Kehancuran Baghdad pada tahun 1258 bukan sekadar jatuhnya sebuah kota; ia adalah pukulan terbesar dalam sejarah dunia Islam sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, sebuah bencana yang mengubah arah peradaban selama berabad-abad. Dunia yang dahulu menyaksikan Baghdad berdiri sebagai mercusuar ilmu pengetahuan, tiba-tiba harus melihat kota itu berubah menjadi lautan abu, darah, dan reruntuhan. Peristiwa itu tidak sekadar menghapus bangunan, tetapi menghapus ingatan, membunuh generasi, menghancurkan tradisi, memutus garis transmisi ilmu, dan memadamkan cahaya peradaban yang selama lima abad menerangi dunia dari Andalusia hingga India. Dan tragedi itu bermula dari satu hari ketika pasukan Mongol sepenuhnya memasuki celah tembok timur Baghdad, yang runtuh seperti dinding kertas terkena badai.
Begitu celah itu terbuka dan formasi pasukan Mongol bergerak maju memasuki kota, Baghdad sebenarnya sudah jatuh secara mental. Rakyat yang melihat pasukan berkuda memasuki kota tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan. Ketenangan pasukan Mongol saat memasuki kota membuat mereka seperti malaikat maut yang berjalan tanpa emosi. Mereka tidak menyerang secara liar, tetapi masuk dengan disiplin yang mematikan. Barisan demi barisan memasuki kota, dan setiap langkah mereka adalah pengingat bahwa Baghdad, kota cahaya, kini menjadi kota yang menunggu hukuman akhir.
Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi suara pedagang, ulama, penyair, dan anak-anak kini berubah menjadi jalan yang dipenuhi debu, kepanikan, dan napas tercekat. Beberapa penduduk mencoba melarikan diri ke masjid-masjid, berharap bahwa rumah ibadah akan menjadi tempat perlindungan. Yang lain mencoba mengumpulkan barang berharga, berharap dapat menyelamatkan setidaknya sebagian kecil dari hidup mereka. Tetapi pasukan Mongol tidak membedakan bangunan atau orang. Mereka melihat Baghdad sebagai sebuah kota yang telah memilih melawan, dan dengan demikian seluruh isinya harus menderita akibat pilihan itu.
Ketika Mongol mulai menyebar dari jalan utama, mereka memasuki gang-gang, memeriksa pintu satu per satu. Mereka bergerak cepat, tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bersembunyi. Rumah-rumah diperiksa, dan mereka yang ditemukan diperlakukan sebagai musuh. Tidak ada pengecualian untuk wanita, anak-anak, atau orang tua. Kota itu menjadi panggung tragedi manusia yang tidak mungkin digambarkan dengan kata-kata.
Di dekat pasar besar Baghdad, para pedagang yang selama ini membanggakan kejayaan ekonomi kota kini berjongkok ketakutan. Toko-toko yang selama ini penuh dengan barang-barang dari India, Cina, Byzantium, dan Afrika, kini menjadi tempat terjadi pembunuhan atau penjarahan. Karpet-karpet Persia, kain sutra, rempah-spesias dari Timur Jauh, dan emas dari Afrika Utara — semua itu direbut oleh pasukan Mongol dalam hitungan menit. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Apa yang bisa diambil, mereka ambil. Apa yang tidak memiliki nilai atau dianggap berpotensi menjadi tempat persembunyian, mereka bakar.
Sementara itu, suara tangis memenuhi udara. Bau api, darah, dan debu bercampur menjadi satu, membentuk aroma kehancuran yang tidak pernah terlupakan oleh mereka yang selamat. Baghdad, kota yang dulunya harum oleh wangi bunga dan aroma rempah di pasar, berubah menjadi kota yang berbau kematian.
Namun tragedi terbesar bukan sekadar pembantaian rakyat, tetapi penghancuran pusat peradaban: Bayt al-Hikmah, atau Rumah Kebijaksanaan, perpustakaan terbesar dalam sejarah Islam. Bayt al-Hikmah adalah tempat di mana ilmu-ilmu Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, tempat di mana astronom Persia dan matematikawan Irak bekerja bersama, tempat di mana para dokter dari seluruh dunia Islam memadukan ilmu Hippokrates, Galen, dan al-Razi. Ketika Mongol memasuki gedung legendaris itu, mereka tidak melihatnya sebagai pusat ilmu, tetapi sebagai simbol kejayaan Abbasiyah yang harus dihancurkan. Ribuan manuskrip dilemparkan dari jendela ke halaman. Sebagian dibakar. Sebagian lagi dilemparkan ke sungai. Catatan sejarah mengatakan bahwa Sungai Tigris berubah menjadi hitam oleh tinta buku-buku yang larut, dan merah oleh darah rakyat Baghdad.
Sungai itu, yang selama berabad-abad membawa kehidupan, kini membawa kematian. Ia menjadi saksi bisu dari musnahnya ilmu pengetahuan yang tidak bisa diganti. Buku-buku astronomi karya al-Khawarizmi, catatan geografi Ibn Hawqal, manuskrip matematika al-Kindi, tulisan-tulisan al-Farabi tentang filsafat, catatan medis Ibn Sina — semuanya hilang. Sebagian mungkin selamat dalam bentuk salinan di pusat-pusat ilmu lain, tetapi jumlah yang hilang dari Baghdad tidak pernah dapat dipulihkan. Hilangnya Bayt al-Hikmah adalah hilangnya memori kolektif dunia Islam.
Di saat itu pula, Hulagu Khan memusatkan perhatiannya pada istana khalifah. Al-Musta’sim, pemimpin Abbasiyah yang memerintah dengan kelemahan dan kelengahan, dibawa ke hadapan Hulagu sebagai seorang tawanan. Al-Musta’sim tidak mengenakan pakaian kebesaran khalifah, tidak membawa tongkat kekuasaan, dan tidak lagi dikelilingi oleh ulama atau wazir. Ia berdiri sendirian, menggigil, dan menyadari bahwa ia telah gagal bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai pelindung sebuah peradaban besar. Hulagu tidak menunjukkan kemarahan atau kegembiraan. Ia hanya memandang khalifah seperti seseorang yang melihat konsekuensi dari keputusan yang salah. Dan di titik itu, sejarah Abbasiyah pun berakhir.
Khalifah dibunuh tanpa ditumpahkan darahnya. Tidak ada pedang atau tombak yang menusuk tubuhnya. Tidak ada darah yang mengalir. Dalam kepercayaan Mongol, darah bangsawan tidak boleh menyentuh tanah karena itu dianggap pembawa kutukan bagi mereka yang membunuhnya. Maka al-Musta’sim dibunuh dengan metode yang menyakitkan namun bersih. Kematian itu menandai akhir resmi kekhalifahan Abbasiyah sebagai entitas politik. Dunia Islam kini tidak lagi memiliki pusat kekuasaan.
Setelah kematian khalifah, Hulagu memerintahkan penghancuran total terhadap struktur pemerintahan Baghdad. Bangunan-bangunan administratif dihancurkan, pejabat-pejabat yang tersisa dibunuh, dan sistem birokrasi yang telah bekerja selama lima abad runtuh dalam hitungan hari. Baghdad tidak hanya ditaklukkan; ia diputus dari akar sejarahnya sendiri. Sistem perpajakan hilang, catatan administrasi lenyap, dan kota itu dibiarkan hancur tanpa ada yang membangunnya kembali.
Ratusan ribu rakyat Baghdad tewas dalam pembantaian yang terjadi selama dua minggu berikutnya. Banyak yang tewas oleh pedang, banyak yang mati kelaparan, dan banyak pula yang meninggal karena penyakit yang muncul setelah kota itu hancur. Sungai Tigris dipenuhi bangkai manusia, dan bau busuk memenuhi udara selama berbulan-bulan. Mereka yang selamat tidak dapat tinggal di kota yang kini menjadi kuburan massal; mereka melarikan diri ke kota-kota kecil di luar Baghdad atau menuju Suriah dan Mesir.
Para ulama yang selamat membawa sebagian kecil pengetahuan yang mereka miliki ke Damaskus dan Kairo. Beberapa di antara mereka berusaha menyalin kembali karya-karya penting yang hilang dari Baghdad, tetapi sebagian besar ilmu itu hilang selamanya. Baghdad, kota yang pernah menjadi pusat intelektual dunia, kini tidak lebih dari puing-puing yang ditinggalkan oleh sejarah.
Kehancuran Baghdad bukan hanya tragedi lokal; ia mengguncang seluruh dunia Islam. Kota yang selama ini menjadi pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan kini lenyap. Sultan-sultan dari Mesir, Syam, Hijaz, dan Anatolia terkejut. Mereka menyadari bahwa dunia Islam kini terpecah tanpa poros. Tradisi ilmiah terputus, jaringan ulama tercerai-berai, dan pusat pemikiran lenyap.
Namun tragedi terbesar bukan sekadar kematian atau kehilangan ilmu; tragedi terbesar adalah hilangnya arah. Dunia Islam kehilangan pusat gravitasi politik, intelektual, dan spiritualnya. Bani Abbasiyah, yang selama berabad-abad memimpin dunia Islam dengan wibawa, kini menjadi sejarah. Kekhalifahan tidak lagi memiliki tanah air. Umat Islam tidak lagi memiliki pusat peradaban.
Kehancuran Baghdad memicu efek domino dalam dunia Islam. Kota-kota lain menjadi penuh ketakutan. Damaskus gemetar. Aleppo bersiap menghadapi nasib yang sama. Kairo mulai memperkuat benteng-bentengnya. Dan umat Islam mulai menyadari bahwa kebangkitan kembali tidak mungkin datang dari Baghdad; ia harus datang dari tempat lain.
Dalam kekosongan inilah muncul kekuatan baru: kaum Mamluk di Mesir. Mereka mengambil alih peran sebagai penjaga dunia Islam ketika Baghdad sudah tidak mampu melakukannya lagi. Mereka yang pada awalnya hanyalah budak-prajurit, kini menjadi pelindung peradaban.
Tetapi kebangkitan itu bukan terjadi dalam sehari. Dunia Islam memasuki masa panjang ketidakpastian. Masa di mana ilmu tidak berkembang seperti sebelumnya. Masa di mana tradisi ilmiah melemah. Masa di mana seniman, ulama, dan ilmuwan tidak lagi memiliki pusat untuk berkumpul. Masa itu menjadi masa kelam setelah cahaya Baghdad padam.
Baghdad pernah menjadi mercusuar dunia. Ketika mercusuar itu padam, dunia Islam terombang-ambing dalam gelap. Dan butuh berabad-abad bagi umat untuk membangun kembali cahaya itu — tidak lagi di satu kota, tetapi tersebar di berbagai kerajaan baru.
Kehancuran Baghdad adalah peringatan bagi semua bangsa: bahwa sebuah peradaban dapat hancur dalam satu generasi jika pemimpinnya lemah, masyarakatnya terpecah, dan kewaspadaannya hilang. Dan bahwa musuh yang kuat hanya menjadi ancaman mematikan ketika peradaban itu sudah runtuh dari dalam.
Pada tahun 1258, bukan hanya Baghdad yang runtuh.
Yang runtuh adalah sebuah dunia.
