1293, pasukan Majapahit melancarkan penyergapan mendadak terhadap rombongan itu, lalu menyerang kamp utama Yuan secara besar-besaran. Prasasti Kudadu mengisyaratkan peran armada Jawa dalam operasi ini, sementara kidung Jawa menyebut sejumlah kapal Mongol berhasil direbut atau dihancurkan.
Eksploitasi Geografi, Muson, dan Kelemahan Logistik
Catatan Yuan Shi secara eksplisit menyebut bahwa pasukan Mongol terpaksa mundur karena tekanan militer Jawa dan ancaman perubahan angin muson yang dapat memerangkap armada mereka selama berbulan-bulan di wilayah bermusuhan. Ini membuktikan bahwa faktor waktu dan musim menjadi elemen strategis yang sengaja dimanfaatkan Majapahit. Geografi Jawa yang berupa sungai, rawa, dan hutan tropis juga sangat membatasi efektivitas kavaleri Mongol. Selama mundur menuju kapal, pasukan Shi Bi kehilangan ribuan prajurit dan sebagian besar rampasan perang. Beberapa penelitian modern berbasis data Yuan Shi memperkirakan korban Yuan mencapai lebih dari 3.000 hingga belasan ribu orang, menjadikannya salah satu kegagalan militer paling mahal dalam masa pemerintahan Kubilai Khan.
Lahirnya Majapahit Merdeka
Prasasti Kudadu dan Prasasti Gunung Butak menegaskan bahwa setelah pasukan Mongol hengkang pada 31 Mei 1293, Raden Wijaya berhasil mengonsolidasikan kekuasaan dan mendirikan Majapahit. Penobatannya sebagai Kertarajasa Jayawardhana pada November 1293 menandai lahirnya negara baru yang merdeka. Dalam konteks historiografi, kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan perang lokal, tetapi transformasi strategis dari kerajaan pelarian menjadi imperium baru Nusantara. Sementara Yuan Shi mencatat hukuman Kubilai Khan terhadap Shi Bi dan Ike Mese akibat kegagalan ekspedisi, sumber Jawa menempatkan peristiwa ini sebagai fondasi legitimasi Majapahit.
Kesimpulan Historis Berdasarkan Sumber Primer
Baik prasasti Jawa maupun Yuan Shi sama-sama menunjukkan pola kronologis yang konsisten: kehancuran Singhasari (1292), kedatangan ekspedisi Yuan (awal 1293), koalisi sementara melawan Kediri (April 1293), pengkhianatan strategis Majapahit (Mei 1293), mundurnya Mongol (31 Mei 1293), dan lahirnya Majapahit merdeka (November 1293). Validasi silang ini memperkuat bahwa strategi Raden Wijaya dan Arya Wiraraja merupakan salah satu contoh paling cemerlang dalam sejarah dunia tentang bagaimana kekuatan lokal menggunakan diplomasi, manipulasi politik, geografi, dan momentum logistik untuk menghancurkan ekspedisi imperium global terbesar pada zamannya. Majapahit tidak sekadar bertahan dari Mongol, tetapi membangun kemerdekaannya dari reruntuhan ekspansi Yuan.













4 thoughts on “Strategi Majapahit Menghancurkan Mongol (1293) Berdasarkan Prasasti dan Catatan Yuan Shi”