Tuntunan Tata Krama Jawa Menurut Serat Wulangreh

TUNTUNAN TATA KRAMA – Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV merupakan salah satu teks piwulang paling penting dalam tradisi sastra dan filsafat Jawa. Disusun pada awal abad ke-19 di lingkungan Kasunanan Surakarta, karya ini berfungsi sebagai pedoman pembentukan karakter, etika sosial, spiritualitas Islam-Jawa, dan tata kepemimpinan. Sebagai raja sekaligus pujangga, Pakubuwana IV menyusun Wulangreh untuk membangun manusia berbudi luhur melalui integrasi ilmu, agama, tata krama, dan penguasaan diri. Dalam budaya Jawa, tata krama bukan sekadar sopan santun formal, tetapi jalan hidup yang menuntut keselarasan antara batin, perilaku, ucapan, dan moralitas sosial. Karena itu, Serat Wulangreh menempati posisi penting sebagai sumber utama pendidikan karakter Jawa.
Fondasi pertama tata krama Jawa dalam Serat Wulangreh adalah pentingnya ilmu yang benar dan guru yang bermoral. Dalam Pupuh Dhandhanggula, bait 4, Pakubuwana IV menulis:
“Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing chukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana.”
(Namun jika engkau hendak berguru, pilihlah manusia sejati yang baik martabatnya, memahami hukum agama, tekun beribadah, menjaga diri, lebih utama bila ia seorang pertapa yang telah menundukkan hawa nafsunya dan tidak mengharap pemberian orang lain; itulah guru yang patut engkau ikuti.) — Pupuh Dhandhanggula, bait 4
Kutipan ini menunjukkan bahwa tata krama dimulai dari fondasi pendidikan moral. Guru ideal harus memadukan ilmu, adab, dan spiritualitas.
Aspek kedua adalah pengendalian diri. Dalam Pupuh Kinanthi, bait 1, beliau menulis:
“Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesthi, pesunen sariranira, sudanen dhahar lan guling.”
(Latihlah batinmu agar tajam memahami kehidupan, jangan hanya sibuk makan dan tidur; kejarlah keutamaan, kendalikan dirimu, kurangi makan dan tidur.) — Pupuh Kinanthi, bait 1
Ajaran ini menegaskan bahwa manusia luhur harus mampu menaklukkan hawa nafsunya. Kesopanan lahiriah tanpa disiplin batin dianggap belum sempurna.
Salah satu ajaran paling terkenal adalah larangan terhadap adigang, adigung, adiguna. Dalam Pupuh Gambuh, bait 4, Pakubuwana IV menulis:
“Ana pocapanipun, adiguna adigang adigung, pan adigang kidang, adigung pinasti, adiguna ula iku, telu pisan mati samyoh.”
(Ada ajaran tentang kesombongan karena kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian; kekuatan seperti kijang, kekuasaan seperti gajah, kepandaian seperti ular; ketiganya pada akhirnya membawa kehancuran.) — Pupuh Gambuh, bait 4
Konsep ini menjadi kritik moral mendalam terhadap kesombongan manusia. Orang Jawa sejati dituntut rendah hati (andhap asor), tidak menyalahgunakan kekuatan, kedudukan, atau ilmu.
Dalam hubungan keluarga dan sosial, penghormatan menjadi prinsip utama. Dalam Pupuh Maskumambang, bait 10, beliau menulis:
“Pramila rama ibu den bekteni, kinarya jalaran, anane badanireki, kinawruhan padhang hawa.”
(Karena itu, hormatilah ayah dan ibumu, sebab melalui merekalah engkau hadir di dunia dan mengenal kehidupan.) — Pupuh Maskumambang, bait 10
Sementara dalam Pupuh Maskumambang, bait 16, beliau menegaskan:
“Iba warah wuruke ingkang prayogi, sembah kang kaping papat, marang ing guru sayekti, marmane guru sinembah.”
(Nasihat dan ajaran yang baik berasal dari guru sejati; karena itulah guru harus dihormati.) — Pupuh Maskumambang, bait 16
Ini menunjukkan bahwa tata krama Jawa bertumpu pada penghormatan terhadap orang tua, guru, dan struktur moral sosial.
Dalam aspek komunikasi, pengendalian lisan menjadi sangat penting. Dalam Pupuh Wirangrong, bait 1, Pakubuwana IV menulis:
“Den samya marsudeng budi, wuweka dipun waspaos, aja dumeh bisa muwus, yen tan pantes ugi, sanadya mung sekecap, yen tan pantes prenahira.”
(Asahlah budimu, berhati-hatilah, jangan hanya karena mampu berbicara lalu berkata sembarangan; meski hanya sepatah kata, bila tidak tepat tempatnya, akan membawa keburukan.) — Pupuh Wirangrong, bait 1
Ajaran ini menegaskan pentingnya menjaga ucapan sebagai refleksi kualitas batin dan kehormatan diri.
Pakubuwana IV juga menekankan pentingnya lingkungan sosial. Dalam Pupuh Kinanthi, bait 11, beliau menyatakan bahwa orang muda harus rajin bergaul dengan orang tua bijak agar memperoleh wawasan dan karakter yang benar. Ini menunjukkan bahwa tata krama Jawa juga melibatkan pendidikan sosial melalui komunitas.
Selain itu, Serat Wulangreh secara tegas melarang:
- perjudian,
- mabuk,
- candu,
- zina,
- pencurian,
- fitnah,
- kerakusan.
Semua perilaku tersebut dipandang merusak martabat pribadi dan tatanan sosial.
Table of Contents
ToggleEmpat Pilar Tata Krama Jawa Menurut Serat Wulangreh
1. Spiritualitas:
Ibadah, syariat, pengendalian hawa nafsu.
2. Moralitas:
Kerendahan hati, kejujuran, kesabaran, disiplin diri.
3. Sosialitas:
Unggah-ungguh, tepa slira, penghormatan keluarga dan guru.
4. Kepemimpinan dan tanggung jawab sosial:
Loyalitas, amanah, keteraturan masyarakat.
Relevansi Modern
Di era modern, prinsip Serat Wulangreh tetap relevan untuk:
- pendidikan karakter,
- etika komunikasi digital,
- kepemimpinan publik,
- harmoni sosial,
- budaya anti-korupsi.
Larangan adigang, adigung, adiguna sangat relevan dalam menghadapi budaya narsisme, penyalahgunaan kekuasaan, dan elitisme modern.
Kesimpulan
Berdasarkan dokumen asli Serat Wulangreh, tata krama sebagai orang Jawa adalah sistem etika menyeluruh yang membentuk manusia melalui ilmu, moral, spiritualitas, dan harmoni sosial. Sri Susuhunan Pakubuwana IV menegaskan bahwa kemuliaan hidup tidak terletak pada kekuatan, jabatan, atau kepandaian semata, melainkan pada kemampuan menguasai diri, menjaga kehormatan, menghormati sesama, serta hidup selaras dengan nilai ilahiah. Dengan demikian, tata krama Jawa adalah fondasi peradaban yang tetap relevan lintas zaman dan menjadi salah satu warisan moral terbesar Nusantara.













