Raden Mas Guntur 1762, Kisah Tragis Trah Amangkurat III di Jipang
Table of Contents
ToggleGaris Keturunan Raden Mas Guntur
Raden Mas Guntur merupakan salah satu tokoh paling memilukan, rumit, dan paling tersisihkan dalam sejarah politik Jawa abad ke-18. Ia lahir bukan sekadar sebagai bangsawan biasa, melainkan sebagai pewaris langsung garis keturunan alternatif wangsa Mataram yang telah lama disingkirkan dari pusat kekuasaan melalui campur tangan Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda, pengaturan pergantian takhta, pemecahan kerajaan, dan penghapusan hak waris keluarga kerajaan lama.
Secara garis darah, Raden Mas Guntur adalah cicit langsung Susuhunan Amangkurat III atau Sunan Mas, penguasa Mataram yang dijatuhkan oleh kompeni lalu dibuang ke Sailan pada awal abad ke-18. Garis keluarganya tersusun sebagai berikut: Amangkurat II, Amangkurat III, Pangeran Tepasana, Raden Mas Wiratmeja, kemudian Raden Mas Guntur. Susunan ini menempatkan Guntur sebagai pewaris sah salah satu cabang utama Mataram yang telah kehilangan hak politiknya akibat penjajahan dan intrik istana.
Kakeknya, Pangeran Tepasana, disingkirkan dari pusat kekuasaan. Ayahnya, Raden Mas Wiratmeja, terbunuh dalam kekacauan politik Jawa tahun 1741. Buyutnya dibuang, kakeknya disingkirkan, ayahnya dibunuh. Tiga generasi berturut-turut mengalami luka kekuasaan yang sama. Dalam budaya politik Jawa, keadaan seperti ini bukan sekadar tragedi keluarga, melainkan warisan dendam dinasti yang dapat melahirkan semangat kuat untuk menuntut kembali hak atas takhta.
Keadaan politik Jawa pada masa pertumbuhan Guntur juga telah berubah besar akibat Perjanjian Janti tahun 1755 dan Perjanjian Salatiga tahun 1757. Perjanjian Janti membelah Mataram menjadi dua kekuasaan besar, yakni Surakarta dan Yogyakarta. Dua tahun kemudian, Perjanjian Salatiga melahirkan Mangkunegaran. Akibatnya, Mataram yang dahulu satu berubah menjadi tiga pusat kekuasaan:
- Surakarta
- Yogyakarta
- Mangkunegaran
Pemecahan ini merupakan keberhasilan siasat pecah belah kompeni untuk menghancurkan kesatuan politik Jawa. Dari pecahan inilah lahir ruang bagi tokoh-tokoh garis alternatif seperti Raden Mas Guntur untuk kembali menuntut hak waris yang dirampas.
Persekutuan Besar Jawa
Sebelum memahami perjuangan Guntur, perlu dipahami dunia politik besar yang membentuknya, yakni persekutuan antara Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Sahid atau Sambernyawa. Keduanya pernah menjadi kekuatan terbesar Jawa dalam melawan kompeni. Mangkubumi membawa hak politik wangsa utama Mataram, sedangkan Sambernyawa membawa kekuatan perang gerilya yang sangat tangguh.
Persekutuan ini hampir berhasil memulihkan kembali kekuasaan Jawa yang utuh. Namun kompeni memecah kekuatan mereka melalui Perjanjian Janti dan Salatiga. Mangkubumi memperoleh Yogyakarta, sedangkan Sambernyawa akhirnya menerima Mangkunegaran. Dengan demikian, persatuan besar Jawa pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang saling terpisah.
Raden Mas Guntur kemudian masuk ke dalam lingkaran besar ini melalui perkawinannya dengan Raden Ajeng Sombro, putri Mangkunegara I. Perkawinan ini sangat penting karena mempertemukan dua garis besar:
- garis Sunan Mas sebagai pewaris kerajaan lama,
- garis Sambernyawa sebagai kekuatan militer perlawanan.
Sebagai menantu Mangkunegara I, Guntur memperoleh tambahan hubungan politik, jaringan bangsawan, dan kemungkinan kekuatan militer. Namun ia tetap membawa cita-cita yang lebih keras dibanding mertuanya. Jika Sambernyawa akhirnya memilih bertahan melalui jalan damai, maka Guntur tetap membawa semangat pemulihan penuh garis kerajaan lama.
Di samping itu, kawasan perjuangannya juga terhubung dengan jaringan bangsawan daerah seperti Malangnegara Ngasinan di Padangan. Malangnegara merupakan tokoh kawasan Bengawan Solo bagian barat yang lebih dahulu membangun pengaruh anti-kompeni. Jalur Ngasinan, Padangan, Jipang, hingga Blora menjadi poros penting perlawanan kawasan.
Dengan demikian, Raden Mas Guntur berdiri di atas tiga warisan besar:
- darah keturunan Amangkurat III,
- jaringan keluarga Sambernyawa,
- serta kekuatan kawasan perlawanan Bengawan Solo.
Gabungan inilah yang menjadikannya sangat berbahaya bagi susunan politik kolonial.
Jipang–Blora
Kedudukan utama Raden Mas Guntur berada di kawasan Jipang, Blora, dan Grobogan. Jipang dipilih sebagai pusat simbolik dan politik karena wilayah ini sejak masa Arya Penangsang dikenal sebagai lambang perlawanan terhadap kekuasaan pusat Jawa. Dengan memilih Jipang, Guntur menempatkan dirinya dalam jalur sejarah perlawanan bangsawan lama.
Blora, dengan hutan-hutannya yang luas, menjadi benteng perang gerilya yang sangat kuat. Grobogan menjadi jalur gerak serangan. Susunan wilayah ini menunjukkan bahwa Guntur tidak sekadar bersembunyi, melainkan berusaha membangun pusat kekuasaan alternatif berbasis legitimasi dinasti.
Secara resmi, Guntur bukan pejabat kerajaan Surakarta, Yogyakarta, maupun kompeni. Ia bukan adipati, bukan patih, dan bukan bupati resmi. Namun kedudukannya jauh lebih berbahaya karena ia bertindak sebagai:
- pangeran pewaris garis alternatif Mataram,
- pemimpin perjuangan Jipang–Blora,
- penguasa nyata wilayah perlawanan,
- penuntut pemulihan takhta.
Pada Agustus 1761, Raden Mas Guntur bersama istrinya meninggalkan lingkungan Mangkunegaran dan memulai perjuangan terbuka di Jipang dan Blora. Ia memimpin pasukan, membangun pengaruh kawasan, dan berusaha mendirikan kembali kekuasaan berbasis hak waris dinasti.
Gerakannya sangat tangkas. Ia bergerak cepat melalui jalur Jipang, Blora, Grobogan, serta kawasan Bengawan Solo. Bahkan ia berusaha memperoleh pengakuan politik dari kompeni atas wilayah kekuasaannya. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangannya bukan sekadar pemberontakan liar, melainkan usaha nyata membangun pemerintahan tandingan.
Namun Surakarta dan kompeni menolak keras. Pengakuan terhadap Guntur berarti membuka peluang bangkitnya kembali garis Amangkurat III dan mengguncang seluruh susunan politik hasil pemecahan Mataram.
Pada 15 September 1762, Raden Mas Guntur gugur dalam pertempuran melawan pasukan Surakarta. Kematiannya menandai berakhirnya salah satu ancaman terbesar terhadap tatanan politik kolonial Jawa abad ke-18. Gugurnya Guntur bukan sekadar kekalahan perang, melainkan hancurnya kemungkinan jalur sejarah lain bagi Jawa: pemulihan kembali garis Sunan Mas melalui perpaduan darah kerajaan lama, jaringan Sambernyawa, dan kekuatan kawasan Bengawan Solo.
Setelah kematiannya, istrinya direbut kembali ke lingkungan bangsawan melalui pengaturan perkawinan baru demi memutus kesinambungan garis perlawanan. Hilangnya pusaka serta kaburnya letak makam Guntur semakin memperkuat posisinya sebagai pewaris takhta yang sengaja dihapus dari catatan resmi.
Dalam sejarah Jawa, Raden Mas Guntur tetap hidup sebagai lambang perlawanan bangsawan, dendam dinasti, tragedi pewaris kerajaan yang dirampas, serta bukti nyata bahwa penjajahan tidak hanya menaklukkan tanah, tetapi juga menghancurkan garis hak waris, memecah kekuasaan, dan menghapus kemungkinan lahirnya kembali kerajaan pribumi yang utuh.
















1 thought on “Raden Mas Guntur 1762, Kisah Tragis Trah Amangkurat III di Jipang”