Bojonegoro bagian selatan pada jutaan tahun yang lalu bukanlah daratan seperti sekarang, melainkan dasar laut dangkal yang terbentuk sekitar 15 hingga 5 juta tahun lalu, pada periode yang dalam geologi dikenal sebagai zaman Miosen. Di laut ini hidup berbagai organisme seperti kerang, terumbu karang, dan mikroorganisme laut lainnya. Ketika organisme tersebut mati, sisa-sisanya akan mengendap di dasar laut dan secara perlahan membentuk lapisan sedimen.
Endapan ini terus bertambah dari waktu ke waktu, berlangsung selama jutaan tahun tanpa henti. Seiring dengan tekanan dari lapisan di atasnya, material tersebut mengalami pemadatan dan berubah menjadi batuan sedimen seperti lempung, pasir, dan napal. Ketebalan lapisan ini bahkan dapat mencapai lebih dari seribu meter, menunjukkan betapa lamanya proses pembentukannya, sebagaimana dijelaskan dalam kajian Badan Geologi Kementerian ESDM.
Perubahan besar mulai terjadi ketika lapisan sedimen yang awalnya berada di dasar laut ini perlahan terangkat ke permukaan akibat pergerakan lempeng bumi, yaitu lempeng Indo-Australia yang menekan ke arah utara dan bertemu dengan lempeng Eurasia. Proses ini dikenal sebagai pengangkatan tektonik, dan berlangsung sangat lambat selama jutaan tahun.
Lapisan-lapisan sedimen yang tadinya datar di dasar laut kemudian mengalami lipatan dan tekanan, hingga membentuk daratan dan perbukitan seperti yang terlihat di wilayah selatan Bojonegoro saat ini. Proses ini telah lama dijelaskan dalam kajian geologi Indonesia oleh Reinout Willem van Bemmelen, yang menunjukkan bahwa perubahan bentuk permukaan bumi merupakan hasil dari dinamika internal bumi yang terus berlangsung hingga sekarang.
Jejak bahwa wilayah selatan Bojonegoro dulunya merupakan dasar laut masih dapat dikenali hingga sekarang melalui kondisi tanah dan susunan batuannya. Tanah yang berwarna merah kecoklatan merupakan hasil pelapukan batuan sedimen yang telah berlangsung sangat lama di bawah pengaruh iklim tropis. Selain itu, jika diperhatikan lebih dekat, lapisan tanah dan batuan di beberapa tempat tampak tersusun berurutan, menunjukkan proses pengendapan yang terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu. Dalam kajian geologi, susunan berlapis seperti ini menjadi salah satu bukti kuat bahwa suatu wilayah terbentuk dari lingkungan laut purba, sebagaimana juga dijelaskan dalam berbagai penelitian oleh Badan Geologi Kementerian ESDM.

Setelah wilayah ini terangkat menjadi daratan, proses alam tidak berhenti begitu saja. Hujan yang turun setiap tahun, dengan rata-rata sekitar 1.500 hingga 2.000 mm, secara perlahan mengikis permukaan tanah melalui proses erosi. Air hujan membawa partikel tanah dari bagian atas lereng ke bagian bawah, sehingga membentuk kontur perbukitan yang bergelombang seperti yang terlihat saat ini. Karena tanah sedimen ini relatif lunak, maka wilayah selatan Bojonegoro menjadi cukup rentan terhadap longsor jika tidak ditopang oleh vegetasi yang kuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa bentuk lanskap yang kita lihat hari ini adalah hasil kerja alam yang terus berlangsung, bukan sesuatu yang terbentuk sekali jadi.
Berbeda dengan wilayah selatan yang terbentuk dari sedimen laut yang relatif lunak, bagian utara Bojonegoro berkembang dengan karakter yang jauh lebih keras dan berbatu. Meskipun sama-sama berasal dari laut purba, material yang terbentuk di wilayah utara didominasi oleh batu kapur yang berasal dari sisa organisme laut kaya kalsium karbonat. Seiring waktu, batu kapur ini mengalami proses pelarutan oleh air hujan yang sedikit asam, sehingga membentuk bentang alam khas yang disebut karst. Proses ini menghasilkan gua, celah batu, dan aliran air bawah tanah yang tidak terlihat di permukaan, sebagaimana banyak dijelaskan dalam kajian Pusat Survei Geologi.
Akibat proses karstifikasi tersebut, wilayah utara Bojonegoro memiliki ciri khas yang sangat berbeda dibandingkan bagian selatan. Permukaan tanahnya cenderung keras, berbatu, dan tidak mampu menyimpan air dalam jumlah besar di atas permukaan. Air hujan yang turun akan cepat meresap melalui celah-celah batu kapur dan mengalir ke dalam sistem bawah tanah. Inilah sebabnya daerah karst sering terlihat kering, terutama saat musim kemarau, meskipun sebenarnya menyimpan cadangan air di dalam tanah. Sistem air bawah tanah ini bersifat kompleks dan tidak mudah dipahami tanpa pengalaman lokal, sehingga masyarakat setempat biasanya memiliki pengetahuan khusus tentang lokasi mata air dan waktu terbaik untuk mengambil air.

Perbedaan antara wilayah selatan dan utara Bojonegoro ini membentuk dua karakter alam yang kontras namun saling melengkapi. Di selatan, tanah yang lebih lunak memungkinkan kegiatan pertanian berkembang, meskipun harus diimbangi dengan teknik seperti terasering untuk mencegah erosi. Sementara itu, di utara, kondisi tanah yang keras membuat pertanian lebih terbatas, sehingga masyarakat lebih bergantung pada ketersediaan air dari mata air tertentu. Dua kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun berasal dari sejarah geologi yang sama, yaitu laut purba, hasil akhirnya dapat sangat berbeda tergantung pada jenis material dan proses alam yang terjadi setelahnya.
Di antara dua lanskap yang berbeda ini mengalir Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa yang menjadi penghubung alami antara wilayah utara dan selatan Bojonegoro. Sungai ini membawa air dan material sedimen dari daerah hulu, sekaligus menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Sejak dahulu, Bengawan Solo telah dimanfaatkan untuk pertanian, transportasi, hingga jalur perdagangan. Kehadirannya membuat wilayah yang berbeda karakter geologinya tetap terhubung dalam satu sistem yang saling bergantung, di mana air menjadi unsur utama yang menyatukan keduanya.

Selain membentuk kehidupan sehari-hari, kondisi alam Bojonegoro juga berperan penting dalam perjalanan sejarah. Pada masa penjajahan, wilayah perbukitan di selatan sering dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan karena sulit dijangkau oleh pihak luar. Jalur-jalur kecil di antara bukit hanya diketahui oleh warga setempat, sehingga menjadi tempat aman untuk menghindari pengawasan kolonial. Sementara itu, di wilayah utara, gua-gua yang terbentuk dari proses karstifikasi digunakan sebagai tempat persembunyian dan pergerakan secara diam-diam. Kombinasi antara perbukitan dan karst ini menjadikan lanskap Bojonegoro bukan hanya sebagai ruang hidup, tetapi juga sebagai ruang bertahan dalam situasi sulit.
Namun dalam perkembangan zaman, kedua lanskap ini menghadapi tekanan yang tidak ringan. Di wilayah utara, aktivitas penambangan batu kapur berpotensi merusak struktur karst yang terbentuk selama jutaan tahun dan sulit dipulihkan kembali. Kerusakan pada karst tidak hanya menghilangkan bentuk alam, tetapi juga dapat mengganggu sistem air bawah tanah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Di sisi lain, wilayah selatan juga menghadapi risiko jika pengelolaan lahan tidak dilakukan dengan hati-hati. Penebangan pohon dan pengolahan tanah tanpa konservasi dapat mempercepat erosi dan meningkatkan kemungkinan longsor. Oleh karena itu, diperlukan cara pengelolaan yang lebih bijak, yang tidak hanya memanfaatkan alam, tetapi juga menjaga keseimbangannya agar tetap berkelanjutan.
Pada akhirnya, Bojonegoro bukan hanya sekadar wilayah tempat manusia tinggal, tetapi juga ruang yang menyimpan perjalanan panjang bumi itu sendiri. Perbukitan di selatan adalah jejak dari dasar laut purba yang terangkat dan berubah menjadi daratan, sementara kawasan karst di utara menunjukkan bagaimana batu kapur membentuk sistem alam yang unik dan kompleks. Di antara keduanya, manusia hidup dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, membangun kehidupan berdasarkan pemahaman terhadap alam. Dengan memahami asal-usul geologi ini, kita tidak hanya melihat bentuk tanah, tetapi juga belajar menghargai proses panjang yang membentuknya. Kesadaran inilah yang menjadi dasar penting untuk menjaga Bojonegoro agar tetap lestari, sehingga alam dan kehidupan di dalamnya dapat terus berjalan seimbang di masa yang akan datang.





