Lamajang Tigang Juru Abad 13 : Negeri Muslim Pertama Di Jawa

Lamajang Tigang Juru merupakan salah satu kawasan penting dalam sejarah awal islamisasi Pulau Jawa yang selama berabad-abad cenderung terpinggirkan oleh narasi Demak-sentris yang menempatkan Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama. Namun, penelaahan ulang terhadap sumber primer Jawa Kuno, tradisi genealogis aristokrasi timur Jawa, data arkeologis Situs Biting, catatan pelabuhan internasional Tuban, serta jaringan Wali Songo membuka kemungkinan bahwa wilayah ini telah mengalami proses islamisasi politik jauh lebih awal, setidaknya sejak abad ke-13.
Perspektif ini menempatkan Lamajang Tigang Juru, yang menjadi wilayah utama Majapahit Timur ini bukan sekadar kerajaan otonomi khusus Majapahit, melainkan sebagai salah satu pusat transisi terpenting antara aristokrasi Hindu-Buddha Jawa dengan jaringan dakwah Islam di Nusantara. Pendekatan tersebut merupakan upaya historiografis untuk merangkai ulang serpihan-serpihan sejarah yang lama tersebar, sehingga membentuk pembacaan baru yang lebih menyeluruh terhadap asal-usul politik Islam di Pulau Jawa.
Wilayah Lamajang Tigang Juru secara historis mencakup Lamajang sebagai pusat pemerintahan utama, dengan Keta atau Ketah serta Sadeng sebagai kawasan strategis penyangga yang membentuk struktur politik, militer, dan ekonomi penting di kawasan Majapahit Timur.
Fondasi kekuasaan Lamajang memperoleh legitimasi kuat melalui Pararaton, salah satu naskah utama periode akhir Singhasari dan awal Majapahit. Dalam edisi J.L.A. Brandes (1896) disebutkan:
“Sang Arya Wiraraja winuwus ring Lamajang…”
— Pararaton, ed. J.L.A. Brandes, 1896
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa Arya Wiraraja bukan pejabat biasa, melainkan penguasa strategis wilayah timur Jawa dengan otoritas besar. Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan (1965) menempatkan Arya Wiraraja sebagai tokoh kunci dalam pendirian Majapahit sekaligus penguasa kuat kawasan timur. Posisi ini memperlihatkan bahwa Lamajang merupakan entitas politik besar dengan otonomi substansial, bukan sekadar daerah bawahan.
Keberadaan Lamajang sebagai pusat kekuasaan besar diperkuat oleh Situs Biting di Kutorenon, Sukodono, Lumajang. Penelitian arkeologis menunjukkan kawasan benteng bata monumental seluas sekitar 135 hektar dengan sistem pertahanan luas. M. Dwi Cahyono menyebutnya sebagai:
“Salah satu kompleks pertahanan urban terbesar di Jawa Timur pasca-Singhasari.”
— M. Dwi Cahyono, penelitian arkeologi Jawa Timur, awal 2000-an
Benteng sepanjang kurang lebih 10 kilometer ini menunjukkan kapasitas administratif dan militer tinggi, sesuatu yang sangat jarang ditemukan pada wilayah bawahan biasa. Struktur demikian menandakan Lamajang memiliki kapasitas geopolitik sebagai negara regional mandiri dengan orientasi politik yang besar.
Table of Contents
TogglePendapat KH Agus Sunyoto
Aspek penting dalam konstruksi Islamisasi Lamajang muncul melalui tradisi Syekh Abdurrahman As-Syaibani. KH Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2016) menyatakan:
“Lamajang Tigang Juru merupakan pusat kekuasaan Islam paling awal di Jawa Timur sebelum kemunculan Demak.”
— Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, 2016

Dalam konstruksi ini, Syekh Abdurrahman As-Syaibani—yang diyakini berasal dari Baghdad—diposisikan sebagai penyebar Islam awal sekaligus penasihat spiritual Arya Wiraraja. Walaupun bukti primer langsung mengenai figur ini masih memerlukan verifikasi lebih kuat, tradisi lokal Lumajang mempertahankan memori kolektif tentang keberadaan dakwah Islam aristokratik pada abad ke-13. Dalam historiografi kritis, tradisi tersebut penting sebagai indikator pola transformasi religius, meskipun belum dapat diposisikan sebagai bukti final tanpa penguatan filologis dan epigrafis tambahan.
Situs Biting Lamajang Tigang Juru
Petilasan Arya Wiraraja di kawasan Biting turut menjadi elemen signifikan dalam pembacaan ini. Pemerintah Kabupaten Lumajang secara resmi menjadikannya bagian dari tradisi ziarah Hari Jadi Lumajang. Dalam konteks budaya Jawa klasik, bangsawan Hindu-Buddha umumnya diperabukan, sedangkan tradisi penguburan lebih dekat dengan Islam. Oleh sebab itu, keberadaan situs makam ini sering dibaca sebagai indikasi kemungkinan perubahan keyakinan elite Lamajang. Meski demikian, secara akademik, petilasan tersebut lebih tepat dipahami sebagai fragmen historis penting yang mendukung kemungkinan islamisasi aristokratik, namun belum cukup sebagai bukti absolut.
Pengaruh Ranggalawe
Pengaruh Arya Wiraraja kemudian meluas melalui putranya, Arya Ranggalawe, yang berperan besar di Tuban. Sebagai pelabuhan internasional utama Majapahit, Tuban memiliki posisi strategis dalam perdagangan global. Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512–1515), terjemahan Armando Cortesão (1944), menulis:
“Tuban is a great city, a great seaport, rich and prosperous.”
— Tomé Pires, Suma Oriental, c.1515, trans. Armando Cortesão, 1944
Deskripsi tersebut menunjukkan bahwa Tuban merupakan pusat ekonomi maritim yang kaya, kosmopolitan, dan strategis dalam jaringan perdagangan internasional Asia. Keberadaan aristokrasi lama di tengah berkembangnya perdagangan Islam global memperlihatkan kesinambungan struktur kekuasaan lokal hingga awal abad ke-16. Dalam konteks ini, figur Arya Teja dalam sejumlah tradisi genealogis Jawa sering dikaitkan dengan garis aristokrasi pesisir yang kemudian berhubungan dengan keluarga Sunan Kalijaga. Keterkaitan tersebut membuka kemungkinan bahwa proses islamisasi elite Jawa berlangsung melalui jaringan politik dan perdagangan yang menghubungkan Tuban, Lamajang, dan pusat-pusat kekuasaan regional lainnya.
Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya (1990) menegaskan:
“Islamisasi Jawa bukan peristiwa tunggal, melainkan proses panjang yang melibatkan berbagai pusat kekuasaan lokal.”
Pandangan ini memperkuat interpretasi bahwa perkembangan Islam di Pulau Jawa berlangsung secara bertahap melalui berbagai simpul politik, ekonomi, dan budaya, termasuk wilayah timur seperti Lamajang, sebelum mencapai bentuk institusional yang lebih mapan di Demak. Dengan demikian, transformasi religius Jawa dapat dipahami sebagai proses historis panjang yang melibatkan perdagangan internasional, adaptasi aristokrasi lokal, serta interaksi budaya selama berabad-abad.
Lamajang Tigang Juru Dan Majapahit
Konflik besar seperti pemberontakan Ranggalawe serta tragedi Nambi menunjukkan bahwa wilayah ini tetap menjadi kekuatan regional besar yang mampu menandingi pusat Majapahit. Jika islamisasi aristokratik benar telah berkembang sejak abad ke-13, maka wilayah ini dapat dipahami sebagai model awal negara transisional Jawa: mempertahankan struktur aristokrasi klasik sambil secara bertahap mengintegrasikan Islam ke dalam fondasi politiknya.
Dengan merangkai sumber-sumber seperti Pararaton (Brandes, 1896), kajian Slamet Muljana (1965), penelitian arkeologi Situs Biting, Atlas Wali Songo (Agus Sunyoto, 2016), Suma Oriental (Tomé Pires, 1515), dan analisis Denys Lombard (1990), Lamajang Tigang Juru dapat diposisikan sebagai salah satu kandidat terkuat pusat awal Islam politik di Jawa sejak abad ke-13. Walaupun masih membutuhkan penguatan epigrafis, filologis, dan arkeologis lebih lanjut, susunan data historis ini membuka ruang besar bahwa akar Islam politik Jawa kemungkinan jauh lebih tua, lebih kompleks, dan lebih berpusat di Jawa Timur dibandingkan narasi resmi yang terlalu berorientasi pada Demak. Dalam perspektif historiografi mendalam, Lamajang Tigang Juru layak ditempatkan sebagai salah satu fondasi awal transformasi peradaban Islam politik di Pulau Jawa.
Mat Kohar, S.Kom
Pemerhati Sejarah Bojonegoro














1 thought on “Lamajang Tigang Juru Abad 13 : Negeri Muslim Pertama Di Jawa”