
Upaya pengungkapan Situs Bogangin di Desa Bogangin Kecamatan Sumberejo Kabupaten Bojonegoro terus dilanjutkan. Kegiatan mini ekspedisi yang dilakukan oleh Komunitas Bumi Budaya dan Bojonegoro History merupakan bagian dari langkah awal inventarisasi tinggalan budaya yang diduga memiliki nilai arkeologis, khususnya di kawasan Bogangin, Desa Sumberejo. Penelusuran ini berangkat dari indikasi historis yang merujuk pada laporan arkeologi kolonial awal abad ke-20, terutama yang berkaitan dengan aktivitas dokumentasi yang dilakukan oleh tokoh arkeologi Hindia Belanda seperti F.D.K. Bosch, yang dikenal aktif dalam penyusunan Oudheidkundig Verslag (Laporan Dinas Purbakala) pada periode 1910-an. Bosch dalam berbagai laporannya memang mencatat temuan artefak batu, termasuk lumpang batu, di berbagai wilayah Jawa, meskipun penyebutan lokasi spesifik seperti Bogangin masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui penelusuran arsip primer yang lebih detail.
Sumber Kolonial Hindia Belanda
Dalam konteks wilayah Bojonegoro, sumber kolonial seperti Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië serta laporan Residentie Rembang menunjukkan bahwa kawasan ini sejak abad ke-19 telah dikenal sebagai wilayah dengan kepadatan aktivitas ekonomi dan pemanfaatan sumber daya alam yang tinggi, terutama dalam sektor kehutanan jati dan pertanian. Beberapa laporan administratif dan statistik kolonial, termasuk Volkstelling 1930, juga mencatat dinamika permukiman dan aktivitas ekonomi di wilayah pedalaman Bojonegoro, yang memungkinkan adanya situs-situs hunian lama yang kini tersembunyi di bawah lapisan tanah akibat perubahan penggunaan lahan. Dalam pendekatan arkeologi kolonial, wilayah-wilayah dengan karakter seperti ini sering kali menjadi lokasi potensial ditemukannya artefak permukiman, terutama yang berkaitan dengan aktivitas agraris dan perdagangan lokal.
Hasil penelusuran lapangan yang dilakukan pada 17 November 2024 menunjukkan bahwa kawasan Bogangin memiliki indikasi kuat sebagai situs yang mengandung tinggalan arkeologis. Penyebaran fragmen artefak seperti pecahan gerabah, keramik, bata kuno, hingga temuan logam yang diduga sebagai mata uang lama, menunjukkan adanya aktivitas manusia dalam skala tertentu di masa lampau. Dalam metodologi arkeologi, temuan permukaan (surface finds) seperti ini menjadi indikator awal keberadaan situs, meskipun belum cukup untuk menentukan kronologi tanpa dilakukan ekskavasi dan analisis stratigrafi yang lebih mendalam. Luasan area yang diperkirakan mencapai sekitar 200 x 200 meter juga memperkuat dugaan bahwa kawasan ini merupakan bagian dari lanskap hunian atau pusat aktivitas yang lebih luas, bukan sekadar titik temuan tunggal.
Sumber Keterangan Masyarakat Setempat
Keterangan dari masyarakat lokal turut memberikan dimensi penting dalam memahami konteks situs. Informasi dari warga seperti Mbah Poh mengenai keberadaan vegetasi besar di masa lalu—seperti pohon bogo, asem, pilang, kepoh, hingga slubin—menggambarkan bahwa kawasan ini pernah memiliki karakter lingkungan yang berbeda sebelum berubah menjadi lahan pertanian. Dalam kajian sejarah lingkungan, perubahan lanskap seperti ini sering kali berkaitan dengan pergeseran pola ekonomi dan penggunaan lahan dalam jangka panjang. Selain itu, keberadaan sumber air seperti sendang yang kini berubah menjadi sumur juga menjadi indikator penting, karena dalam banyak kasus permukiman lama di Jawa berkembang di sekitar sumber air yang stabil.
Dari sisi historiografi lokal, sejumlah peneliti dan penulis sejarah Bojonegoro juga menekankan bahwa wilayah ini memiliki lapisan sejarah yang kompleks, mulai dari masa klasik, kolonial, hingga modern, yang sebagian besar belum terdokumentasi secara menyeluruh dalam kajian akademik. Tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, seperti cerita tentang tokoh Mbah Sendi yang diyakini memiliki kekuatan spiritual, menunjukkan adanya keterkaitan antara ruang fisik situs dengan makna kultural yang terus hidup. Dalam perspektif antropologi sejarah, fenomena ini dapat dipahami sebagai bagian dari living tradition, di mana ingatan kolektif masyarakat berfungsi sebagai medium pelestarian sejarah di luar arsip tertulis.
Nilai Spiritual Situs Bogangin
Praktik budaya seperti sedekah bumi dan nyadran yang masih dilakukan di kawasan Bogangin memperkuat indikasi bahwa lokasi ini memiliki nilai simbolik yang tinggi bagi masyarakat setempat. Dalam banyak kasus di Jawa, situs yang memiliki potensi arkeologis sering kali juga menjadi ruang sakral yang dijaga melalui ritual-ritual tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap situs tidak dapat dilepaskan dari keterkaitan antara data material, arsip sejarah, dan praktik budaya yang hidup.
Dengan menggabungkan rujukan arsip kolonial seperti Oudheidkundig Verslag, Regeerings-Almanak, serta pendekatan historiografi lokal dan temuan lapangan, Situs Bogangin dapat diposisikan sebagai lokasi yang memiliki potensi arkeologis dan historis yang signifikan di wilayah Bojonegoro. Namun demikian, untuk memastikan posisi kronologis dan karakter situs secara lebih akurat, diperlukan penelitian lanjutan yang lebih sistematis, termasuk ekskavasi arkeologis dan kajian lintas disiplin yang melibatkan sejarah, arkeologi, dan antropologi.



