Pengepungan Baghdad pada awal tahun 1258 adalah saat ketika sejarah yang begitu panjang dan megah akhirnya bertemu dengan kehancuran yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun. Kota yang selama lima abad berdiri sebagai cahaya dunia Islam itu tiba-tiba mendapati dirinya dikepung oleh gelombang besar pasukan Mongol. Sebuah kota yang dibangun dengan mimpi-mimpi besar, yang pernah mengundang para ilmuwan dari Persia, Yunani, India, Andalusia, dan Mesir, kini berdiri di bawah bayang-bayang kehancuran yang datang dari arah timur. Dan semua itu terjadi bukan karena Baghdad tidak memiliki sejarah kejayaan, melainkan karena kejayaan itu telah berubah menjadi kelengahan yang panjang.
Ketika pasukan Hulagu Khan tiba di pinggiran Baghdad, mereka datang dengan formasi yang mengesankan. Dari kejauhan, debu tebal yang naik dari padang pasir tampak seperti kabut perang yang menghapus garis cakrawala. Pasukan berkuda Mongol bergerak seperti ombak yang tidak pernah pecah, membentang sejauh mata memandang. Tidak ada suara yang terdengar dari mereka selain derap kuda dan denting ringan dari senjata yang tergantung di pinggang. Keheningan itu justru menjadi ancaman yang paling nyata bagi rakyat Baghdad. Sebagian dari mereka naik ke menara-menara masjid untuk melihat apa yang terjadi, dan yang mereka lihat bukanlah pasukan biasa, tetapi sebuah fenomena yang seolah-olah bergerak sebagai satu makhluk raksasa.
Pengepungan Baghdad dimulai bahkan sebelum batu pertama dilemparkan. Pada detik ketika pasukan Mongol berhenti membentuk lingkaran besar di sekitar kota, Baghdad sudah terjebak. Mereka menutup setiap jalan keluar, setiap jembatan, setiap celah kecil yang mungkin digunakan untuk melarikan diri. Pasukan kavaleri Mongol bergerak cepat ke seluruh sisi kota, menancapkan panji, mendirikan kemah, menggali parit, dan menempatkan penjaga. Dalam hitungan jam, Baghdad yang selama ini menjadi pusat dunia berubah menjadi pulau besar yang dikepung oleh lautan pasukan musuh.
Sementara itu di dalam istana khalifah, keadaan jauh berbeda. Khalifah al-Musta’sim tidak mengambil tindakan penting. Ia mengabaikan peringatan dari sebagian kecil penasihatnya yang memahami skala ancaman ini. Ia menolak permintaan untuk memperkuat pasukan, menolak mengirimkan utusan yang menawarkan perdamaian, dan menolak untuk menghubungi Sultan Mesir yang mungkin dapat mengirim bala bantuan. Ia percaya, entah karena kepercayaan diri buta atau karena ketidaktahuan, bahwa Baghdad tidak mungkin jatuh. Baghdad terlalu besar, terlalu penting, terlalu berpengaruh dalam dunia Islam. Tetapi sejarah sering mengajarkan bahwa kota terbesar pun dapat hancur ketika kepemimpinannya gagal membaca tanda-tanda zaman.
Hulagu Khan, sebaliknya, tidak sedikit pun meremehkan Baghdad. Ia datang sebagai pemimpin yang memadukan ilmu perang, strategi psikologis, dan visi besar kekaisaran Mongol. Perintah dari Möngke Khan jelas: tundukkan dunia Islam Barat, bersihkan benteng-benteng yang tidak patuh, dan hancurkan Baghdad sebagai pusat simbolik kekhalifahan. Hulagu tahu bahwa jika Baghdad dihancurkan, dunia Islam akan kehilangan porosnya. Maka ia tidak hanya menyiapkan pasukan yang terdiri dari kavaleri elit, tetapi juga membawa insinyur Cina, ahli mesin kepung dari Asia Tengah, dan unit khusus pemanah yang telah teruji dalam kampanye panjang di Persia.
Pada hari pertama pengepungan, pasukan Mongol mulai membangun mesin-mesin perang raksasa. Para insinyur Cina yang memiliki keahlian dalam teknik konstruksi bergerak cepat. Mereka memeriksa tanah di sekitar tembok Baghdad, mengukur jarak ideal untuk menempatkan trebuchet, menghitung sudut lempar, dan menilai kondisi angin. Dalam beberapa jam, kerangka besar dari kayu muncul di tanah lapang, seperti rangka bangunan yang akan menghancurkan kota. Mongol menyebut beberapa mesin mereka dengan nama-nama binatang buas seperti “Harimau” dan “Gajah Besi”, karena kekuatan lontarnya mampu menjebol dinding batu setebal beberapa meter.
Rakyat Baghdad yang menyaksikan pembangunan itu dari atas tembok merasa ngeri. Mereka melihat bagaimana pasukan yang tidak mengenal lelah itu bekerja tanpa suara teriakan, tanpa perintah keras, tanpa keraguan. Masing-masing tahu apa yang harus dilakukan. Mereka seperti telah melakukan pekerjaan ini di ratusan kota sebelum Baghdad. Dan memang demikianlah kenyataannya. Bagi Mongol, penghancuran kota besar bukanlah peristiwa langka, melainkan bagian dari kehidupan mereka. Itulah sebabnya pengepungan Baghdad dimulai dengan ketenangan yang aneh—tenang, tetapi penuh ancaman.
Ketika mesin perang itu selesai dibangun, Hulagu memberikan perintah untuk menguji satu trebuchet. Batu besar diangkat ke tempat pelontar. Sebuah teriakan rendah dalam bahasa Mongol terdengar—hanya untuk menandai tempo, bukan untuk membakar semangat. Dan dalam sekejap, batu itu melayang tinggi di udara, memotong angin, dan menghantam tembok Baghdad dengan bunyi keras yang mengguncang jantung seluruh kota. Retakan pertama muncul. Debu beterbangan. Para penjaga di atas tembok terlempar mundur. Suara gemuruh itu terasa seperti pukulan palu raksasa ke dada setiap penduduk Baghdad.
Sejak saat itu, pengepungan Baghdad berubah menjadi badai batu yang tidak berhenti. Siang dan malam, mesin pengepungan Mongol melemparkan batu-batu raksasa. Kadang batu itu menghantam tembok, kadang jatuh ke rumah-rumah dekat tembok, dan kadang mengenai kelompok pasukan Baghdad yang sedang mencoba bertahan. Tidak ada waktu tenang. Tidak ada jeda untuk memperbaiki kerusakan. Tidak ada kesempatan untuk bernapas. Setiap malam Baghdad diterangi cahaya merah dari api yang menyala di kejauhan.
Pada hari ketiga, Hulagu memerintahkan serangan psikologis. Panah-panah berapi ditembakkan ke dalam kota. Api kecil muncul di beberapa titik, menciptakan kepanikan. Rakyat berlarian membawa ember kecil untuk memadamkan api yang membakar toko, rumah, atau gudang penyimpanan. Tetapi panah berapi Mongol tidak dimaksudkan untuk membakar seluruh kota—belum. Tujuannya hanyalah membuat rakyat tidak tidur, menjaga kota tetap dalam ketakutan, dan semakin melemahkan semangat mereka.
Pada hari keempat, Mongol mulai memotong aliran air ke Baghdad. Mereka membendung beberapa kanal dan mengalihkan aliran sungai untuk membuat bagian bawah tembok menjadi lembek. Tembok yang dibangun ratusan tahun lalu itu tidak didesain untuk menahan serangan seperti ini. Pondasinya mulai melemah. Batu-batu besar yang dulu kokoh kini seperti tanah liat yang retak-retak. Para insinyur Baghdad mulai panik, tetapi upaya mereka memperbaiki tembok selalu digagalkan oleh serangan bertubi-tubi dari mesin perang Mongol.
Pada hari keenam pengepungan, retakan besar mulai muncul di tembok timur. Para penjaga dapat merasakan tembok itu bergetar setiap kali proyektil melayang lewat kepala mereka. Pada malam hari, beberapa batu di bagian atas tembok jatuh ke dalam kota. Warga yang tinggal dekat tembok pindah ke rumah kerabat atau ke masjid-masjid besar yang mereka anggap lebih aman. Tetapi tidak ada tempat yang benar-benar aman. Baghdad menjadi labirin ketakutan.
Pada hari ketujuh, tembok itu mulai terlihat miring. Getaran kecil dapat dirasakan dari jarak puluhan meter. Anak-anak menutup telinga setiap kali suara dentuman terdengar. Para ibu mencoba menenangkan mereka, tetapi suara mereka tenggelam oleh suara batu besar yang menghantam tembok. Pada saat ini, sebagian penduduk mulai memahami bahwa Baghdad mungkin akan jatuh. Tetapi harapan yang tersisa memaksa mereka untuk percaya bahwa tembok itu akan bertahan.
Pada hari kedelapan, bagaimanapun, keretakan itu mulai membentuk garis vertikal yang panjang. Setiap lemparan batu memperluas celah itu. Para penjaga di atas tembok mulai mundur karena mereka tahu bahwa mereka akan terperangkap dalam reruntuhan jika tembok itu runtuh. Beberapa dari mereka bahkan turun tanpa perintah, memilih keselamatan pribadi dibandingkan mempertahankan posisi. Itulah saat ketika moral pasukan Baghdad benar-benar jatuh.
Puncaknya terjadi pada hari kesembilan. Sebelum matahari terbit, suara gemuruh keras terdengar dari sisi timur kota. Seluruh penduduk terdiam. Sebagian keluar dari rumah mereka, sebagian lainnya hanya menutup mata. Dan dengan suara seperti bumi yang pecah, tembok besar Baghdad runtuh. Debu besar membubung ke udara. Tanah bergetar. Batu-batu besar jatuh ke tanah, menghancurkan apa saja yang berada di bawahnya.
Baghdad, kota cahaya, akhirnya terbuka.
Celah raksasa itu menjadi mulut kehancuran. Tetapi Mongol tidak segera masuk. Hulagu membiarkan kota itu merasakan detik-detik penantian yang paling menakutkan dalam hidup mereka. Dan seluruh Baghdad berdiri dalam ketakutan total, menunggu badai terakhir yang akan memasuki kota.
Ketika tembok Baghdad akhirnya runtuh, waktu seolah berhenti bagi seluruh kota. Serpihan batu beterbangan, debu naik ke udara seperti kabut perang yang menutupi cahaya pagi, dan suara runtuhan itu menggema ke seluruh penjuru Baghdad, menembus pasar, masjid, lorong-lorong sempit, hingga ruang istana yang selama ini menjadi pusat kekuasaan khalifah Abbasiyah. Namun, keheningan setelah gemuruh itu jauh lebih menakutkan daripada suara benturan batu raksasa yang telah menumbangkan tembok. Keheningan itu seperti napas terakhir sebuah peradaban yang menunggu takdirnya. Dan di tengah keheningan itu, bayang-bayang pasukan Mongol mulai bergerak dari balik celah besar yang baru saja terbentuk, sebuah celah yang seakan menghubungkan dua dunia: dunia masa lalu yang penuh kejayaan, dan dunia masa depan yang diselimuti abu kehancuran.
Rakyat Baghdad berdiri terpaku melihat celah itu. Para penjaga yang tersisa tidak lagi bertempur, melainkan berlari mundur ke dalam kota sambil berteriak agar rakyat menjauhi tembok. Tetapi suara mereka tenggelam oleh jeritan warga yang panik, suara anak-anak menangis, dan doa-doa yang mulai dipanjatkan dari ribuan bibir yang menggigil. Dalam bencana yang sedemikian besar, manusia selalu kembali kepada dua hal: ketakutan yang paling murni, dan harapan paling tipis yang masih tersisa. Namun di Baghdad pagi itu, ketakutan jauh lebih nyata daripada harapan.
Hulagu Khan berdiri tidak jauh dari garis depan, mengamati dengan tenang bagaimana bagian terbesar dari tembok itu runtuh sepenuhnya. Di matanya, ini bukan kemenangan pertama dan bukan pula yang terbesar. Ia telah menyaksikan kota-kota besar di Persia, Asia Tengah, dan wilayah lain runtuh seperti ini. Namun, Baghdad adalah simbol. Ia adalah pusat gravitasi budaya dan kekuasaan dunia Islam. Menjatuhkan Baghdad berarti mematahkan satu poros sejarah. Dan pagi itu, Hulagu tahu bahwa langkah berikutnya yang harus ia ambil bukan sekadar memasuki kota, tetapi menghapuskan seluruh identitas yang telah membuat Baghdad berdiri selama lima abad.
Namun Hulagu tidak menyerang segera. Ia sengaja membiarkan ketakutan itu tumbuh dalam diri rakyat Baghdad. Ia tahu bahwa musuh yang sudah merasa kalah sebelum pertempuran dimulai akan lebih mudah ditundukkan. Maka ia memerintahkan pasukannya untuk menunggu beberapa jam. Rakyat Baghdad melihat pasukan Mongol berkumpul di luar celah, tetapi mereka tidak masuk. Para pemanah tetap diam. Kavaleri tetap tidak bergerak. Mesin perang berdiri seperti tulang belulang raksasa di kejauhan. Hanya angin pagi yang bergulung dari padang pasir dan melewati celah itu, membuat debu dan kain-kain lusuh berkibar.
Di dalam kota, rakyat semakin gelisah. Mereka berkumpul di sekitar masjid besar, tempat yang dianggap sebagai perlindungan terakhir. Para ulama mencoba menenangkan keadaan, tetapi suara mereka tidak lagi memiliki kekuatan. Di jalan-jalan, ada yang memeluk anak-anak mereka, ada yang mencari kerabat, dan ada pula yang hanya duduk dengan tatapan kosong, seolah-olah pikirannya telah pasrah menerima apa pun yang akan terjadi.
Sementara itu, istana khalifah berada dalam kekacauan total. Para pejabat saling menyalahkan. Wazir Ibnu al-Alqami, yang sejak awal mengusulkan diplomasi dan perundingan, kini diabaikan sepenuhnya. Para jenderal berteriak-teriak mencari pasukan yang tidak lagi ada. Al-Musta’sim, pemimpin yang seharusnya berdiri di garis depan, justru diliputi kebingungan dan ketakutan. Ia mengurung diri, berharap Mongol akan menerima permintaan damai terakhir yang terlambat itu. Namun tidak ada utusan yang berani keluar dari kota untuk menyampaikan harapan kosong itu. Bahkan jika ada, Hulagu tidak akan menerimanya.
Ketika matahari naik lebih tinggi dan bayangan celah itu semakin pendek, Hulagu mengangkat tangan dan memberi isyarat. Barisan pertama pasukan Mongol mulai bergerak ke dalam celah tembok. Mereka bergerak tanpa suara, tanpa teriakan, dan tanpa keraguan. Setiap langkah seperti bunyi kematian yang mendekati setiap rumah, setiap lorong, setiap keluarga di Baghdad. Mereka memasuki kota dengan formasi rapat. Pemanah berada di depan, disusul oleh kavaleri dan unit infanteri ringan. Mereka tidak berlari; mereka berjalan dengan kecepatan yang sengaja diatur agar penduduk dapat melihat mereka datang.
Dalam waktu singkat, pasukan Mongol menguasai jalan besar yang mengarah langsung ke pusat kota. Mereka menancapkan panji Mongol di beberapa titik penting untuk menunjukkan bahwa kota ini tidak lagi berada di bawah kekuasaan Abbasiyah. Panji itu berkibar, menandai pengambilalihan resmi sebuah peradaban.
Di beberapa sudut kota, tentara Baghdad yang tersisa mencoba melakukan perlawanan. Mereka menembakkan panah dari balik jendela dan mencoba menyerang pasukan Mongol dari gang-gang sempit. Tetapi perlawanan itu tidak berarti. Mongol telah berpengalaman menghadapi perang kota yang jauh lebih rumit. Mereka tahu bagaimana memotong jalur, mengepung titik perlawanan kecil, dan menghabisi para pejuang itu dalam hitungan menit. Dalam setiap pertempuran kecil itu, taktik Mongol selalu sama: bergerak cepat, mengepung, menghancurkan. Tidak ada ruang untuk pertempuran panjang.
Ketika pasukan Mongol semakin dalam memasuki kota, mereka mulai menguasai pasar besar, madrasah, dan pusat perdagangan. Rakyat yang tidak mampu melarikan diri mundur ke bangunan-bangunan utama. Masjid besar Baghdad menjadi tempat pengungsian yang paling padat. Ribuan orang berkumpul di sana, memohon perlindungan, memanjatkan doa, atau hanya duduk dengan kepala tertunduk. Mereka tidak tahu apakah Mongol akan menunjukkan belas kasihan. Mereka hanya tahu bahwa pintu masjid adalah satu-satunya penghalang yang masih tersisa antara mereka dan dunia di luar yang telah menjadi mimpi buruk.
Tetapi Mongol tidak menyerang masjid pada hari pertama. Mereka memilih memperluas kendali secara terencana. Hulagu ingin memastikan bahwa setiap titik strategis di Baghdad telah berada dalam genggamannya sebelum ia mengeksekusi rencana besar: menghancurkan identitas Baghdad secara total. Ia tahu bahwa kota ini bukan hanya bangunan. Kota ini adalah cita rasa intelektual dunia. Kota ini adalah memori umat Islam. Maka kehancuran Baghdad harus menjadi pesan bagi semua kerajaan yang masih ingin melawan Mongol.
Di istana khalifah, kehidupan yang selama ini dipenuhi kemewahan berubah menjadi ruang gelap ketakutan. Pintu-pintu istana didobrak. Para penjaga yang tersisa dibunuh. Al-Musta’sim ditangkap dan dibawa keluar, bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai tawanan yang tidak berdaya. Ia tidak lagi dikenal sebagai khalifah, melainkan sebagai seorang lelaki yang gagal melindungi kota yang dipercayakan kepadanya.
Sementara itu, pasukan Mongol menyebar ke seluruh penjuru Baghdad. Mereka memasuki rumah-rumah mencari orang yang mereka anggap berpotensi melawan. Mereka mendatangi perpustakaan, gudang, dan madrasah untuk memastikan tidak ada tempat yang dapat dijadikan markas perlawanan. Mereka tidak membeda-bedakan siapa pun. Bagi mereka, Baghdad adalah kota yang telah memilih untuk melawan, dan siapa pun di dalamnya harus menanggung akibat.
Pada malam kedua setelah tembok runtuh, Baghdad tidak lagi tampak seperti kota yang pernah dikagumi dunia. Api membakar beberapa titik. Suara jeritan sporadis terdengar dari kejauhan. Sungai Tigris memantulkan cahaya merah dari bangunan yang terbakar. Bau abu, darah, dan debu menyatu dalam udara yang berat. Rakyat yang masih hidup merunduk di balik pintu, berharap Mongol tidak menemukan mereka. Tetapi Mongol tidak mencari satu per satu. Mereka sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar bagi Baghdad.
Hulagu telah memutuskan bahwa Baghdad tidak cukup hanya ditaklukkan. Kota itu harus dihancurkan. Dunia harus melihat akibat dari menolak tunduk. Dunia harus paham bahwa tidak ada pusat kekuasaan yang lebih besar dari kekaisaran Mongol.
Dan Baghdad, kota cahaya selama lima abad, kini berdiri di tepi kehancuran total.
