ARJUNAWIWAHA BAGIAN I : ARJUNA MEMASUKI INDRAKILA DAN MEMULAI TAPA BRATA
Gunung Indrakila berdiri sebagai benteng sunyi yang memisahkan dunia manusia dari wilayah-wilayah halus yang tidak terjangkau oleh kesadaran biasa. Di kejauhan, punggung-punggung gunung tampak seperti gelombang raksasa yang membatu, memanjang dari utara ke selatan, dengan jurang dan tebing yang tersusun oleh waktu yang tidak dapat dihitung oleh kalender manusia. Indrakila tidak hanya menjadi titik geografis dalam peta kuno; gunung itu merupakan ruang peralihan, tempat di mana suara dunia perlahan-lahan luruh dan tergantikan oleh getaran alam yang lebih murni. Dalam kabut tipis yang menyelimuti lereng-lerengnya, sejarah panjang meditasi, pengasingan, dan pencarian makna telah berakar kuat bahkan sebelum nama-nama kerajaan tercatat dalam cerita manusia.
Arjuna menapakkan kaki di lereng Indrakila dengan langkah yang tidak tergesa tetapi mantap, langkah seseorang yang telah memutuskan untuk meninggalkan dunia yang selama ini menaruhnya sebagai tokoh penting. Kehidupan sebagai ksatria, dengan segala tantangan perang dan hiruk-pikuk kerajaan, telah memberinya pemahaman luas tentang dunia luar. Namun pemahaman itu belum menyentuh akar terdalam keberadaannya. Dengan memasuki Indrakila, Arjuna melepaskan tali yang mengikatnya pada keramaian kehidupan, berharap menemukan sesuatu yang lebih tinggi dari kemenangan fisik, lebih murni dari prestasi duniawi, dan lebih dalam daripada pengetahuan yang bisa diperoleh melalui pertempuran.
Hutan menuju Indrakila dipenuhi pohon-pohon raksasa yang telah tumbuh berabad-abad. Akar mereka menjalar menutupi tanah, menciptakan jalur alami yang tidak dibuat untuk manusia melaluinya dengan mudah. Namun bagi seseorang seperti Arjuna yang terbiasa dengan perjalanan panjang, hutan itu bukan hambatan, melainkan tahap awal proses pelepasan diri dari dunia lama. Daun-daun yang jatuh menutupi tanah seperti karpet alami, menghasilkan suara lembut setiap kali diinjak. Cahaya matahari hanya muncul sesekali, menembus celah-celah dedaunan dan menciptakan garis-garis tipis yang menari di udara. Hewan-hewan liar berjalan melalui semak-semak, tetapi tidak ada yang merasa perlu menghindari manusia yang berjalan dengan ketenangan dan tanpa niat buruk.
Ketika Arjuna mencapai kaki gunung, udara berubah. Suhu lebih dingin, namun tidak menusuk; angin lebih lembut tetapi membawa bau khas batu basah dan lumut tua. Suasana berubah menjadi lebih sepi, seakan pepohonan dan tanah di sekitarnya sedang menahan napas untuk menyambut kedatangan seseorang yang akan memasuki ruang batin terdalam alam. Arjuna melanjutkan pendakian, melintasi jalan landai yang berubah menjadi curam pada titik tertentu. Di beberapa tempat, tebing curam membayangi jalur pendakian, dan di tempat lain, hamparan tanah datar yang dipenuhi bunga liar menampakkan dirinya sebagai kejutan dari alam yang penuh variasi.
Di pertengahan lereng, Arjuna menemukan sebuah ceruk alami. Ceruk itu terbentuk dari batu besar yang terbelah di masa lalu oleh kekuatan alam, mungkin oleh gempa atau perubahan besar dalam struktur gunung. Meskipun terbuka, ceruk itu memiliki bentuk yang tepat untuk melindungi seseorang dari hujan, angin, dan panas matahari. Di depannya terdapat pohon besar berusia ratusan tahun, dengan akar menggembung yang mencengkeram tanah dan batangnya yang kokoh seakan telah menjadi saksi bisu zaman. Di bawah pohon itu ada batu pipih yang cukup besar untuk dijadikan alas duduk seorang pertapa.
Arjuna menilai tempat itu dan merasakan kedamaian alami yang terpancar dari lingkungan sekitarnya. Dia memutuskan bahwa ceruk ini adalah tempat yang paling sesuai untuk memulai tapa brata. Ia duduk di atas batu pipih, meluruskan punggung, meletakkan tangan di atas lutut, dan mulai menarik napas secara teratur. Udara gunung yang segar masuk ke paru-parunya, membawa sensasi dingin yang menimbulkan ketenangan awal. Dalam beberapa saat, suara-suara kecil dari alam di sekitarnya terdengar seperti irama pembuka menuju dunia batin yang hendak ia masuki.
Hari pertama pertapaan menjadi awal yang tidak mudah. Tubuh manusia selalu membutuhkan adaptasi terhadap posisi diam yang berkepanjangan. Otot-otot kaki terasa kaku, kulit terasa gatal, dan sendi-sendi mengirimkan sinyal ketidaknyamanan. Namun Arjuna menghadapi semuanya dengan kesadaran penuh. Ia membiarkan setiap rasa tidak nyaman muncul tanpa berusaha melawannya. Lama-kelamaan, sensasi itu mereda, bukan karena tubuh menyerah, tetapi karena pikiran tidak lagi memperhatikannya. Tubuh menjadi bagian dari alam yang dapat diterima apa adanya.
Waktu berlalu tanpa disadari. Matahari bergerak dari timur ke barat, dan Arjuna tetap dalam posisi yang sama. Ketika senja tiba, cahaya jingga menyapu permukaan gunung. Kabut turun dan menutupi pepohonan, membuat hutan tampak seperti dunia lain. Suara burung-burung petang terdengar, menandakan bahwa kehidupan liar sedang bersiap untuk berganti giliran dengan penghuni malam. Arjuna tetap memasuki semadi, tidak terganggu oleh perubahan alam yang bergerak di sekitar tubuhnya.
Ketika malam benar-benar datang, hutan berubah menjadi tempat yang gelap dan misterius. Bulan muncul pelan dari balik awan tebal, memberikan cahaya lembut pada permukaan tanah. Di kejauhan, serigala hutan melolong, disusul suara hewan liar lainnya yang bergema melalui pepohonan. Udara malam lebih dingin, menembus kulit seperti jarum halus. Tetapi tubuh Arjuna tidak menggigil. Ia tetap diam. Keteguhan batinnya mulai membentuk lapisan-lapisan ketahanan baru yang membuat tubuhnya seolah berada di luar jangkauan kondisi fisik.
Hari-hari berikutnya tubuhnya memasuki pola baru. Rasa lapar muncul pada awalnya, kemudian membentuk gelombang yang datang dan pergi. Namun melalui kekuatan tapa, rasa lapar perlahan berkurang intensitasnya hingga akhirnya hilang sama sekali. Tubuh mulai menerima makanan dari udara dan ketenangan alam. Sementara itu, pikiran Arjuna bergerak dari tingkat permukaan yang dipenuhi ingatan masa lalu, menuju ruang yang lebih dalam di mana gambaran-gambaran itu tidak lagi muncul secara acak. Ia merasakan bahwa jarak antara tubuh dan alam semakin menipis. Ketika angin bertiup, ia merasakannya seolah angin itu merupakan bagian dari napasnya sendiri. Ketika daun jatuh ke tanah, ia merasakannya seperti gerakan halus yang terjadi pada dirinya.
Raksasa-raksasa yang tinggal di hutan mulai merasakan energi aneh yang keluar dari tempat pertapaan Arjuna. Energi itu semakin hari semakin kuat, tetapi bukan energi yang menakutkan. Energi itu murni, halus, dan bersifat menenangkan. Namun bagi raksasa yang terbiasa hidup dalam dunia kasar yang penuh kekuatan fisik, kehadiran energi seperti itu memunculkan rasa ingin tahu yang bercampur kecemasan. Pada suatu malam, beberapa dari mereka mendekati tempat Arjuna bertapa. Tubuh-tubuh mereka yang besar menyebabkan tanah bergetar saat melangkah. Mereka berhenti pada jarak tertentu, mengamati sosok Arjuna yang tetap duduk dalam keteguhan.
Tidak ada reaksi dari Arjuna. Tidak ada tanda ketakutan, tidak ada tanda kewaspadaan layaknya manusia biasa. Ketika raksasa-raksasa itu mengaum pelan untuk menguji keberaniannya, udara bergetar, tetapi Arjuna tidak bergeming. Raksasa-raksasa itu akhirnya meninggalkan tempat itu, merasakan bahwa manusia yang bertapa ini mungkin berada pada tingkat yang berbeda dari manusia kebanyakan.
Hari berganti menjadi minggu. Minggu berganti menjadi bulan. Arjuna tidak lagi merasakan pergantian waktu sebagai sesuatu yang terpisah dari dirinya. Gerakan matahari dan bulan, pergantian siang dan malam, datang dan pergi tanpa memberikan gangguan sedikit pun. Ia memasuki kondisi kesadaran yang tidak lagi bergantung pada ritme tubuh. Napasnya semakin halus, hampir tidak terdengar. Tubuhnya semakin ringan, seakan tidak lagi memiliki bobot. Ia seperti menjadi bagian dari energi yang bergerak di dalam hutan dan gunung itu.
Pada titik tertentu, makhluk-makhluk halus mulai merasakan adanya cahaya samar yang memancar dari Arjuna. Cahaya itu tidak tampak bagi mata manusia, tetapi dapat dirasakan oleh makhluk halus sebagai getaran tenang yang menyelimuti area sekitar. Cahaya itu bergerak perlahan, naik dan turun, seakan mengalir bersama napas batin Arjuna. Para dewa di kahyangan menyadari cahaya itu sebagai tanda bahwa seseorang di dunia manusia sedang mencapai tingkat ketenangan yang luar biasa.
Indra memperhatikan semua itu. Bagi para dewa, manusia yang mampu mencapai tahap seperti ini sangat jarang. Jika seseorang dapat melampaui kendala tubuh dan pikiran hingga memancarkan cahaya batin, seseorang itu telah mendekati keadaan di mana para dewa dapat berinteraksi dengannya. Namun ketenangan saja belum cukup. Seorang manusia yang hendak menerima kekuatan besar harus diuji melalui berbagai bentuk godaan dan tantangan yang berasal dari alam, dari makhluk lain, dan yang paling penting, dari dirinya sendiri. Pertapaan Arjuna telah mencapai titik di mana ujian selanjutnya harus dimulai.
Tetapi ujian itu tidak muncul pada sarga pertama. Pada Sarga I, seluruh perjuangan Arjuna adalah membenamkan dirinya pada kesunyian, menghadapi rasa sakit, menghadapi alam, menghadapi kehadiran raksasa, dan menundukkan seluruh tubuh serta pikiran agar diam dalam ketenangan sempurna. Ia tetap duduk di tempat yang sama, dikelilingi alam yang terus bergerak, dikelilingi waktu yang terus mengalir, dikelilingi makhluk-makhluk yang datang dan pergi.
Namun Arjuna tidak bergerak sedikit pun.
Ia telah menjadi bagian dari Indrakila.
Dan Indrakila menerima keberadaannya.
