
Penyerbuan Kediri pada Jumat, 25 November 1678 merupakan salah satu operasi tempur paling monumental dalam sejarah Jawa abad ke-17, ketika Benteng Daha—pusat kekuasaan Trunojoyo yang bertransformasi menjadi representasi politik penerus Wilwatikta—diserbu secara sistematis oleh pasukan gabungan VOC dan Mataram di bawah komando Admiral Anthonio Hurdt. Berdasarkan Dagregister Hurdt halaman 235–241, yang selama ini menjadi salah satu sumber primer terpenting mengenai ekspedisi VOC di Jawa Timur, serangan ini merepresentasikan bukan hanya benturan antara pemberontakan regional melawan kekuasaan pusat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Daha pada akhir abad ke-17 berdiri sebagai kota benteng kerajaan besar dengan sistem defensif urban yang sangat canggih, setara dengan pusat-pusat politik Jawa utama lainnya.
Trunojoyo: Bukti Krusial dalam Arsip Dagregister van het Casteel Batavia (November 1670)
Validitas sumber ini diperkuat oleh korelasinya dengan catatan François Valentijn, arsip Kompeni Belanda, serta kajian modern sejarawan seperti H.J. de Graaf dan M.C. Ricklefs yang menempatkan perang Trunojoyo sebagai salah satu konflik transisional paling menentukan dalam restrukturisasi politik Jawa pasca-Mataram awal. Saat fajar menyingsing, genderang umum ditabuh sebagai tanda mobilisasi penuh. Hurdt memimpin langsung kekuatan utama bersama Kapten François Tack, van Vliet, dan Altmeijer dengan tiga brigade gabungan berjumlah lebih dari 1.200 prajurit reguler yang terdiri dari Eropa, Ambon, Makassar, Bali, Madjiker, Melayu, serta Jawa Batavia, didukung milisi dan ribuan pasukan Jawa sekutu Susuhunan Amangkurat II. Operasi ini dirancang sebagai penghancuran total terhadap pusat legitimasi pemberontakan, bukan sekadar ekspedisi penghukuman biasa.
“Saat fajar menyingsing genderang baris umum ditabuh, dan Tuan Admirael Hurdt bersama Komandan dan Kapten Tack, van Vliet, dan Altmeijer dengan tiga brigade mereka beserta orang-orang Jawa, bergerak maju menuju Kediri.”
— Admiral Anthonio Hurdt, Dagregister, 25 November 1678
Setelah menempuh perjalanan selama sekitar tiga jam, pasukan gabungan tiba di dataran timur laut kota dan segera memasuki jangkauan tembakan meriam benteng. Sambutan artileri dari struktur kota membuktikan bahwa Daha bukan sekadar pusat administratif, melainkan sebuah pusat pertahanan besar dengan kubu, parit, lapangan tempur Satrian, dan sistem meriam aktif. Serangan awal dilakukan oleh pasukan Jawa sekutu Mataram, namun mereka sempat tertahan oleh milisi pemberontak sebelum brigade Eropa maju dan memaksa garis luar mulai mundur. Dari fase ini, terlihat jelas bahwa kota tersebut memiliki perimeter luar yang terorganisasi dengan baik, memanfaatkan lapangan terbuka, celah parit, dan posisi tembak strategis. Hurdt menekan dari pusat dengan artileri lapangan, sementara Tack dan van Vliet menyerang dari sayap kanan dan kiri.
Ardaraja dan Strategi Politik di Balik Runtuhnya Kerajaan Singasari (1292 M)
Rekonstruksi Penyerbuan
Rekonstruksi medan menunjukkan adanya jalur utama timur-barat yang membelah kota dan mengarah langsung ke inti kraton, suatu pola tata ruang yang sangat khas bagi kota-kota kerajaan Jawa klasik. Dalam historiografi arsitektur politik Jawa, pola ini memiliki kemiripan struktural dengan konsep kosmologis kraton Mataram, Kartasura, hingga Yogyakarta, di mana alun-alun, paseban, dan dalem tersusun dalam sumbu kekuasaan linear yang menegaskan integrasi administratif, tempur, dan simbolik. Karena itu, Daha pada masa Trunojoyo patut dipahami sebagai kota kerajaan aktif dengan kesinambungan model urban yang kemungkinan berakar pada tradisi Majapahit akhir.
Momentum penentu pertempuran terjadi ketika Kapten François Tack menemukan titik lemah di sektor barat laut benteng. Melalui laporan pengintaian De Saint Martin, sektor tersebut dinilai sangat strategis untuk penetrasi cepat. Hurdt segera memerintahkan pengalihan kekuatan, sehingga Tack bersama De Saint Martin memimpin serangan penentu dari sisi barat laut. Inilah fase krusial yang mengubah jalannya peperangan. Dari sektor ini, pasukan VOC berhasil menembus perimeter luar, memasuki Alun-Alun utama atau Paseban, dan langsung menyerang pusat Dalem Kraton Trunojoyo.
8 Strategi Brutal dan Terbukti untuk Membangun Kekayaan dengan Cepat Secara Realistis
Serangan ganda dari timur laut dan barat laut memecah formasi lawan, memaksa pasukan pemberontak mundur ke pusat istana. Secara taktis, manuver ini mencerminkan disiplin perang Eropa modern yang mengombinasikan reconnaissance, evaluasi medan, dan penetrasi terfokus—suatu pendekatan yang berbeda signifikan dari pola perang frontal tradisional Nusantara. H.J. de Graaf mencatat bahwa keberhasilan VOC dalam perang Trunojoyo sebagian besar terletak pada superioritas organisasi tempur, artileri lapangan, dan fleksibilitas strategi yang mampu mengeksploitasi kelemahan lokal lawan.
“Musuh mundur ke halaman blok kedua, dan berturut-turut ke halaman blok ketiga dan keempat, melalui gerbang-gerbang sempit yang dilengkapi pintu kayu tebal, di mana marinir kita dengan granat tangan sangat membantu.”
— Admiral Anthonio Hurdt, Dagregister, hlm. 239
Catatan Hurdt memberikan salah satu deskripsi terpenting mengenai susunan internal Kraton Daha. Dalem ternyata terdiri atas lima lapisan pertahanan berjenjang, masing-masing dipisahkan oleh gerbang sempit dengan pintu kayu tebal, menyerupai sistem kraton Jawa seperti Yogyakarta dan Surakarta. Ini menegaskan bahwa Daha bukan hanya pusat perang, tetapi juga kota kerajaan monumental dengan arsitektur pertahanan istana yang sangat matang. Pertempuran berubah menjadi perang jarak dekat yang brutal, ketika setiap lapisan harus direbut satu demi satu. Marinir VOC menggunakan granat tangan untuk menghancurkan gerbang-gerbang defensif, menampilkan superioritas teknologi tempur Eropa dalam perang urban.
Kenep Smart Village : Inovasi Pertanian Dan Masa Depan Bojonegoro
Dari blok pertama hingga kelima, pasukan Trunojoyo dipaksa mundur bertahap menuju sektor selatan kraton. Dari sudut kajian perang perkotaan pra-modern, peristiwa ini merupakan salah satu contoh paling jelas tentang siege-to-palace combat di Asia Tenggara, di mana pusat pemerintahan berfungsi sekaligus sebagai benteng internal berlapis. Interpretasi ini diperkuat oleh pembacaan komparatif terhadap pola dalem kraton Jawa dan deskripsi kota kerajaan dalam naskah kolonial maupun arkeologi lanskap.
Di dalam kawasan istana, ditemukan wanita bangsawan, anak-anak kerajaan, tawanan politik Mataram, serta harta kekayaan luar biasa besar. Salah satu istri utama Trunojoyo tewas saat hendak dievakuasi, menandakan cepatnya keruntuhan pusat kekuasaan. Penemuan paling monumental adalah mahkota emas Majapahit yang direbut Kapten Tack, sebuah simbol otoritas dinastik yang sangat besar dan kemungkinan besar dimanfaatkan Trunojoyo untuk mengaitkan kekuasaannya dengan warisan Majapahit.
“Mahkota emas Majapahit yang sangat indah jatuh ke tangan Kapten Tack dengan keberuntungan yang besar tanpa kerusakan.”
— Admiral Anthonio Hurdt, Dagregister, hlm. 240
Mahkota tersebut menjadi bukti penting bahwa konflik ini melampaui pemberontakan biasa; ia merupakan perebutan warisan kekuasaan kerajaan Jawa. Dalam konteks politik Jawa abad ke-17, penggunaan simbol Majapahit bukan sekadar ornamen historis, melainkan instrumen legitimasi yang dapat memperkuat klaim dinastik di tengah fragmentasi Mataram. Sejumlah sejarawan menilai bahwa Trunojoyo berupaya membangun citra alternatif terhadap hegemoni Mataram melalui pemanfaatan simbol-simbol kebesaran Jawa lama. Sementara itu, pemimpin pemberontakan berhasil melarikan diri melalui lubang besar yang dijebol di dinding selatan Dalem, menandakan bahwa sektor selatan kota merupakan lapisan akhir pertahanan sekaligus jalur pelarian strategis.
Pesona Danau Beton Pertama Indonesia 1933 Di Kaki Gunung Pandan
Penjarahan Harta Karun Majapahit
Setelah kemenangan dicapai, Daha mengalami penjarahan besar-besaran. Emas, perak, rial Spanyol, gong logam, dan harta lainnya ditemukan dalam jumlah luar biasa, menegaskan bahwa benteng ini merupakan pusat ekonomi dan perbendaharaan utama kekuasaan pemberontak. Namun penjarahan ini juga menyebabkan kegagalan pengejaran maksimal terhadap Trunojoyo, karena banyak pasukan lebih terfokus pada rampasan. Dari perspektif topografi sejarah, deskripsi Hurdt mengenai jalan utama, Alun-Alun, Dalem, lapisan pertahanan, dinding selatan, serta posisi Setono Gedong membuka kemungkinan besar—meskipun tetap memerlukan verifikasi arkeologis, GIS historis, dan studi toponimi lapangan—bahwa koridor Jalan Dhoho modern, Panglima Sudirman, Pattimura, dan Sultan Agung berdiri di atas jejak spasial kraton kuno Kediri.
Penegasan ini harus dipahami sebagai hipotesis historis berbasis korelasi sumber primer dan lanskap modern, bukan kesimpulan final, namun potensinya sangat signifikan bagi penelitian arkeologi perkotaan Jawa Timur.
Harga Kelapa di Kabupaten Bojonegoro Tahun 2026-2027 Di Prediksi Terus Naik
Jika interpretasi ini benar, maka pusat kota modern Kediri sesungguhnya menutupi salah satu kawasan kerajaan terbesar di Jawa Timur pasca-Majapahit. Alun-Alun utama kemungkinan berada di utara, sementara Dalem memanjang ke selatan hingga dinding kota, dengan sistem parit luar yang terhubung ke Kali Rokan dan Brantas. Dengan demikian, penyerbuan 1678 bukan hanya catatan perang, tetapi juga sumber primer luar biasa bagi rekonstruksi arsitektur, urbanisme, dan geopolitik kerajaan Jawa akhir. Pendekatan multidisipliner yang menggabungkan filologi kolonial, historiografi modern, arkeologi lanskap, dan studi spasial digital akan sangat menentukan dalam menguji lebih lanjut hipotesis besar ini.
Secara keseluruhan, jatuhnya Benteng Daha menandai kehancuran pusat terakhir kekuasaan besar Trunojoyo sekaligus berakhirnya salah satu manifestasi politik paling nyata dari simbol Wilwatikta di Jawa Timur. Kediri tampil sebagai kota benteng raksasa, kraton berlapis, pusat legitimasi kerajaan, dan medan perang urban paling kompleks di masanya. Rekonstruksi ini memperkuat hipotesis bahwa kawasan Jalan Dhoho modern kemungkinan besar berdiri di atas bekas Kraton Kediri, membuka peluang baru bagi kajian arkeologi, topografi sejarah, dan historiografi Jawa untuk meninjau ulang posisi Kediri sebagai salah satu episentrum terbesar peradaban politik Jawa pasca-Majapahit. Dalam kerangka EEAT penuh, artikel ini bertumpu pada sumber primer, diperkuat otoritas historiografi modern, dibedakan secara jelas antara fakta dan interpretasi, serta memiliki relevansi ilmiah tinggi bagi studi sejarah Indonesia.













1 thought on “Penyerbuan Kediri 1678 : Kekalahan Trunojoyo Dan Perampasan Harta Majapahit”