Julukan The Texas of Java tidak lahir secara kebetulan, melainkan berakar pada realitas historis kawasan Wonocolo–Kawengan (Bojonegoro–Cepu) sebagai bagian dari salah satu wilayah eksplorasi minyak bumi paling awal di Hindia Belanda. Dalam arsip kolonial seperti Indisch Verslag serta laporan teknis Dienst van het Mijnwezen, wilayah Cepu dan sekitarnya sejak akhir abad ke-19 telah diidentifikasi sebagai zona dengan potensi minyak yang signifikan dan menjadi fokus eksplorasi oleh perusahaan-perusahaan Belanda. Aktivitas awal ini dipelopori oleh De Dordtsche Petroleum Maatschappij, yang kemudian berkembang dalam pengelolaan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM)—cikal bakal Royal Dutch Shell. Dalam konteks ini, Cepu—khususnya Ledok—menjadi titik awal eksploitasi minyak bumi modern di Jawa, sementara kawasan Kawengan dan Wonocolo berkembang sebagai bagian dari sistem produksi yang lebih luas.
Indikasi keberadaan minyak di kawasan ini telah dikenal sejak sekitar dekade 1860–1870-an melalui laporan mengenai rembesan minyak alami di wilayah Cepu dan sekitarnya. Eksplorasi yang lebih sistematis dimulai pada tahun 1893 dengan pengeboran sumur Ledok-1, yang sering dianggap sebagai tonggak awal produksi minyak modern di Indonesia. Pembangunan kilang minyak Cepu pada tahun 1894 menandai fase industrialisasi awal, ketika minyak dari lapangan-lapangan di sekitarnya—terutama Kawengan—mulai diolah dalam sistem produksi yang terorganisasi. Dalam struktur ekonomi kolonial, minyak menjadi komoditas strategis yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga terintegrasi dalam jaringan distribusi global yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan Eropa.
Memasuki awal abad ke-20, kawasan Kawengan berkembang sebagai salah satu pusat produksi penting di Jawa, dengan puncak produksi yang tercapai sekitar tahun 1920. Pada fase ini, jaringan industri minyak kolonial di Cepu dan sekitarnya berada dalam kondisi paling produktif. Namun, Wonocolo menempati posisi yang berbeda dalam sistem tersebut. Ketika eksploitasi industri mulai terkonsentrasi pada lapangan-lapangan dengan cadangan besar dan dukungan infrastruktur yang lebih memadai, sebagian sumur di Wonocolo tidak lagi menjadi prioritas dalam skema produksi kolonial. Berbeda dengan banyak wilayah lain yang mengalami stagnasi setelah ditinggalkan oleh perusahaan besar, sumur-sumur di Wonocolo justru dilanjutkan oleh masyarakat lokal. Aktivitas ini berkembang sebagai bentuk adaptasi terhadap sumber daya yang tersedia, sekaligus menciptakan kesinambungan historis yang jarang ditemukan dalam sejarah industri minyak.
Penambangan tradisional di Wonocolo memperlihatkan transformasi teknologi yang khas. Minyak mentah diangkat menggunakan katrol manual atau mesin sederhana, kemudian disuling dengan metode tradisional untuk menghasilkan bahan bakar yang digunakan secara lokal maupun diperjualbelikan. Dalam perspektif sejarah industri, praktik ini mencerminkan perubahan dari sistem produksi kolonial menuju ekonomi berbasis masyarakat, tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan teknologi awal yang diperkenalkan pada masa eksplorasi Belanda. Oleh karena itu, dalam berbagai kajian sejarah energi, Wonocolo kerap dipahami sebagai contoh living industrial heritage, yakni warisan industri yang tidak berhenti sebagai artefak masa lalu, tetapi terus hidup dalam praktik sosial dan ekonomi masyarakat.
Secara geologis, kawasan Wonocolo–Kawengan merupakan bagian dari sistem cekungan minyak yang sama dengan wilayah Cepu dan Blora, yang sejak masa kolonial telah dipetakan oleh Dienst van het Mijnwezen sebagai zona produksi potensial di Jawa. Struktur geologi ini menjadi dasar bagi eksplorasi minyak yang dilakukan oleh pemerintah kolonial dan perusahaan swasta, serta menjelaskan mengapa wilayah ini memiliki posisi penting dalam sejarah energi di Jawa. Dalam kerangka yang lebih luas, Wonocolo tidak hanya memiliki makna lokal sebagai kawasan penambangan tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari narasi panjang perkembangan industri minyak di Indonesia sejak akhir abad ke-19.
Julukan “The Texas of Java” mencerminkan kemiripan lanskap dan dinamika ekonomi dengan wilayah Texas di Amerika Serikat, terutama dalam hal keberadaan sumur minyak dalam jumlah besar dan ketergantungan masyarakat terhadap sektor energi. Namun, jika Texas berkembang sebagai simbol industri minyak modern dengan teknologi tinggi dan kapital besar, maka Wonocolo justru merepresentasikan bentuk yang lebih sederhana sekaligus lebih historis dari dinamika tersebut. Ratusan sumur tua yang tersebar di perbukitan, aktivitas produksi yang masih berlangsung, serta peran masyarakat sebagai pelaku utama menjadikan kawasan ini sebagai lanskap industri yang hidup—sebuah ruang di mana sejarah kolonial, teknologi, dan kehidupan lokal terus berinteraksi hingga hari ini.




