Poligami, Krisis Politik Dan Keruntuhan Kerajaan di Jawa Sejak Airlangga 1041 M

Sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa tidak hanya dibentuk oleh peperangan besar, perluasan wilayah, atau perebutan jalur niaga, tetapi juga oleh pertentangan di dalam keluarga istana. Di balik kejayaan kerajaan seperti Kahuripan, Singasari, Majapahit, hingga Kesultanan Mataram, tersimpan persoalan yang terus berulang, yakni perebutan takhta akibat banyaknya garis keturunan raja. Dalam tata politik Jawa, poligami bukan dianggap penyimpangan, melainkan bagian dari siasat kekuasaan. Raja-raja Jawa menggunakan perkawinan untuk memperkuat pengaruh, mengikat daerah bawahan, menjalin hubungan antarkeluarga bangsawan, serta memperbesar kewibawaan kerajaan. Akan tetapi, praktik tersebut juga melahirkan susunan keluarga istana yang rumit dan penuh persaingan.
Banyaknya putra raja dari ibu yang berbeda menciptakan banyak pusat pengakuan kekuasaan di dalam kerajaan. Ketika seorang raja wafat tanpa aturan pewarisan yang tegas, perebutan takhta hampir selalu berubah menjadi perang saudara. Dalam banyak kejadian di Jawa, perang saudara tidak hanya menghancurkan keluarga istana, tetapi juga melemahkan perekonomian, memecah kesetiaan daerah bawahan, meruntuhkan kewibawaan kerajaan, bahkan membuka jalan bagi campur tangan kekuatan luar. Perselisihan pewarisan takhta akibat rumitnya garis keturunan inilah yang berulang kali menjadi salah satu penyebab penting runtuhnya kerajaan-kerajaan besar di Jawa.
Pola tersebut dapat ditelusuri sejak masa pemerintahan Airlangga pada abad ke-11 ketika Kerajaan Kahuripan dibelah menjadi Janggala dan Panjalu demi menghindari perang saudara. Pertentangan serupa kembali muncul dalam perebutan kekuasaan di Singasari, memuncak dalam Perang Paregreg pada masa Majapahit, lalu berulang dalam pertumpahan darah di Demak, Pajang, dan Mataram Islam. Dalam perkembangan berikutnya, pertikaian keluarga kerajaan bahkan dimanfaatkan VOC dan Inggris untuk memecah kekuasaan Jawa melalui politik adu domba. Dengan demikian, sejarah panjang kerajaan Jawa memperlihatkan bahwa persoalan pewarisan takhta akibat rumitnya keluarga istana menjadi benang merah yang terus muncul sejak zaman Jawa Kuno hingga masa penjajahan.
Akan tetapi, poligami tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab runtuhnya kerajaan Jawa. Perubahan jalur niaga, pemberontakan daerah, bangkitnya kota-kota pesisir Islam, hingga campur tangan bangsa asing juga memiliki pengaruh besar. Walau demikian, praktik poligami terbukti berkali-kali memperbesar kerumitan pewarisan takhta dan melahirkan pertentangan yang melemahkan kerajaan dari dalam. Dalam hal inilah, dinamika keluarga istana menjadi bagian penting untuk memahami mengapa banyak kerajaan besar di Jawa akhirnya runtuh, terpecah, atau kehilangan kedaulatannya.
Table of Contents
ToggleAirlangga dan Awal Perebutan Takhta di Jawa
Dalam sejarah kerajaan Jawa, masa pemerintahan Airlangga pada abad ke-11 sering dipandang sebagai awal munculnya pola perebutan takhta yang terus berulang hingga masa berikutnya. Setelah berhasil memulihkan Jawa Timur pasca-serangan Wurawari, Airlangga membangun Kerajaan Kahuripan sebagai pusat kekuasaan besar yang cukup kuat. Namun menjelang akhir pemerintahannya muncul persoalan pewarisan takhta ketika putri mahkota Sanggramawijaya Tunggadewi memilih meninggalkan kehidupan istana dan menjadi pertapa dengan gelar Dewi Kili Suci. Mundurnya pewaris utama menciptakan kekosongan pengakuan kekuasaan yang memperbesar kemungkinan pertentangan di lingkungan keluarga kerajaan.
Dalam berbagai penafsiran sejarah modern, keadaan tersebut diduga memunculkan persaingan antara Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan, walaupun sumber-sumber utama seperti Prasasti Cane dan Nagarakretagama tidak secara tegas menjelaskan bahwa keduanya berasal dari ibu yang berbeda. Susunan keluarga kerajaan yang rumit akibat perkawinan politik diyakini memperbesar ancaman perang saudara. Demi mencegah pertumpahan darah, Airlangga akhirnya membelah kerajaan menjadi Janggala dan Panjalu pada tahun 1041. Pembagian wilayah ini memang meredakan ketegangan sesaat, tetapi dalam waktu panjang justru melahirkan peperangan berkepanjangan antara dua kerajaan saudara di Jawa Timur. Sejak masa Airlangga, persoalan banyaknya garis keturunan mulai tampak sebagai sumber utama keguncangan politik di Jawa.
Pola yang sama kembali muncul pada masa Kerajaan Singasari. Dinasti yang dibangun Ken Arok sejak awal telah dibebani susunan keluarga yang rumit akibat hubungan perkawinan dan perebutan pengakuan kekuasaan. Berdasarkan kisah dalam Pararaton, Ken Arok memiliki keturunan dari beberapa perempuan, terutama Ken Dedes dan Ken Umang. Anak-anak dari garis keluarga berbeda tersebut kemudian saling memperebutkan takhta melalui pembunuhan dan perebutan kekuasaan. Anusapati membunuh Ken Arok untuk membalas kematian Tunggul Ametung, kemudian Tohjaya menggulingkan Anusapati demi merebut takhta, lalu Ranggawuni bersama Mahisa Campaka menjatuhkan Tohjaya. Rangkaian pertumpahan darah itu memperlihatkan bahwa susunan keluarga kerajaan yang bercabang dapat menciptakan keguncangan berkepanjangan di lingkungan istana.
Walaupun Pararaton mengandung unsur sastra dan perlambang politik sehingga tidak dapat dibaca sepenuhnya sebagai catatan sejarah murni, kisah Singasari tetap menunjukkan bahwa pertentangan keluarga kerajaan menjadi salah satu penyebab penting melemahnya dasar kekuasaan dinasti Jawa sejak masa awal berdirinya. Dalam hal ini, poligami dan perkawinan politik bukan hanya membentuk hubungan keluarga, tetapi juga menciptakan banyak jalur pewarisan takhta yang saling bertabrakan.
Majapahit dan Perang Saudara Dinasti Istana

Krisis pewarisan takhta terbesar dalam sejarah Jawa Kuno terjadi pada masa Majapahit melalui Perang Paregreg. Raja Hayam Wuruk memiliki putri mahkota dari permaisuri bernama Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana. Akan tetapi, di sisi lain ia juga memiliki putra dari selir bernama Bhre Wirabhumi. Ketika Hayam Wuruk wafat, kedua garis keluarga tersebut sama-sama merasa berhak atas takhta Majapahit. Perselisihan itu berkembang menjadi perang saudara besar yang memecah Majapahit menjadi dua kekuatan, yakni Majapahit Barat dan Majapahit Timur.
Perang Paregreg menguras kekuatan ekonomi, pemerintahan, dan ketentaraan kerajaan hingga membuat banyak daerah bawahan mulai melepaskan diri. Walaupun Wikramawardhana akhirnya menang dan Bhre Wirabhumi tewas, Majapahit tidak pernah benar-benar pulih setelah perang tersebut. Bentuk pemerintahan Majapahit yang bergantung pada kesetiaan daerah bawahan membuat pusat kekuasaan semakin lemah ketika pertentangan keluarga berlangsung berkepanjangan.
Namun demikian, kemunduran Majapahit tidak hanya disebabkan perang saudara keluarga istana. Pada abad ke-15, pusat perdagangan Asia Tenggara mulai bergeser ke Kesultanan Malaka yang berkembang sebagai pusat niaga laut internasional. Kota-kota pesisir seperti Gresik, Tuban, Demak, dan Jepara tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru berbasis perdagangan laut dan jaringan Islam. Bentuk Majapahit yang bergantung pada kesetiaan daerah bawahan membuat kerajaan mudah terpecah ketika pusat kehilangan kewibawaan. Dalam keadaan seperti ini, pertentangan keluarga akibat banyaknya garis keturunan kerajaan memang bukan satu-satunya penyebab keruntuhan, tetapi menjadi pemicu utama yang mempercepat melemahnya kekuasaan Majapahit sebelum akhirnya digantikan oleh kekuatan-kekuatan baru di pesisir Jawa.
Selain itu, kemunculan kekuatan Islam di wilayah pesisir utara Jawa juga mempercepat surutnya pengaruh Majapahit. Pelabuhan-pelabuhan dagang yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Majapahit mulai berkembang secara mandiri dan memiliki hubungan dagang langsung dengan pedagang Arab, Gujarat, Persia, dan Tiongkok. Perubahan arah perdagangan laut ini membuat kekuatan ekonomi Majapahit semakin melemah. Dalam keadaan pusat kerajaan yang telah diguncang perang saudara, perubahan jalur niaga tersebut mempercepat keruntuhan Majapahit sebagai kerajaan terbesar di Jawa pada akhir abad ke-15.
Demak, Pajang, dan Perebutan Takhta Kerajaan Islam Jawa
Runtuhnya Kesultanan Demak memperlihatkan bagaimana pertentangan keluarga kerajaan dapat menghancurkan kesultanan Islam pertama di Jawa hanya dalam beberapa keturunan. Sultan Trenggana meninggalkan banyak keturunan dan jaringan keluarga yang saling bersaing. Perselisihan lama antara Sultan Trenggana dan Pangeran Sekar Seda Lepen diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pertikaian antara Sunan Prawoto dan Arya Penangsang. Arya Penangsang menyimpan dendam atas kematian ayahnya yang dibunuh dalam perebutan takhta Demak. Ketika Sunan Prawoto naik menjadi Sultan Demak, Arya Penangsang melakukan pembalasan dengan membunuh Sunan Prawoto.
Pertentangan tersebut kemudian berkembang menjadi peperangan besar yang melibatkan Jaka Tingkir dan Ratu Kalinyamat hingga akhirnya Demak runtuh dan pusat kekuasaan Islam Jawa berpindah ke Pajang. Dalam perkara Demak, banyaknya keturunan raja dari berbagai garis keluarga memperumit pewarisan takhta dan memperbesar kemungkinan perang saudara di lingkungan bangsawan istana. Akan tetapi, keruntuhan Demak juga dipengaruhi perebutan pengaruh di wilayah pesisir utara Jawa serta pertarungan kekuatan antarkelompok bangsawan dan ulama.
Pertentangan di dalam keluarga kerajaan kembali muncul pada masa Kesultanan Pajang. Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir memberikan wilayah Mataram kepada Danang Sutawijaya sebagai hadiah politik. Akan tetapi, keputusan tersebut justru melahirkan kekuatan baru yang kelak menghancurkan Pajang sendiri. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat, muncul perselisihan antara Pangeran Benawa dan Pangeran Pangiri dalam perebutan takhta. Pangeran Benawa kemudian meminta bantuan Danang Sutawijaya dari Mataram untuk menggulingkan Pangiri. Serangan gabungan itu berhasil merebut Pajang, tetapi kemenangan tersebut sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan Pajang. Setelah Pangeran Benawa wafat, wilayah Pajang akhirnya berada di bawah kekuasaan Mataram.
Peristiwa Pajang memperlihatkan bahwa susunan keluarga politik yang melibatkan anak kandung, menantu, dan anak angkat dapat menciptakan perebutan kekuasaan yang akhirnya melahirkan dinasti baru sekaligus menghancurkan kerajaan sebelumnya. Dari sinilah kemudian muncul Kesultanan Mataram sebagai kekuatan terbesar baru di Jawa.
Mataram, Penjajahan, dan Akhir Kedaulatan Kerajaan Jawa
Pada masa Kesultanan Mataram, persoalan pewarisan takhta akibat banyaknya keturunan raja bertemu dengan campur tangan VOC. Banyaknya pangeran dari ibu yang berbeda menciptakan kelompok-kelompok politik di dalam istana. Pertentangan antara Amangkurat I dan putra mahkotanya, pemberontakan Trunajaya, hingga Perang Suksesi Jawa semuanya membuka peluang bagi VOC untuk ikut campur dalam urusan dalam negeri Mataram. Belanda mendukung satu pangeran untuk melawan pangeran lainnya dengan imbalan wilayah, monopoli perdagangan, dan hak politik.
Puncak campur tangan tersebut terjadi melalui Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Setelah itu, Jawa tidak lagi berada di bawah satu kekuasaan tunggal seperti masa Sultan Agung. Dalam perkara Mataram, pertentangan keluarga akibat rumitnya garis keturunan kerajaan memang menciptakan celah besar bagi penjajahan, tetapi penyebab utama runtuhnya kedaulatan Mataram adalah politik pecah belah yang dijalankan VOC secara teratur.
Di Kesultanan Yogyakarta, pertentangan keluarga kerajaan kembali menjadi jalan masuk campur tangan bangsa asing. Pada masa Hamengkubuwana II, hubungan antara sultan dan putra mahkota memburuk akibat persaingan politik di lingkungan istana. Keadaan tersebut dimanfaatkan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles untuk menyerbu keraton dalam peristiwa Geger Sepehi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jawa, sebuah keraton besar berhasil dijarah bangsa asing. Sultan Hamengkubuwana II diturunkan dan dibuang, sementara Inggris mengangkat Hamengkubuwana III serta membentuk Kadipaten Pakualaman sebagai wilayah pecahan Yogyakarta. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa pertentangan keluarga kerajaan yang dipengaruhi perebutan pewarisan takhta dapat dimanfaatkan kekuatan asing untuk menghancurkan kedaulatan politik kerajaan Jawa.
Berbeda dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya, Kasunanan Surakarta kehilangan kedaulatan politiknya bukan karena perang perebutan takhta seperti masa sebelumnya, melainkan akibat pergolakan sosial setelah kemerdekaan Indonesia. Setelah Proklamasi 1945, Surakarta mengalami keguncangan politik besar. Gerakan anti-feodal menuntut penghapusan hak istimewa kerajaan, sementara di dalam keraton sendiri masih terjadi persaingan antarbangsawan dan keluarga istana. Keadaan yang tidak stabil membuat Pemerintah Republik Indonesia akhirnya menghapus status Daerah Istimewa Surakarta pada tahun 1946 dan melebur wilayahnya ke Provinsi Jawa Tengah. Sejak saat itu, Kasunanan Surakarta tidak lagi menjadi kekuatan politik berdaulat dan hanya bertahan sebagai lembaga kebudayaan.
Bahkan setelah masa kerajaan berakhir, pola pertentangan keluarga istana tetap berlanjut. Setelah wafatnya Pakubuwana XII, perebutan takhta antara keturunan dari garis ibu berbeda kembali memicu perselisihan berkepanjangan di lingkungan keraton Surakarta. Keadaan ini menunjukkan bahwa persoalan pewarisan takhta yang telah berlangsung sejak masa Airlangga terus membayangi kehidupan politik dan kebudayaan keraton Jawa hingga masa modern.
Jika ditarik sejak masa Airlangga hingga runtuhnya kekuasaan politik Surakarta, sejarah Jawa memperlihatkan pola yang terus berulang. Raja memiliki banyak keturunan dari garis ibu berbeda. Anak-anak tersebut membentuk kelompok politik masing-masing dengan dukungan bangsawan, pasukan, dan penguasa daerah. Ketika aturan pewarisan tidak memiliki ketegasan, perebutan takhta berubah menjadi perang saudara yang melemahkan kerajaan dari dalam. Akan tetapi, poligami bukan satu-satunya penyebab runtuhnya kerajaan Jawa. Perubahan ekonomi, perpindahan jalur niaga, pertentangan bangsawan, pemberontakan daerah, dan campur tangan bangsa asing juga memiliki pengaruh besar.
Walau demikian, praktik poligami terbukti berkali-kali memperbesar kerumitan pewarisan takhta dan menciptakan banyak pusat pengakuan kekuasaan di lingkungan istana. Dalam keadaan politik yang rapuh, pertentangan keluarga akibat banyaknya garis keturunan menjadi salah satu penyebab terpenting lahirnya perang saudara dan runtuhnya kerajaan-kerajaan besar di Jawa selama berabad-abad.















2 thoughts on “Poligami, Krisis Politik Dan Keruntuhan Kerajaan di Jawa Sejak Airlangga 1041 M”