Perang Bubat 1357 M: Titik Kritis Awal Kemunduran Majapahit

Table of Contents
ToggleMajapahit Sebelum Bubat (1293–1357 M): Kebangkitan Imperium, Ambisi Gajah Mada, dan Fondasi Krisis
PERANG BUBAT – Majapahit berdiri pada 1293 M ketika Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), menantu Raja Kertanegara dari Singhasari, berhasil mendirikan kerajaan baru setelah memanfaatkan invasi Mongol utusan Kubilai Khan untuk menghancurkan Jayakatwang dari Kadiri. Setelah kemenangan tersebut, Raden Wijaya justru berbalik mengusir pasukan Mongol dari Jawa dan memproklamasikan Majapahit sebagai kekuatan baru. Peristiwa ini menandai lahirnya salah satu imperium terbesar dalam sejarah Asia Tenggara.
Setelah wafatnya Raden Wijaya pada 1309 M, takhta diteruskan oleh Jayanegara (1309–1328 M). Masa pemerintahannya diwarnai pemberontakan internal, termasuk pemberontakan Ra Kuti pada 1319 M, yang berhasil dipadamkan oleh tokoh penting bernama Gajah Mada, saat itu masih menjabat sebagai komandan pasukan Bhayangkara. Keberhasilan ini mengangkat reputasi politik Gajah Mada secara signifikan.
Pada 1328 M, Jayanegara wafat, dan kekuasaan berpindah kepada Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328–1350 M). Dalam masa pemerintahannya, Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Amangkubhumi pada 1336 M. Pada saat pelantikan inilah, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, menyatakan bahwa ia tidak akan menikmati kenikmatan dunia sebelum berhasil menundukkan seluruh Nusantara, termasuk Gurun, Seram, Tumasik, Bali, Palembang, dan Sunda.
Sumpah ini menjadi fondasi ideologis proyek ekspansi Majapahit. Di bawah koordinasi Gajah Mada, Majapahit menaklukkan Bali pada 1343 M, memperluas pengaruh ke Melayu, sebagian Kalimantan, Nusa Tenggara, dan jalur perdagangan maritim strategis. Pada 1350 M, Tribhuwana turun takhta dan digantikan putranya, Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara), yang memimpin hingga 1389 M.
Masa awal pemerintahan Hayam Wuruk dianggap sebagai puncak keemasan Majapahit. Bersama Gajah Mada, ia membangun struktur imperium yang luas. Namun di tengah kejayaan ini, Kerajaan Sunda di bawah Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa tetap menjadi kerajaan merdeka yang belum tunduk kepada Majapahit. Sunda, yang menguasai jalur strategis Jawa Barat dan Selat Sunda, memiliki posisi geopolitik penting. Karena itu, dalam strategi Gajah Mada, Sunda menjadi target penting dalam proyek Nusantara.
Kronologi Perang Bubat Tahun 1357 M: Hayam Wuruk, Dyah Pitaloka, Linggabuana, dan Gajah Mada
Pada awal 1357 M, Raja Hayam Wuruk, yang menurut berbagai sumber tertarik pada kecantikan dan martabat Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Prabu Maharaja Linggabuana, mengajukan pinangan resmi kepada Kerajaan Sunda. Dalam tradisi diplomatik Sunda, pinangan ini dimaknai sebagai hubungan aliansi setara antara dua kerajaan besar.
Menanggapi pinangan tersebut, Prabu Linggabuana bersama permaisuri, Dyah Pitaloka, keluarga kerajaan, pejabat tinggi, dan pasukan pengawal berangkat menuju Majapahit pada pertengahan 1357 M melalui jalur laut menuju pelabuhan Hujung Galuh (Surabaya modern), kemudian menuju ibu kota Majapahit di Trowulan, dan ditempatkan di Lapangan Bubat.
Menurut Kidung Sunda, rombongan Sunda datang dengan kehormatan penuh sebagai tamu diplomatik kerajaan merdeka. Namun, sesampainya di Majapahit, Mahapatih Gajah Mada menuntut agar Dyah Pitaloka tidak diterima sebagai permaisuri setara, melainkan sebagai tanda penyerahan Sunda kepada Majapahit. Tuntutan ini mengubah seluruh makna diplomasi menjadi penghinaan politik.
Prabu Linggabuana menolak keras tuntutan tersebut. Baginya, Sunda datang bukan untuk menyerah, melainkan untuk menjalin aliansi dinasti. Penolakan ini memicu ketegangan langsung antara pihak Sunda dan elite Majapahit.
Pada Perang Bubat tahun 1357 M, pasukan Majapahit mengepung rombongan Sunda di Lapangan Bubat. Dalam pertempuran yang tidak seimbang, Prabu Maharaja Linggabuana, para bangsawan Sunda, dan pengawal kerajaan gugur satu per satu. Dyah Pitaloka Citraresmi kemudian melakukan bela pati (bunuh diri kehormatan) untuk menjaga martabat kerajaan Sunda.
Peristiwa ini menjadi tragedi besar yang bukan hanya menghancurkan keluarga kerajaan Sunda, tetapi juga mencoreng legitimasi moral Majapahit.
Kemunduran Majapahit Pasca Perang Bubat (1357–1527 M): Retaknya Moral Imperium
Pasca tragedi 1357 M, reputasi Gajah Mada menurun drastis. Dalam Pararaton, ia disebut “kena prakara Bubat,” yang berarti terlibat dalam kesalahan besar. Walaupun tetap menjabat, pengaruh politiknya melemah hingga wafat pada 1364 M. Kematian Gajah Mada menimbulkan kekosongan kepemimpinan strategis di Majapahit.
Pada 1365 M, Mpu Prapanca menulis Nagarakretagama, memuji kebesaran Hayam Wuruk dan Majapahit, tetapi secara mencolok tidak menarasikan tragedi Bubat secara eksplisit. Banyak sejarawan menafsirkan penghilangan ini sebagai bentuk kontrol narasi politik terhadap peristiwa memalukan tersebut.
Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada 1389 M, Majapahit mulai mengalami krisis suksesi serius. Perebutan takhta antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi memuncak dalam Perang Paregreg (1404–1406 M), perang saudara besar yang sangat melemahkan struktur politik pusat.
Sepanjang abad ke-15, Majapahit semakin kehilangan kontrol atas wilayah luar. Jalur perdagangan maritim mulai diambil alih oleh kekuatan Islam baru seperti Kesultanan Malaka (berdiri 1400 M) dan kemudian kerajaan-kerajaan pesisir Jawa.
Pada 1478 M, serangan internal dan konflik elite semakin mempercepat keruntuhan. Meskipun beberapa sisa dinasti bertahan, Majapahit secara efektif kehilangan supremasi politiknya.
Akhirnya, pada sekitar 1527 M, kekuatan politik Majapahit benar-benar berakhir seiring dominasi Kesultanan Demak di Jawa.
Kronologi Sejarah
Dengan kronologi mendalam ini, Perang Bubat tahun 1357 M dapat dipahami sebagai titik kritis dalam sejarah Majapahit:
- 1293 M: Raden Wijaya mendirikan Majapahit
- 1336 M: Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa
- 1350 M: Hayam Wuruk naik takhta
- 1357 M: Hayam Wuruk meminang Dyah Pitaloka; Prabu Linggabuana datang ke Majapahit; Gajah Mada memaksakan subordinasi; Perang Bubat pecah
- 1364 M: Gajah Mada wafat
- 1389 M: Hayam Wuruk wafat
- 1404–1406 M: Perang Paregreg
- 1478 M: Kemunduran besar
- 1527 M: Keruntuhan akhir Majapahit
Perang Bubat bukan satu-satunya penyebab runtuhnya Majapahit, tetapi merupakan titik awal kemunduran moral, diplomatik, dan strategis imperium. Tragedi ini menghancurkan peluang aliansi besar Sunda–Majapahit, melemahkan legitimasi politik pusat, dan memperlihatkan bahwa ambisi geopolitik tanpa penghormatan terhadap martabat kerajaan lain dapat menjadi awal dari retaknya kekaisaran besar. Dalam konteks sejarah Nusantara, Bubat menjadi pelajaran abadi tentang batas moral kekuasaan, pentingnya diplomasi, dan harga mahal dari kesalahan tafsir politik.














