KH Abdurrahman Klotok adalah salah satu ulama besar Jawa Timur yang kehadirannya menembus batas ruang geografi dan masa hidupnya. Ia lahir dalam dunia pedesaan Padangan yang jauh dari pusat kekuasaan kolonial, namun warisan intelektual dan spiritualnya menyebar melampaui desa, kecamatan, bahkan menembus daerah-daerah pesisir dan pedalaman lain di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Nganjuk, hingga sebagian wilayah Madura. Hidup pada sekitar tahun 1776–1877, ia menjadi saksi hidup dari empat masa sejarah besar: akhir kekuasaan Mataram Islam, peralihan ke dominasi VOC, hadirnya pemerintahan Hindia Belanda, dan masuknya kebijakan-kebijakan kolonial yang mengubah wajah pedesaan Jawa. Dalam rentang hidup panjang itu, ia tidak hanya mengajar kitab, tetapi juga menjadi penjaga naskah, penasihat moral masyarakat, dan simbol keagamaan yang bertahan melalui catatan-catatan koloni yang memandang para ulama pedesaan sebagai kekuatan sosial yang sulit dikendalikan. Di dusun Klotok, desa Banjarejo—yang pada masa itu hanyalah titik kecil di tengah jaringan pedesaan Bengawan Solo—KH Abdurrahman membentuk pusat keilmuan yang nyalanya bertahan lebih dari satu abad.
Konteks kelahirannya terjadi pada masa ketika sebagian besar daerah Bojonegoro, termasuk Padangan, berada di bawah administrasi Residentie Rembang, salah satu wilayah jajahan Belanda yang terkenal luas dan kompleks. Dalam Algemeene Secretarie Verslagen awal abad ke-19, daerah pedalaman Bojonegoro digambarkan sebagai kawasan yang “religius tetapi penuh kegelisahan sosial akibat tekanan pajak, kerja rodi, dan perubahan administratif di tingkat desa”. Kehidupan masyarakat digambarkan sebagai kehidupan agraris yang bergantung sepenuhnya pada sawah, muson, dan aliran Bengawan Solo, sementara pemungutan pajak kolonial sering menyebabkan rakyat terpaksa menjual hasil panen di bawah harga. Dalam keadaan seperti ini, ulama menjadi pusat kepercayaan masyarakat. Catatan kolonial menyebut bahwa di pedesaan “rakyat lebih mendengar guru agama daripada pejabat desa”—sebuah pengakuan yang tidak pernah diucapkan secara terbuka oleh pemerintah Hindia Belanda, tetapi tercatat dalam laporan-laporan administratif mereka. KH Abdurrahman tumbuh dalam lingkungan seperti itulah: dunia yang mulai terdesak oleh intervensi kolonial tetapi tetap memiliki benteng moral dalam bentuk kiai desa.
Sebagian tradisi lokal menyebut KH Abdurrahman memiliki nasab sebagai sayyid: Abdurrahman ibn Syahiddin ibn Sidi Mrayun. Terlepas dari detail genealoginya, yang jelas ia berasal dari keluarga yang sudah lama memiliki kedekatan dengan keilmuan Islam dan jaringan ulama. Pada periode itu, keluarga-keluarga ulama berperan sebagai pewaris tradisi ilmu, mengajar generasi baru, dan menjaga kesinambungan kitab-kitab klasik. Lingkungan Padangan yang pada masa kecilnya masih dipenuhi surau dan langgar kecil—sebagaimana dicatat dalam arsip Residentie Rembang Rapportage tahun 1825 yang menggambarkan kawasan Padangan–Ngraho–Kasiman sebagai “daerah dengan surau-surau yang aktif”—membentuk dirinya sejak awal sebagai figur yang tidak terpisahkan dari dunia kitab. Dari lingkungan ini ia memulai perjalanan intelektualnya, berguru ke berbagai ulama besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, bahkan kemungkinan besar berhubungan dengan jaringan ulama pesisir yang berkaitan dengan tradisi Gresik, Tuban, dan Lasem.
Ketika kembali dari perjalanan ilmunya, KH Abdurrahman memilih Dusun Klotok sebagai pusat pengajaran. Pilihan ini, meski tampak kecil, memiliki konteks strategis. Klotok berada di jalur pedesaan yang menghubungkan Padangan dengan titik-titik jalur dagang lama menuju Bojonegoro dan Tuban. Catatan kolonial menyebut daerah-daerah seperti Klotok sebagai “desa yang religius dan sulit dipengaruhi oleh program pemerintah” (laporan Controleur Bojonegoro tahun 1834). Desa-desa seperti inilah yang menjadi ruang aman bagi ulama untuk membangun pesantren yang tidak terlalu menarik perhatian pemerintah kolonial. Di tempat seperti Klotok, KH Abdurrahman mendirikan pesantren kecil yang kelak menjadi pusat spiritual masyarakat.
Pesantren yang beliau dirikan tidaklah besar atau mewah. Tidak ada bangunan permanen, tidak ada yayasan, tidak ada sistem kelas. Pada masa itu, pesantren adalah jaringan longgar berupa rumah kiai, surau kecil, dan halaman tempat santri belajar sorogan, bandongan, atau menghafal kitab. Hubungan guru-murid selalu langsung, personal, dan intens. Santri-santri yang datang dari berbagai daerah tinggal di rumah-rumah penduduk atau di langgar. Mereka bekerja, membantu masyarakat, dan belajar dalam ritme kehidupan desa yang sederhana. KH Abdurrahman mengajar dengan penuh ketekunan, dan itulah yang membuat pesantrennya hidup. Dalam tradisi pesantren Jawa, kemegahan fisik bukan ukuran. Ilmu dan keberkahan adalah ukuran sebenarnya. Dan dalam hal itu, KH Abdurrahman berada di puncak.
Salah satu warisan terbesar KH Abdurrahman adalah manuskrip. Di Masjid Klotok, tepat di atas balok plafon kayu tua, ditemukan sebuah peti berisi manuskrip-manuskrip Arab-Jawa dan mushaf al-Qur’an tulisan tangan beliau. Penemuan ini merupakan bukti fisik yang jarang dimiliki ulama desa. Tidak banyak kiai pada abad ke-19 yang menguasai kaligrafi Arab sedemikian rupa hingga mampu menyalin mushaf secara lengkap. Menyalin mushaf adalah pekerjaan yang membutuhkan keahlian tinggi, ketelitian, kesabaran, dan kedalaman spiritual. Selain mushaf, terdapat pula lebih dari 50 manuskrip lain yang mencakup kitab fikih, tafsir, tasawuf, teologi, dan kitab-kitab ringkas yang digunakan untuk pengajaran santri. Penemuan manuskrip di Klotok menunjukkan bahwa beliau bukan hanya pengajar, tetapi juga intelektual kelas tinggi yang menghasilkan karya tulis yang hari ini menjadi harta karun. Laporan etnografi Belanda dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde edisi 1865 bahkan mencatat keberadaan “koleksi manuskrip Arab-Jawa yang melimpah di pedalaman Bojonegoro, terutama di desa-desa dengan aktivitas keagamaan padat”. Meski arsip itu tidak menyebut nama, kesesuaiannya dengan keberadaan manuskrip KH Abdurrahman sangat jelas.
Pada masa itulah pemerintah Hindia Belanda mulai memperketat pengawasan terhadap kegiatan keagamaan, terutama setelah Perang Jawa (1825–1830). Ulama pedesaan dipandang berbahaya karena mampu mempengaruhi rakyat secara moral. Namun tidak ada catatan kolonial yang menyebut KH Abdurrahman sebagai tokoh yang melawan secara fisik. Beliau melakukan “perlawanan sunyi”, yaitu membangun kekuatan moral rakyat melalui pendidikan agama. Sistem kolonial tidak menyadari bahwa kekuatan sejati ulama bukan pada militansi, tetapi pada pendidikan yang berlangsung setiap hari. Pada 1830-an hingga 1850-an, banyak laporan administratif yang menyebut bahwa “guru agama di wilayah Bojonegoro lebih dihormati daripada kepala desa, sehingga kebijakan pemerintah sering tidak efektif”. Ini menunjukkan bahwa orang seperti KH Abdurrahman memegang peran strategis di masyarakat, meski tidak tercatat dalam arsip.
Santri-santri beliau menjadi pembawa pengaruh yang luas. Mereka menyebar ke Tuban, Kasiman, Temayang, Gresik, Nganjuk, hingga Jatirogo. Banyak di antaranya mendirikan pesantren baru, menjadi guru ngaji, imam masjid, atau tokoh masyarakat. Tradisi pesantren menyebut bahwa keberhasilan kiai tidak hanya diukur dari karyanya, tetapi juga dari murid-muridnya. Jaringan santri KH Abdurrahman menciptakan “jejaring ulama Klotokan”, sebuah garis panjang yang menyusup ke berbagai daerah. Di satu sisi, jaringan ini membuat nama beliau dikenal luas; di sisi lain, jaringan ini membuat pemerintah kolonial semakin sulit memetakan kekuatan sosial di pedesaan. Hal ini tercermin dalam laporan Controleur Walraven tahun 1870 yang menulis bahwa “pengaruh tokoh agama di Bojonegoro sulit diukur, tetapi sangat kuat dan menembus struktur sosial desa.”
Kondisi ekonomi kolonial juga membentuk lingkungan pesantren. Pada pertengahan abad ke-19, sistem pajak landrente dan monopoli perdagangan pertanian membuat rakyat pedesaan menderita. Masa kekeringan dan turunnya harga padi membuat banyak keluarga hidup dalam kesulitan. Dalam kondisi seperti itu, pesantren Klotok sering menjadi tumpuan masyarakat: tempat berkumpul, tempat mendapat nasihat, dan tempat menjaga harapan. KH Abdurrahman mengajarkan nilai sabar, tawakkal, dan istiqamah—nilai yang sangat relevan saat masyarakat menghadapi tekanan kolonial. Ketika rakyat mencari pegangan, mereka datang ke ulama. Ketika pemerintah mengabaikan mereka, mereka datang ke pesantren.
Masjid Klotok menjadi pusat seluruh kehidupan ini. Masjid tersebut bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat pendidikan dan pusat memori. Di sana manuskrip disimpan, santri belajar, masyarakat berkumpul, dan tradisi dijaga. Masjid itu berdiri sebagai saksi lebih dari dua abad kehadiran nilai-nilai yang disebarkan KH Abdurrahman. Di sebelahnya, makam beliau menjadi ruang ziarah yang tidak pernah sepi. Haul yang dilaksanakan setiap tahun menunjukkan bagaimana nama beliau hidup dalam batin masyarakat. Haul bukan ritual biasa; itu adalah cara masyarakat menjaga hubungan spiritual dengan tokoh yang telah membentuk mereka. Ribuan orang datang dengan membawa doa, harapan, dan rasa hormat.
Jejak KH Abdurrahman tidak hanya berada dalam manuskrip yang ia tinggalkan, tetapi dalam karakter masyarakat yang ia bentuk. Kesederhanaannya tercermin dalam pesantrennya yang kecil; kedalaman ilmunya tercermin dalam puluhan manuskrip; pengaruhnya tercermin dalam para santri; dan keteguhan moralnya tercermin dalam kehidupan masyarakat yang tetap religius meski hidup di bawah tekanan kolonial. Dalam narasi kolonial, ulama pedesaan sering dianggap “penghalang modernisasi”. Tetapi dalam narasi masyarakat, ulama seperti beliau adalah penjaga stabilitas. Mereka-lah yang membuat masyarakat tidak kehilangan arah. Mereka-lah yang membuat masyarakat tetap memiliki martabat. Mereka-lah yang membuat tradisi tetap berjalan.
Kini, ketika kita menelusuri kembali sejarah Padangan dan Bojonegoro, kita menemukan bahwa KH Abdurrahman Klotok adalah salah satu pilar besar yang selama ini tersembunyi di balik catatan lisan. Ia tidak tercatat dalam prasasti, tetapi tercatat dalam hati masyarakat. Ia tidak muncul dalam laporan kolonial dengan nama lengkap, tetapi jejaknya terlihat jelas dalam deskripsi mengenai “guru agama pedesaan yang sangat dihormati”. Ia mungkin tidak meninggalkan buku cetak, tetapi ia meninggalkan manuskrip—bukti intelektual yang nilainya jauh lebih tinggi. Manuskrip itu menjadi saksi bahwa di sebuah dusun kecil bernama Klotok, pernah hidup seorang ulama besar yang menjadikan ilmu sebagai jalan hidup.
Dalam sejarah panjang ulama Nusantara, KH Abdurrahman Klotok adalah contoh betapa ulama desa sering kali lebih kuat daripada pejabat kolonial, lebih berpengaruh daripada kepala distrik, dan lebih dicintai daripada pemimpin formal. Kesederhanaannya adalah kekuatannya. Ilmunya adalah warisannya. Murid-muridnya adalah cahayanya. Dan manuskrip-manuskripnya adalah bukti bahwa Padangan pernah memiliki seorang ulama yang tidak hanya hidup satu abad, tetapi akan mengisi abad-abad berikutnya melalui ilmu yang tetap dibaca, dibahas, dan dikaji.
Ia adalah ulama yang tidak tersentuh kolonial, tidak tergoyahkan zaman, dan tidak akan dilupakan masyarakatnya.
