Padangan (17/11/25) Bengawan Solo, sungai terpanjang dan salah satu alur air paling bersejarah di Pulau Jawa, kini berada pada titik kritis. Di wilayah Padangan, Bojonegoro, dan daerah-daerah lain sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, tanda-tanda kerusakan ekologis semakin terlihat jelas. Pengambilan pasir yang dilakukan tanpa kendali, hilangnya gisik sungai, hingga erosi tebing yang semakin parah terus memunculkan ancaman berupa tanah longsor yang mulai menggerus pemukiman warga. Sungai yang selama ratusan tahun menjadi tumpuan hidup masyarakat Jawa kini justru berubah menjadi potensi bencana ekologis yang mengintai keselamatan ribuan penduduk.
Sejak masa kuno, Bengawan Solo telah menjadi jalur peradaban Jawa. Nama “bengawan” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti sungai besar, sedangkan “Solo” atau “Sala” merujuk pada kawasan yang kini menjadi pusat budaya Jawa di Surakarta. Dengan panjang aliran mencapai sekitar 600 kilometer, sungai ini membentang dari Pegunungan Sewu, mengalir melintasi pegunungan, lembah, kawasan dataran agraris, hingga akhirnya bermuara di Ujung Pangkah, Gresik. Sungai ini tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga jalur transportasi utama, sumber irigasi, pusat pemukiman, dan simbol budaya yang melahirkan banyak kisah dalam sejarah Jawa.
Berdasarkan kajian geologi modern, Bengawan Solo membawa beban sedimen yang luar biasa besar. Setiap tahunnya, sekitar 17 juta ton sedimen mengalir menuju muara, menjadikan delta Bengawan Solo sebagai salah satu delta yang pertumbuhannya paling cepat di Indonesia. Pertumbuhan delta mencapai 70 meter per tahun pada beberapa fase, terutama pada periode setelah banjir besar. Tingginya muatan sedimen ini menunjukkan dinamika ekologis sungai yang sangat aktif, sekaligus menandai kerentanan jika keseimbangan alam terganggu.
Pada masa kolonial Belanda, Bengawan Solo menempati posisi penting dalam agenda rekayasa hidrologi. Pemerintah kolonial membangun proyek besar bernama Solo Vallei Werken, sebuah proyek pengendalian banjir dan sedimentasi yang bertujuan mengatur aliran sungai dan menghindari pendangkalan pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Belanda bahkan mengubah arah aliran sungai di beberapa titik untuk mencegah banjir besar yang sering melanda daerah agraris. Catatan kolonial menunjukkan bahwa Bengawan Solo pada masa itu sudah menjadi sungai yang menantang sekaligus vital, sehingga pengelolaan teknisnya menjadi fokus panjang pemerintahan kolonial.
Secara budaya, Bengawan Solo menjadi bagian dari identitas masyarakat Jawa. Banyak masyarakat menggantungkan hidup pada sungai ini—petani, nelayan sungai, para pengolah pasir, hingga pedagang kecil. Sungai ini juga menjadi sumber inspirasi cerita rakyat, kesenian, hingga musik, sebagaimana terlihat dalam lagu “Bengawan Solo” yang mendunia. Sungai ini adalah “urat nadi” yang menghidupi berbagai kota dan desa di sepanjang alirannya.
Namun di balik kekayaan sejarah dan budaya tersebut, Bengawan Solo kini menghadapi kerusakan ekologis berat. Di kawasan Padangan, Bojonegoro, aktivitas pengambilan pasir menjadi salah satu ancaman terbesar. Pengambilan pasir dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konstruksi, tetapi praktiknya sering tidak terkendali. Banyak titik pengambilan pasir dilakukan dengan penyedot besar yang mengeruk dasar sungai secara masif. Di beberapa lokasi, aktivitas ini dilakukan sangat dekat dengan tebing sungai, mengakibatkan dasar sungai menjadi lebih dalam dan arus air semakin kuat menghantam sisi kanan dan kiri sungai.
Ketika dasar sungai terkikis, tebing sungai kehilangan penopang alami yang sebelumnya menjaga kestabilannya. Lubang-lubang besar terbentuk di tengah aliran Bengawan Solo, dan arus air mulai bergeser ke sisi tebing. Gisik sungai—teras alami yang berfungsi sebagai bantalan dan stabilisator aliran—mulai hilang. Gisik ini seharusnya menjaga agar tebing tidak langsung terhantam arus air, tetapi karena di banyak lokasi gisik tersebut lenyap, air kini langsung menyapu tebing dan mempercepat erosi.
Hilangnya gisik menyebabkan fenomena baru yang sangat mengkhawatirkan. Tebing sungai yang dulunya landai kini berubah menjadi tebing curam. Tanah yang tadinya kokoh menjadi rapuh, terutama setelah hujan deras yang meningkatkan debit air dan kecepatan aliran. Longsor kecil maupun besar mulai terjadi di banyak wilayah, termasuk di Padangan, Margomulyo, Kalitidu, Temayang, dan Kasiman. Warga di sepanjang sungai melaporkan bahwa setiap tahun mereka kehilangan beberapa meter lahan pekarangan atau sawah akibat erosi tebing.
Di sejumlah titik, rumah warga menunjukkan retakan panjang di bagian dinding dan pondasi. Retakan ini menjadi tanda bahwa tanah di bawah bangunan mulai bergerak. Bahkan, ada beberapa kasus di mana bagian belakang rumah warga secara tiba-tiba longsor ke sungai setelah hujan lebat. Kejadian-kejadian ini bukan lagi fenomena alam biasa, melainkan tanda bahwa struktur sungai telah berubah secara drastis akibat aktivitas manusia.
Selain ancaman longsor, kerusakan Bengawan Solo diperparah oleh pencemaran air yang makin parah dari tahun ke tahun. Data dari pemantauan semester pertama tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 70,70 persen titik kualitas air di Bengawan Solo berada dalam kategori “tidak baik”. Pencemaran ini berasal dari ratusan industri yang membuang limbah ke sungai, termasuk industri alkohol, tahu-tempe, peternakan, dan batik. Limbah domestik yang tidak terkelola memperburuk keadaan.
Sebuah studi menyebutkan bahwa sekitar 32.500 ton sampah masuk ke Bengawan Solo setiap tahun, sebagian besar berupa sampah rumah tangga dan plastik. Sampah-sampah ini hanyut ke hilir dan akhirnya mencemari laut Jawa. Pencemaran semacam ini mengganggu ekosistem sungai, membunuh ikan, mencemari air, dan mempercepat kerusakan struktur geomorfologi sungai. Semakin besar beban pencemaran, semakin tidak stabil aliran sungai, dan semakin besar pula risiko bencana ekologis.
Bagi masyarakat yang tinggal dan bekerja dekat dengan Bengawan Solo, dampaknya terasa setiap hari. Para petani mengeluhkan bahwa tanah di tepi sungai semakin sering longsor, membuat tanaman mereka hilang secara tiba-tiba. Lahan yang dulunya luas kini semakin sempit, dan mereka harus menanam lebih jauh dari sungai. Para nelayan sungai juga merasakan penurunan jumlah ikan karena keruhnya air dan matinya habitat alami.
Kerusakan Bengawan Solo juga berdampak pada infrastruktur. Di banyak titik, jalan desa yang mengikuti alur sungai menjadi terancam ketika tebing runtuh. Beberapa tiang telekomunikasi dan listrik yang berada dekat bantaran sungai harus dipindahkan karena pondasi tanahnya menjadi tidak stabil. Pipa-pipa air, tiang jembatan, dan bangunan publik lainnya berada dalam risiko serupa. Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini tidak hanya membahayakan warga, tetapi juga membebani anggaran publik dalam jumlah besar untuk perbaikan darurat.
Situasi Bengawan Solo kini harus dianggap sebagai kondisi darurat ekologis. Kerusakan sungai tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keberlanjutan sosial ekonomi warga. Jika erosi terus berlangsung dan penambangan pasir tidak dikendalikan, maka dalam beberapa tahun ke depan, kerusakan yang lebih besar dapat terjadi: pemukiman hilang, lahan pertanian menyusut, dan infrastruktur runtuh. Sungai yang dahulu menjadi penopang kehidupan kini berpotensi menjadi ancaman bencana.
Pemulihan Bengawan Solo membutuhkan tindakan tegas dan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah harus menetapkan zona larangan penambangan pasir, terutama di titik-titik kritis seperti wilayah Padangan dan Bojonegoro. Patroli sungai perlu diperkuat untuk menertibkan pengerukan ilegal yang masih marak terjadi. Rehabilitasi vegetasi sungai perlu dilakukan secara besar-besaran, dengan penanaman bambu, gayam, bendo, dan vegetasi riparian lain yang memiliki akar kuat sebagai penahan erosi.
Untuk jangka panjang, pemetaan geoteknik tebing sungai harus dilakukan secara menyeluruh. Titik-titik rawan longsor harus diidentifikasi dan diberi prioritas penanganan. Warga yang tinggal terlalu dekat dengan tebing rapuh perlu diberikan opsi relokasi sukarela dengan dukungan penuh. Pemerintah harus mengembangkan sistem peringatan dini untuk perubahan muka air sungai, sehingga warga dapat mengetahui risiko secara real time saat hujan deras atau banjir.
Bengawan Solo bukan sekadar sungai. Ia adalah saksi perjalanan panjang pulau Jawa, dari era prasejarah hingga modern. Ia telah menghidupi jutaan jiwa, memberi pangan, budaya, dan identitas. Tapi kini, sungai ini sedang meminta pertolongan. Kerusakan ekologis yang terjadi merupakan peringatan bahwa manusia tidak lagi hidup selaras dengan alam.
Jika seluruh pihak dapat bekerja bersama—pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya—Bengawan Solo masih bisa dipulihkan. Ia masih bisa kembali menjadi sumber kehidupan, bukan sumber bencana. Sungai ini telah memberi begitu banyak kepada manusia; kini saatnya manusia memberi kembali, menjaga, dan memulihkannya.
